Berterima Kasih

Sudah hampir kurang lebih dua tahun ini saya bekerja di belakang media sosial beberapa brand. Pertama, sebagai seorang freelance copywriter dan content writer. Kedua, sebagai social media officer.

Saya berlatar belakang pendidikan kajian jurnalistik di salah satu fakultas Ilmu Komunikasi di Bandung. Ancaman masa depan kala itu kerap menghantui saya yang sudah memutuskan untuk tidak akan menjadi seorang jurnalis.

“Lalu buat apa buang waktu selama hampir empat tahun?”

“Terus mau jadi apa?”

“Mau ngapain setelah kuliah?”

Tentunya, kerap kali pertanyaan di atas menghantui dan selalu saya patahkan dengan pernyataan, “Gak ada kesia-siaan, kok! Pokoknya saya akan bekerja di tempat yang bikin saya gak berhenti menuangkan konsep, menulis salah satunya.”

Di mata saya, Menjadi jurnalis seperti harus memiliki semua energi pada pekerjaan tersebut, dituntut untuk luwes, siap sedia tiap waktu, punya ruh dalam menekuninya, dan didukung pengetahuan luas. Nah, emang dasar saya manusia dengan segala keterbatasan…. Saya merasa menjadi jurnalis bukan dunia saya.

Setelah beberapa waktu memasuki dunia copywriter/content writer dan media sosial, pada perjalanannya saya dituntut mengenal banyak hal baru. Perlu adapatasi yang cepat, berkenalan dengan istilah yang sebelumnya belum pernah saya dengar, dan mempelajari sekaligus mengaplikasikan hal-hal yang baru seumur jagung saya pelajari. Perlu digaris bawahi, bekerja di belakang sebuah brand khususnya memegang sosial media gak semudah yang teman-teman amini, lho.

Tapi, ada saja pernyataan-pernyataan di bawah yang sampai di telinga saya.

“Ah, ngadmin doang.”

“Kalo bikin caption aja sih, gue juga bisa.”

“Sekarang ‘kan udah ada insight di tiap platform. Gampang dong buat analisis tiap medsos!”

Dan berlanjut dengan kalimat nyinyir yang mungkin saja pernah terlintas di pikiran teman-teman. Agak sedih (banget), sih mendengar kalimat-kalimat seperti itu. Sekadar informasi, pekerjaan saya sekarang sebagai seorang social media executive itu meliputi copywriter, content marketing, content planner, campaign strategist, analyst, scheduling, admin, kadang menjembatani brand dengan content creator.

Pada praktiknya porsi pekerjaan bisa berbeda, tergantung di mana tempat teman-teman bekerja.

Kemudian, saya malah berpikir apakah pernah saya juga meremehkan pekerjaan orang lain. Jangan-jangan, tanpa sadar, sikap seperti ini seolah jadi ‘hobi’ yang kita kembangkan di dalam diri. Mungkin…saya pun pernah melakukan hal tersebut. Padahal, memandang sebelah mata pekerjaan lain juga gak bikin pekerjaan yang sedang kita jalani lebih baik, bukan?

Ada salah satu pengingat yang biasa saya lakukan untuk menghilangkannya. Bisa dimulai dari menghargai apa yang sedang saya jalani. Menyukai perjalanan pagi hari, diskusi dengan rekan kerja, anugerah sehat, asupan makanan yang masuk ke dalam tubuh, kegagalan, keraguan dalam memutuskan sesuatu, waktu di kantor yang rasanya lama sekali, dan masih banyak lagi.

Dengan begini, semoga celaan orang lain gak bikin langkah terhenti, gak bikin nyali menciut, dan yang paling penting itu gak bikin diri kita kehilangan kita. Memang, perlu ada proses pembelajaran berterima kasih atau apresiasi pada diri sendiri sehingga kita juga gak sungkan untuk memberi apresiasi daripada lebih dulu menilai pekerjaan kita lebih baik dibanding apa yang dikerjakan orang lain.

Saya mengakui belum menjadi ahli di bidang ini karena untuk menguasai media sosial butuh waktu yang gak sebentar dan pengalaman yang gak sedikit. Perlu banyak trial dan error. Saya hanya percaya saja dengan langkah-langkah kecil yang sudah dibangun setelah tidak memilih bekerja sebagai jurnalis. Semoga saya pun gak lupa berterima kasih kepada diri sendiri atas pilihan karir yang ingin saya tekuni.

Saya percaya proses menerima diri sendiri adalah gabungan antara apresiasi dan memaafkan, sekaligus menciptakan penghargaan kepada orang lain secara damai. Saya selalu mengingat bahwa apa yang kita tanam bisa berbuah manis, dan ada yang pahit pun jangan langsung dibuang. Coba perindah saja.

Untuk teman-teman yang menyempatkan diri membaca ini, terima kasih sudah berani menjadi diri kalian. Terima kasih untuk selalu menanam keyakinan baik dalam hal-hal yang teman-teman kerjakan. Jangan berhenti untuk berterima kasih, ya!

Penulis: Teti Dan
Editor: Ala

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *