Forgiveness is a Long Process

Ilustrasi dari Pinterest

Saya anak bungsu dari dua bersaudara. Sedari kecil, saya jarang menceritakan masalah-masalah. Orang tua saya memang tidak terlau antusias mendengarkan pengalaman saya sehari-hari, sehingga saya pun semakin tertutup. Kalau diingat-ingat, pergaulan sosial saya sejak SD sudah kurang menyenangkan. Awalnya, saya mencoba mengikuti arus dengan ikut-ikutan bikin geng. Namun, suatu hari, saya merasa iri dengan geng lain yang terlihat ‘lebih’ di mata saya. Akhirnya, saya membuat jarak dengan teman-teman se-geng. Ternyata, hal itu membuat saya dikucilkan.

Di SMP, saya merasa cukup nyaman dengan pergaulan di sana karena murid-murid kelas berjumlah sedikit dan karakter mereka yang easy going. Saya pun mudah untuk berbaur. Akan tetapi, di SMA, lagi-lagi saya dikucilkan. Sampai sekarang, saya tidak ingat apa yang membuat saya dikucilkan. Pada kelas 2 SMA, saya pindah ke SMA negeri. Namun, saat kelas 3 SMA-lah masalah memuncak. Ketika semester terakhir di kelas 3, kami semua mulai sibuk dengan mimpi-mimpi kami setelah lulus. Saya mengubah mimpi saya menjadi sebuah tujuan yang harus saya raih. Karena itu, ketika banyak dari teman-teman yang masih memilih bermain, saya tenggelam dalam latihan-latihan soal dan les intensif.

Di kelas 3, saya banyak menentang beberapa kecurangan yang terjadi di sekolah saya, seperti membeli kunci jawaban ujian atau mendongkrak nilai raport. Puncaknya, terjadi saat ujian kimia, di mana guru pengawas ujian melewati tempat duduk saya dan bertanya pada saya apakah soalnya terlalu mudah. Saat itu, dengan polosnya, saya hanya mengiyakan beliau saja. Ternyata, jawaban saya terdengar oleh salah satu teman dan segera saja dia menjelek-jelekkan saya di sosial media. Sejak itu, saya selalu di-bully secara verbal. Saya dianggap sombong dan tidak butuh mereka. Karena hal ini, saya pun malas ke sekolah dan sering datang ke sekolah mepet jam masuk—agar tak perlu berlama-lama menemui mereka.

Karena kejadian-kejadian itu, saya mengalami depresi cukup berat yang saya bawa sampai masa perkuliahan. Saya selalu merasa ada yang salah dengan diri saya, dan saya selalu menyalahkan orang lain. Saya sengaja memilih tidak masuk himpunan agar bisa fokus memperhatikan diri saya. Saat itu, tidak ada yang menyadari bahwa saya sedang depresi. Tidak orang tua, tidak (mantan) pacar, bahkan tidak saya sendiri.

Akhirnya, saya sadar bahwa saya tidak bisa terus seperti itu. Saya pun ‘memaksakan diri’ untuk mulai bersosialisasi dengan teman-teman; membantu mereka sesuai kapasitas saya. Saya lakukan semuanya sambal terus mencari dan memahami diri sendiri. Pertanyaan demi pertanyaan mengapa saya bisa mengalami depresi terus bermunculan di dalam kepala.

Setahun yang lalu, ada seseorang yang saya kenal mengalami hal yang persis dengan apa yang saya alami dan saya pelajari. Saya pun ikut membuka masa lalu saya terhadapnya. Dengan berbagi, saya akhirnya menemukan jawaban dari pertanyaan saya. Ternyata, saya masih tidak bisa memaafkan pengalaman pahit dari kehidupan sosial saya. Memaafkan teman-teman yang mem-bully saya. Saya juga tidak bisa menerima diri saya yang memang seperti ini.

Begitu saya memahami hal tersebut, saya merasa menjadi manusia yang baru. Saya jadi tahu di mana kelemahan saya dan jadi sadar untuk menjaga prasangka saya terhadap orang lain.

Sampai saat ini, saya masih berusaha menjadi manusia yang lebih ‘lepas’ dibandingkan saya di masa lalu. Saya masih belajar membuka diri, mengutarakan keinginan saya kepada orang tua, membuka pikiran dan hati saya agar menjadi orang yang lebih baik. Jalan yang harus saya lalui memang masih panjang, dan bayangan masa lalu itu akan selalu ada. Namun, saya tahu semua butuh proses.

Saya harap cerita saya yang singkat ini bisa sedikit membantu mereka yang mengalami kejadian serupa dengan saya. Semoga kita semua bisa menjalani dan melewati segala prosesnya dan menjadi pribadi yang lebih baik.

Penulis: Anonim
Editor: Ala

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *