Betah di Kroma dengan Pasaar Rumahan

Rumah lebih dari tempat istirahat, tapi juga menjadi tempat menemukan inspirasi.

Itulah yang membuat kunjungan ceritaperempuan.id ke Pasar Rumahaan yang diadakan Kroma (@kroma.id), Jakarta pada 24-25 Maret lalu. Melangkahkan kaki masuk ke Kroma seperti pulang ke rumah sendiri—begitu menenangkan dan menyenangkan. Dengan suasana hangat serta tenant yang beragam, Pasaar Rumahan adalah konsep yang diwujudkan oleh Kroma untuk kali pertama. Seru, ya!

Berbagai produk yang akan memanjakan dirimu di rumah

“Pasar Rumahaan adalah wadah bagi teman-teman yang kreatif dan produktif untuk menyalurkan hasil karya mereka,” ungkap Evelyn, salah satu owner Kroma, kepada ceritaperempuan.id. Ternyata, beberapa tenant di Pasaar Rumahan pernah bergabung dengan kelas-kelas kreatif di Kroma Klass. Jadi, para peserta Kroma Klass yang sudah mengembangkan produk mereka bisa menjualnya di sini.

Evelyn, salah satu owner Kroma yang dengan ramah menceritakan konsep Pasar Rumaahan kepada ceritaperempuan.id

Kami pun langsung penasaran dengan apa saja produk yang dijual di sana. Mulai dari aksesoris berdesain unik hingga benang-benang rajut, banyak sekali produk menarik yang kami temukan. Beberapa kali kami berpindah dari lantai satu ke lantai dua, dan sebaliknya Mengamati produk para tenant sambil mengobrol dengan mereka.

Salah satunya, kami mampir ke Blueboots Farm (@bluebootsfarm) yang memiliki dua produk, yaitu selai kacang dan keripik ubi. Blueboots Farm melihat bahwa suburnya tanah Indonesia belum dimanfaatkan potensinya secara maksimal. Termotivasi untuk mengenalkan pertanian lokal yang organik, pada setiap hari Sabtu, mereka juga mengadakan open farm baik untuk privat maupun publik.

Selai kacang dan keripik ubi dengan varian rasa dari Blueboots Farm

Ada juga TEMA Tea (@tema_id) yang baru memulai bisnis dalam loose leaf tea setahun terakhir. Mereka bekerja sama dengan petani-petani lokal di Cisarua. Dita, owner Tema Tea menceritakan bagaimana dia berusaha mencari teh lokal dengan kualitas primer. “Padahal,” katanya, “Indonesia adalah penghasil teh nomor tujuh di dunia.” Dita merasa positif bahwa orang-orang Indonesia mulai menikmati teh lokal dengan kualitas baik. Yang penting, tambahnya, adalah bagaimana kita perlahan mengedukasi masyarakat.

Kami pun menemukan bahwa kecintaan terhadap hobi bisa menjadi sebuah cerita tersendiri bagi salah satu tenant bernama Tie a Knot (@go.tieaknot). Owner Tie a Knot menuturkan bagaimana dia ingin berbagi kebahagiaan merajut kepada generasi muda di Indonesia, karena ingin menjadikan merajut sebagai kegiatan turun-temurun. Maka, dirinya pun memutuskan untuk memulai bisnis rajutan dan DIY kit beserta workshop merajut. Yang lebih spesial lagi adalah benang rajutnya sendiri terbuat dari sisa tekstil.

Benang rajut warna-warni dari Tie a Knot

Tentunya, rumah tak akan lengkap tanpa adanya dekorasi yang unik dan personal, sekaligus memiliki fungsi. Karena itu, Scintilla (@scintilla.id) hadir sebagai home-décor berupa tray multifungsi dari bahan terrazzo. April, owner Scintilla, memulai riset serta mencari ide di rumah sambil mengurus anaknya. Lewat Scintilla, dia berharap dapat menginspirasi para ibu untuk terus bereksplorasi dan berkarya.

Pembicaraan kami dengan para tenant dilatari oleh musik dari panggung yang dibawakan beberapa musisi. Penampilan Rayssa Dynta dan Galabby Thahira yang memukau juga telah membuat suasana antara para pengunjung semakin hangat. Musik seolah menyatu dengan atmosfer rumah yang selalu dibawakan Kroma.

Tanpa terasa, berjam-jam sudah kami habiskan di Kroma. Tiba waktunya kami untuk beranjak dengan membawa perkenalan serta cerita baru. Terima kasih Kroma, karena sudah membuat akhir pekan kami semakin #betahdirumah!

Wawancara & foto: Mira & Carina
Penulis: Ala

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *