Berdamai dengan Takdir

Saya adalah seorang perempuan yang sudah lama bertarung dengan duka. Saya anak pertama dari tiga bersaudara, usia saya 25 tahun, dan tahun ini adalah tahun ketujuh perjalanan saya menjalani hidup dalam kedukaan.

Duka saya bermula ketika saya harus kehilangan Bapak pada tahun 2011. Bapak meninggal karena penyakit jantung. Beliau menghembuskan napas terakhirnya saat duduk berdampingan dengan Mama menyaksikan pertandingan tim bola kesayangannya di televisi. Sebuah kenyataan pahit yang kami terima adalah bahwa kami harus menjalani dan menata hidup kedepannya tanpa sosok kepala keluarga. Seorang imam dan tulang punggung keluarga.

Kenyataan yang menjadikan saya dan kedua adik saya sebagai anak yatim: sebuah takdir hidup yang tidak mungkin pernah saya bayangkan.

Ada banyak hal yang berubah setelah Bapak pergi.

Ada banyak konflik yang harus kami hadapi tanpa Bapak yang tak lagi hadir mendampingi.

Ada banyak penyesuaian yang dengan sangat berat harus kami jalani dalam menata hidup kami kembali.

Dan, ada banyak kekecewaan yang dirasakan dan harus kami telan bulat-bulat sendiri.

Sulit untuk menggambarkan bagaimana proses adaptasi dari kehilangan ini membebani hidup kami. Saya marah, kecewa, dan frustrasi mengapa jalan hidup seperti ini yang ditakdirkan untuk kami. Apa yang salah dari kami? Apa dosa kami hingga harus mengalami kesedihan seperti ini?

Kepercayaan diri saya runtuh, saya tidak lagi merasa optimis untuk dapat merasa bahagia.

Saya tidak lagi percaya bahwa saya bisa merasakan hangatnya sebuah keluarga, karena ada kekosongan yang tidak akan pernah tergantikan. Sulit sekali rasanya untuk menerima kenyataan saat itu bahwa Bapak sudah meninggal, dan yang saya miliki hanya tersisa Mama, adik laki-laki dan adik bungsu perempuan saya.

Namun, belum selesai dengan penerimaan saya akan kematian Bapak, saya kembali harus menghadapi mimpi buruk lainnya, yaitu kematian adik laki-laki saya pada tahun 2016. Adik saya meninggal karena kanker prostat stadium akhir; sebuah penyakit yang hampir tidak mungkin bisa diderita oleh seseorang berusia 20 tahun.

Lain halnya dengan kepergian Bapak yang “mendadak”, kepergian adik nyatanya sudah sesuai dengan “prediksi”.

Sebuah prediksi yang dipercayai oleh para dokter, tapi gagal saya cerna dan antisipasi karena terlalu keras menolak kenyataan pahit ini.

Dua bulan adalah waktu yang saat itu tersisa bagi kami untuk menemani dan mendampingi adik, dimulai sejak ditemukannya tumor ganas tersebut hingga akhirnya ia menghembuskan napas terakhir dan meninggalkan kami. Tahukah apa yang paling menyakitkan dari pengalaman ini?

Proses sakaratul maut adik yang saya saksikan dengan mata dan kepala saya sendiri.

Sebuah momen di mana saya hanya bisa pasrah melihat detak jantungnya menghilang secara perlahan.

Sebuah momen yang memaksa saya mau menuruti permintaan Mama untuk mengucapkan, “Kakak ikhlas, Dek” dengan harapan dapat meringankan jalannya.

Sebuah momen yang membuat saya benci dengan rumah sakit dan menyalahkan mereka atas kegagalan menyelamatkan adik saya.

Dan, sebuah memori yang meninggalkan luka begitu dalam dan terus menghantui tidur saya dalam dua tahun belakangan.

Ini adalah titik di mana saya mulai dengan sangat lantang mempertanyakan takdir. Banyak pertanyaan muncul di kepala dan saya sangat muak ditakdirkan dalam alur hidup yang sangat menyiksa ini. Takdir untuk kali kedua ditinggal pergi oleh keluarga sendiri, takdir untuk hidup dengan memori sakaratul maut adik yang melekat jelas di kepala saya, dan takdir untuk menjalani hidup tanpa satu laki-laki pun dalam keluarga. Saya bingung mengapa.

Keyakinan saya akan kehidupan runtuh; diri saya hancur lebur.

Saya merasa tidak berharga. Saya merasa sangat kecewa, karena tidak dipercaya untuk bisa merasakan nikmatnya hidup bersama keluarga yang utuh. Saya gagal memahami mengapa keluarga kami diberikan cobaan bertubi-tubi. Saya merasa tidak memiliki hak untuk hidup dengan baik dan penuh berkah di dunia.

Saya membenci takdir hidup saya.

Saya hancur dan ingin menyerah, sampai titik di mana saya pernah berpikir untuk menabrakkan mobil yang saya kendarai, supaya saya bisa hilang ingatan dan dapat menjalani hidup dengan lebih ringan. Tanpa ada satu pun memori yang membebani. Dan, saya sadar bahwa saat itu adalah titik terendah diri saya—sangat kelelahan dan tidak lagi mampu memaksa diri untuk terus bertahan dan berjuang.

Saya mungkin harus sangat bersyukur, karena titik terendah itu sudah mampu saya lewati.

Walaupun perjalanan ini belum usai dan perjuangan untuk terus bertahan ini cukup berliku, setidaknya saya memutuskan untuk tidak menyerah dan mau terus berjuang menata hidup saya kembali. Mengumpulkan kepingan kepingan keyakinan yang berserakan, dan secara perlahan menyatukan semuanya kembali. Menjadi satu kesatuan yang lebih kuat dan kokoh sehingga sulit untuk pecah berantakan lagi.

Saya pun kemudian menyadari bahwa kesalahan terbesar saya adalah sibuk berekspektasi.

Saya terlalu menaruh harapan besar pada berbagai kenikmatan hidup, yang nyatanya mungkin bukan menjadi hak saya dan tidak akan pernah bisa saya nikmati. Saya pikir saya berhak untuk merasakan didampingi oleh Bapak hingga saya memiliki anak, saya pikir saya berhak untuk hidup berdampingan dengan adik hingga mengantarkan dia melamar pujaan hatinya.

Saya yang terlalu lancang menuntut apa yang saya percayai berhak untuk saya miliki.

Pasrah bisa jadi jawaban atas segala kekecewaan yang saya alami, karena pada akhirnya melepaskan ekspektasi adalah cara saya untuk berdamai dengan takdir dan kembali melanjutkan hidup :)

Penulis: Febyuka Azalia Hanjani
Editor : Ala

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *