Surat dari Kami: Mari Mulai Bicara

Ilustrasi dari Pinterest

“Hentikan kekerasan terhadap perempuan.”

“Biarkan kami berjalan tanpa catcalling.”

“Hentikan sexism di dunia kerja.”

Semenjak tahun 2017, mendadak pembicaraan mengenai perempuan berada di garis depan. Dimulai dari Women’s March di Amerika yang lalu diikuti dengan Women’s March di negara-negara lain, sampai gerakan #metoo yang membicarakan mengenai pengalaman mereka yang pernah mengalami kekerasan seksual, ataupun gerakan #timesup yang menuntut turunnya mereka yang telah berperilaku buruk terhadap perempuan dengan memanfaatkan posisi-posisi mereka. Kita melihat tidak ada habisnya isu perempuan yang muncul di mata dan ruang publik, apalagi dengan pergerakan yang begitu cepat melalui media sosial.

Dalam rangka Hari Perempuan Internasional, mari kita kembali berefleksi dari rangkaian pergerakan selama ini.

Apa sebenarnya yang menjadi isu dengan perempuan?

Apalagi, melihat papan-papan yang digenggam erat dan diangkat tinggi-tinggi dengan penuh semangat akan perubahan saat Women’s March. Semua tulisan di setiap papan membawa pesan yang bermacam-macam. Jenis tuntutan yang disuarakan begitu banyak, sehingga sulit untuk menyepakati apa sebenarnya isu perempuan.

Namun, di situlah titik yang sangat menarik dari isu perempuan.

Bahwa, perempuan bukanlah satu kaum yang seragam, begitu pula laki-laki. Manusia terdiri atas berbagai individu dengan karakter, latar belakang, budaya, dan masalah yang berbeda. Maka, sudah sewajarnya tuntutan yang muncul berbeda-beda, karena memang perempuan amatlah beragam. Kita tidak bisa menyamaratakan isu yang dihadapi setiap perempuan.

Ada perspektif yang menarik dari seluruh rangkaian Women’s March dan perayaan Hari Perempuan Internasional. Ternyata, kita masih harus memperjuangkan perubahan cara pandang mengenai keberagaman peran perempuan dan laki-laki dalam masyarakat. Selama ini, ada peran-peran yang justru dipersempit, sehingga langkah kita terhambat bahkan dirugikan. Kesempatan-kesempatan yang seharusnya terbuka pun terlalu lama tereliminasi, sehingga malah dianggap lumrah. Terlalu banyak suara yang dibungkam dan ketakutan yang dipendam.

Kami yakin bahwa perjuangan perempuan dan mereka yang termarginalkan adalah sebuah perjalanan yang akan diikuti banyak tantangan di dalamnya. Dan, layaknya sebuah perjalanan, perlu ada yang memulai. Mereka adalah individu-individu yang berani berdiri tegap, melawan rasa takut, kemudian angkat bicara untuk mewakili dirinya sendiri serta orang-orang yang berada di situasi serupa.

Pada akhirnya, Hari Perempuan Internasional ini merupakan momen kita berefleksi sebagai manusia untuk memperjuangkan hak-hak yang belum terpenuhi, menghormati dan mendukung antarindividu, bertoleransi akan perbedaan, dan tidak berdiam diri melihat ketidakadilan. Maka, mari kita mulai bicara; berbagi; berdiskusi. Mari kita lontarkan apa-apa yang selama ini tak berani kita utarakan.

Karena, satu langkah berani untuk bercerita akan menebarkan benih keberanian lain yang mungkin tak akan kita sadari dampaknya bagi orang-orang di luar sana.

Salam,
ceritaperempuan.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *