Self-Confidence in Moments of No Confidence

The sky is the limit” adalah sebuah pepatah yang saya diajarkan sejak kecil selama sekolah dan tinggal di Amerika Serikat.

Sungguh ironis, mengingat saya dibesarkan di keluarga yang tidak pernah memupuk saya untuk yakin akan kemampuan sendiri. Lingkungan rumah saya sangat disiplin, sehingga sulit rasanya untuk bahagia ketika nilai rapor saya kurang memuaskan. Apalagi, masa kecil saya dipenuhi dengan situasi di mana saya selalu dibandingkan dengan anak-anak yang lebih unggul daripada saya, bahkan kakak saya sendiri. Maka, seiring tumbuh dewasa, saya selalu merasa bahwa semua orang jauh lebih baik daripada saya. Mindset itulah yang membuat saya memiliki kepercayaan diri yang rendah. That I am not good enough; I am incapable.

Di sekolah, meskipun para guru selalu memotivasi kami, murid-muridnya, untuk bermimpi setinggi-tingginya dan mengejar mimpi tersebut, tetap saja saya sering malu terhadap diri sendiri. Apalagi, ketika ada perlombaan atau tantangan di kelas dan saya tidak berhasil mencapai target. Saya malu, karena di depan mata keluarga saya, ketidakberhasilan bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan. Tak hanya itu, saya pun selalu rendah diri dalam masalah fisik. Saya ingat sekali betapa cantiknya para gadis di sekolah saya, sedangkan saya terlihat cupu dengan geek glasses. Sampai-sampai, dengan sengajanya saya menggunakan pakaian yang beberapa ukuran terlalu besar supaya tidak menarik perhatian orang. Ketika ada kecengan, saya tidak berani untuk menarik perhatiannya, karena saya sudah minder duluan. Toh, he wouldn’t like me.

This is all there is to me.

Begitulah yang ada di pikiran saya semenjak masa remaja.

Tanpa saya sadari, ketidakpercayaan diri diteruskan di bawah alam sadar bahkan sampai saya menjadi wanita muda. Saya baru bisa mengurangi tingkat ketidakpercayaan diri saat masa kuliah dan terutama setelah saya lulus kuliah. Saat saya masih mahasiswa S1, saya belajar hidup sendiri sehingga mendapat kesempatan untuk berkembang dengan cara saya sendiri. Ketika menjalani hidup yang independen, saya belajar untuk mengambil keputusan sendiri baik dalam hal memilih pakaian hingga memilih mata kuliah untuk semester berikutnya. Dengan bantuan para sahabat kuliah, saya terinspirasi untuk lebih merawat diri—seperti memilih pakaian yang cocok dengan bentuk tubuh saya dan bagaimana caranya memakai makeup. Walaupun ini semua terdengar tidak penting, hal-hal ini mengubah diri saya. Saya juga belajar untuk menjadi lebih aktif di lingkungan kapus, sehingga saya berhasil dipilih untuk menjadi anggota salah satu organisasi. Satu per satu pilihan saya ternyata membuat saya berpikir, “Ternyata aku memang mampu!”

Slowly, but surely kepercayaan diri saya mulai naik dan setelah lulus kuliah saya benar-benar percaya untuk pertama kalinya bahwa I am good enough. Berkah dari memiliki percaya diri adalah you actually believe in yourself. Bagi saya, kepercayaan diri yang meningkat telah membantu saya untuk lebih mengenal, mengapresiasi, dan menerima diri baik dari sisi mana pun. Saya merasa pelajaran dalam menerima diri sendiri adalah hal yang paling berharga hingga sekarang. Semenjak saya belajar untuk lebih yakin dengan diri sendiri, saya lebih berani untuk menjadikan impian-impian saya menjadi kenyataan serta menjadi diri sendiri yang seutuhnya.

Tentunya saya terkadang masih mengalami momen di mana keraguan muncul, tapi jika saya melihat perjalanan saya dari masa kecil hingga sekarang, saya merasa lebih tenang. Karena, saya tahu bahwa rasa tidak percaya diri hanya sebuah pikiran buruk yang sudah berulang kali saya lalui. Dan, saya mengalami proses panjang untuk menyadari betapa saya semampu itu.

Lain kali ada rasa keraguan di dalam hati mengenai diri sendiri mengenai situasi apa pun, katakanlah ‘I can do this’ karena sejujurnya, kamu memang pasti bisa.


Cantika adalah seorang penulis di Thought Catalog, platform internasional yang membahas isu-isu generasi millennial. Silakan kunjungi halamannya di: https://thoughtcatalog.com/cantika-rustandi/

Penulis: Cantika Rustandi
Editor: Ala

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *