Aku dan Kopi

Ngopi mulu deh, lagi nggak kerja ya?

Ngopi mulu, banyak uang ya?

Kamu anaknya high maintenance ya, kerjanya ngopi mulu.”

Bagiku yang harinya dibagi menjadi dua babak, yaitu babak dengan kopi dan tanpa kopi; kopi hukumnya fardu ain. Namun tentunya tidak semua orang berpendapat sama.

Bagi mereka yang tidak mengopi sesering aku, dalam batasan tertentu, mungkin kopi lebih seperti sunnah yang kalau dijalankan ada manfaat. Jika tidak…ya, tidak berdosa juga. Namun, jika dilaksanakan secara harian, mungkin mereka melihat kegiatan mengopi di kedai kopi seperti suatu gaya hidup yang pada hakikatnya buang-buang uang. Dan, sesuatu yang tadinya sunnah lantas turun derajatnya jadi makruh, alias lebih baik ditinggalkan saja.

Tatapan mereka terhadap keseharianku tersebut sering membuatku bertanya-tanya juga: apakah benar adanya penilaian mereka terhadapku? Apakah aku benar-benar menyianyiakan waktu dan uangku dengan begitu sering menyetor muka ke kedai kopi. Perlahan-lahan Aku dan Kopi menjadi seperti sebuah dosa besar, yang setiap kutunaikan rasanya seperti aku telah mencemarkan nama diri yang harusnya kujaga.

Tapi nama diri yang mana?

Sebenarnya kopi ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Aku tidak lahir dengan nafsu dan kecanduan pada kopi. Malah sebenarnya cintaku pada kopi ini baru muncul setelah 2 tahun belakang ini. Lebih tepatnya, semenjak aku pulang dari Jepang dan kembali meniti hidup di Bandung, kota di mana aku dibesarkan.

Layaknya seseorang yang baru memasuki dunia baru, pulang ternyata sama sulitnya seperti pergi. Kupikir menyesuaikan hidup kembali ke Indonesia, tanah kelahiranku, akan lebih mudah daripada saat aku harus “menaklukkan” Negeri Sakura. Ternyata, aku salah.

Sepulang dari Jepang, tidak semua berjalan seperti yang kuinginkan. Aku yang pulang dengan sebuah mimpi besar untuk berkontribusi kepada Indonesia, pada akhirnya harus terkulai dengan babak belur. Konon katanya, Julius Caesar menggambarkan kemenangannya dengan 3 kata ini, “Veni, Vidi, Vici”. “I came; I saw; I conquered”. Sebuah pernyataan yang menggambarkan level kepercayaan dirinya yang penuh. Akan tetapi, bagiku saat itu rasanya seperti, “I came, I saw, and I lost”.

Setelah kekalahanku (yang saat itu rasanya absolut), aku enggan bergerak melakukan apa pun. Bahkan, untuk bertemu orang. Karena saat aku bertemu dengan mereka yang telah mengenalku, aku rasanya tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mereka tanyakan. Salah satu pertanyaan yang paling kutakutkan adalah:

“Jadi lu sekarang kerjanya apa?”

Setiap aku mendengar pertanyaan itu rasanya seperti ada ekspektasi lebih, seperti ada sebuah pertanyaan terselubung yang sebenarnya ingin menghakimi ‘ketidakbecusanku’ dalam menghadapi hidup. Aku pun seakan-akan mendengar hal-hal yang diucapkan orang-orang itu di dalam kepalaku.

Bukankah dia ini seseorang yang telah sekolah tinggi ke luar negeri? Bukankah harusnya dia mampu untuk melakukan sesuatu yang hebat? Kenapa dia malah menjadi orang yang gagal?

Sedihnya, tanpa sadar, pikiran-pikiran itu seolah menjadi bagian dari diriku. Aku ini barang gagal, pikirku. Aku telah gagal membuktikan bahwa aku bisa menjadi sesuatu—apa pun itu. Dan, bersama setiap putaran dari pikiran-pikiran negatif itu, semakin aku mengucilkan diri. Menghindari tatapan dari siapa pun yang menurutku menghakimiku.

Pada saat-saat yang kelam itu, perlahan aku menemukan kopi. Namun, cintaku kepada kopi bukanlah cinta yang datang pada pandangan pertama. Atau rasa pertama?

Awalnya, kopi hanyalah sebuah kepahitan yang tidak kusukai. Rasa penasaran terhadap kopilah yang membuatku terus mencoba, dan perlahan-perlahan aku mulai menyukainya. Awalnya, aku menyukai kopi terutama jika kopi itu aku minum bersama dengan kue yang manis. Pahit yang kurasakan akibat kopi membuatku menghargai manis yang kumakan dengan lebih baik. Pahit dan manis itu, aku pikir, seperti pasangan yang saling melengkapi. Dengan pemikiran itu, pandanganku terhadap hidup juga berubah.

Jika pahit itu membuat manis menjadi lebih enak, apakah kekalahanku yang pahit itu juga akhirnya bisa membuatku merasakan manis yang lebih enak?

Bersama dengan kopi, aku yang tadinya tidak mau keluar rumah, perlahan melangkah keluar; demi kopi. Aku mulai mengerjakan apa yang aku bisa dan sukai bersama keheningan yang diberikan kopi. Bersama dengan kekuatan yang kudapat dari cangkir-cangkir kopi yang kuminum, aku mencoba menyusun kembali diri yang sempat luluh lantak.

Kopi menemaniku menulis kata demi kata, yang lalu menjadi lembar demi lembar, yang lalu membantuku berdiri kembali. Bersama dengan kopi aku belajar bahwa ada proses yang tidak bisa kuhindari. Walaupun garis finish belum terlihat, aku belajar untuk tidak putus asa. Ternyata, bukan tujuan akhir yang penting, justru proses kemenangan kecil yang membuatku memberanikan diri untuk melangkah kembali. Itulah kemenangan sejati.

Kopi yang tadinya kunikmati sendiri, perlahan juga menjadi wahana aku untuk kembali memberanikan diri bertemu dengan wajah-wajah lain. Dengan kesadaran penuh, aku mencoba menjalin pertemanan, karena ternyata teman di usia dewasa ini, tidak terjadi dengan sendirinya. Bersama dengan kopi, aku lantas menemukan teman baru, baik diantara wajah yang telah kukenal lama, ataupun wajah yang sama sekali baru.

Keajaiban kopi bagiku tidak berakhir di sana.

Di kedai kopi langgananku yang memang mendukung terbentuknya kolaborasi antara orang-orang yang datang ke sana, aku malah belajar untuk memberanikan diri berkenalan dengan mereka yang sama sekali baru bagiku. Orang-orang yang selama ini keberadaannya seperti mengancam harga diriku. Ternyata, di balik kehebatan orang-orang baru yang kutemui ini, mereka juga manusia sepertiku. Sebuah kenyataan yang sederhana, tapi selalu mengejutkanku.

Kopi telah membuatku yang selama ini membatasi pergaulan menjadi titik penting di mana aku membangun jejaring luas di luar ekspektasi diriku sendiri.

Asih bersama teman-teman yang ia temukan di kedai kopi langganannya

Dalam dua tahun semenjak kepulanganku, aku telah bertumbuh. Dan, kali ini, yang menjadi saksi pertumbuhanku adalah kopi.

Bagi mata orang lain, mungkin kopi hanyalah kopi. Bagi mereka kopi adalah sebuah kemewahan. Sebuah kegiatan yang mungkin sebaiknya ditinggalkan. Dan, mungkin bagi mata-mata ini, nama aku dikenal sebagai seseorang yang cuma duduk santai menikmati secangkir kopi hampir tiap hari. Namun, biarlah, karena proses yang terjadi di dalam diri bukanlah sesuatu yang kasat mata. Pertemananku dengan kopi juga bukan sesuatu yang harus dipahami oleh semua orang.

Meskipun demikian, bagiku kopi lebih dari sekadar sebuah minuman. Bagiku, kopi adalah sebuah pembelajaran. Dengan setiap cangkir, aku belajar untuk maju satu langkah, walau terkadang setelahnya aku mundur tiga langkah. Dengan kopi aku belajar bahwa ‘kekalahan’ itu tidak apa-apa. Karena seperti kopi, tidak semua yang enak harus manis; bahkan manis akan lebih terasa dengan pahit yang tepat.

Penulis: Asih
Editor : Ala

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *