Melepaskan Diri dari Lingkaran Petaka

Sebagai perempuan kecil, dulu aku terlahir dari keluarga yang menggoreskan begitu banyak rasa. Rasa yang tidak kuinginkan mendominasi dan membentuk aku yang sekarang. Semua dimulai dengan kebiasaan perfeksionis ibuku dalam hal kebersihan. Tidak banyak waktu tersisa untuk kegiatan lain—mencari teman, atau hal yang membuat rileks apa pun itu—selain berbenah dan membersihkan apa-apa yang mengganggu ibu. Hal ini mengakibatkan tingkat stres yang tinggi terjadi di dalam rumah setiap harinya. Teriakan dan pukulan terus terjadi dan membuat komunikasi antara anggota keluarga menjadi buruk. Apa yang anak kecil bisa lakukan dalam menghadapinya, kecuali dengan menangis?

Beranjak SMP, aku dan kakakku yang berbeda hanya setahun menghadapi dunia pubertas. Dengan kemampuan komunikasi yang semakin buruk, kami tidak tahu caranya menghadapi masa-masa itu. Perlakuan kasar yang didapatkan setiap hari dan kata hinaan yang sering terlontar di rumah membuat kami rendah diri dan tidak merasa berharga sehingga menjadi sasaran empuk untuk bully di sekolah.

Aku dan kakakku jatuh ke dalam depresi.

Memasuki masa awal perkuliahan, setiap harinya aku melewati hari dengan perasaan hampa dan penuh ketakutan akan trauma yang kualami dulu. Takut akan terulang kembali. Pada masa kuliah, karena masalah komunikasi verbalku tetap buruk, lalu aku menemukan bahwa komunikasi melalui visual membantuku perlahan untuk mengekspresikan apa yang aku alami. Aku mulai bisa berteman, tapi tetap tidak bisa mengatakan apa yang aku pikirkan atau butuhkan. Perasaan mudah terluka dan cenderung menarik diri seperti itu sebenarnya bisa membuatku terkena masalah.

Suatu hari seorang senior perempuan di kampus menawarkan kerja sama dalam suatu project. Waktu itu hatiku melonjak senang. Akhirnya aku bisa mempunyai ikatan pertemanan, batinku dalam hati Aku merasa akhirnya ada yang bisa menerimaku. Selang berjalan, teman kelasku datang menghampiri dan berkata bahwa seniorku itu seorang lesbian. Aku yang baru mempunyai teman dekat saat itu, masa bodoh dengan apa yang orang lain bilang.

Lama-lama, gelagat senior itu membuatku agak risih; memberikan coklat, kopi di pagi hari, dan mulai menyentuh secara fisik. Gosip pun berdatangan; mengatakan bahwa aku adalah pasangan lesbiannya. Aku yang tidak baik dalam berkomunikasi pun tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan semua itu. Aku malah langsung menarik diri dengan ekstrim yang membuat senior tersebut marah dan berkata kepada publik bahwa aku menyakitinya. Sebagian teman kelasku mem-bullykembali seperti waktu aku sekolah dulu.

Mereka menendang kursi yang sedang kududuki, meneriaki, dan menghujani twitter-ku dengan kata-kata kasar. Aku mati rasa untuk punya keberanian membela diri, bahkan hanya memendam marah. Aku tidak tahu cara mengekspresikannya. Aku hilang arah dan merasa gagal dalam melindungi diri sendiri.

Memasuki masa awal perkuliahan, setiap harinya aku melewati hari dengan perasaan hampa dan penuh ketakutan akan trauma yang kualami dulu. Takut akan terulang kembali. Pada masa kuliah, karena masalah komunikasi verbalku tetap buruk, lalu aku menemukan bahwa komunikasi melalui visual membantuku perlahan untuk mengekspresikan apa yang aku alami. Aku mulai bisa berteman, tapi tetap tidak bisa mengatakan apa yang aku pikirkan atau butuhkan. Perasaan mudah terluka dan cenderung menarik diri seperti itu sebenarnya bisa membuatku terkena masalah.

Suatu hari seorang senior perempuan di kampus menawarkan kerja sama dalam suatu project. Waktu itu hatiku melonjak senang. Akhirnya aku bisa mempunyai ikatan pertemanan, batinku dalam hati Aku merasa akhirnya ada yang bisa menerimaku. Selang berjalan, teman kelasku datang menghampiri dan berkata bahwa seniorku itu seorang lesbian. Aku yang baru mempunyai teman dekat saat itu, masa bodoh dengan apa yang orang lain bilang.

Lama-lama, gelagat senior itu membuatku agak risih; memberikan coklat, kopi di pagi hari, dan mulai menyentuh secara fisik. Gosip pun berdatangan; mengatakan bahwa aku adalah pasangan lesbiannya. Aku yang tidak baik dalam berkomunikasi pun tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan semua itu. Aku malah langsung menarik diri dengan ekstrim yang membuat senior tersebut marah dan berkata kepada publik bahwa aku menyakitinya. Sebagian teman kelasku mem-bullykembali seperti waktu aku sekolah dulu.

Mereka menendang kursi yang sedang kududuki, meneriaki, dan menghujani twitter-ku dengan kata-kata kasar. Aku mati rasa untuk punya keberanian membela diri, bahkan hanya memendam marah. Aku tidak tahu cara mengekspresikannya. Aku hilang arah dan merasa gagal dalam melindungi diri sendiri

Padausiaku yang 25 tahun ini, kutemukan bahwa apa yang kualami juga dialami oleh orang tuaku pada masa lalu, bahkan lebih parah lagi. Orang tuaku ditelantarkan; mereka harus membiayai adik-adiknya dan diri sendiri dengan usaha sendiri dari kecil hingga dewasa. Mereka tidak mendapat kesempatan untuk mendapatkan momen di mana mereka mendapatkan rasa sayang. Mereka terlalu ‘sibuk’ untuk survive, sehingga mungkin mereka sudah tidak tahu lagi bagaimana untuk membagi sayang. Mereka ternyata tidak tahu caranya untuk mengekspresikan rasa sayang kepada keluarga.

Terbayang betapa beratnya semua itu. Mungkin, pada akhirnya mereka menganggap kerasnya didikan merupakan suatu bentuk perhatian dari orang tua yang wajar. Dalam hati, aku marah kepada nenek dan kakekku, tapi mau bagaimana lagi; mereka sudah tiada. Kemudian, aku pun berpikir; jika orang tuaku memperlakukanku seperti ini karena suatu alasan yang mereka alami sebelumnya, mungkin nenek dan kakekku mengalami hal yang serupa juga.

Aku tidak mau kejadian itu terulang lagi di kehidupaku ketika membangun keluarga. Aku tidak mau berkutat di lingkaran yang sama. Aku harus berusaha berdamai dengan diri sendiri—dan menghilangkan dendam kepada orang tuaku. Aku berdoa agar Tuhan membantuku memperbaiki apa yang buruk dari diriku dan orangtuaku. Agar kami semua berubah bersama menjadi lebih baik.

Aku perlahan melepas dendamku; aku perlahan mengikhlaskan semuanya.

Suatu hari, orang tuaku meminta maaf atas semua yang terjadi. Ternyata, mereka menyadari bahwa ini semua salah, tapi tidak memiliki keberanian untuk memperbaiki. Aku langsung teringat kembali bullyyang aku alami pada awal perkuliahan. Aku tahu ini salah dan menyakitkan, tapi rasanya tidak ada energi untuk melawan dan memperbaiki. Mungkin seperti itulah hal yang dialami orang tuaku dulu terhadap keluarga.

 

 

Hari ke hari, semuanya semakin membaik dan kami mulai hidup menyayangi seperti keluarga lain. Aku tidak lagi menyalahkan orangtuaku. Saat dewasa, kita sebenarnya bisa memilih di jalan mana kita akan hidup. Petaka pun menjadi sebuah ibarat suatu tangga pilihan di mana kita bisa mengambil langkah untuk terus naik. Walau terasa berat. Walau kadang ingin melangkah turun dan menyerah saja.

Membicarakan masa kecil bukanlah hal yang kusukai, karena aku merasa masa itu telah hilang dan sama sekali tidak kunikmati. Sering kali aku berandai untuk memperbaiki situasi itu lebih cepat. Namun, aku bersyukur telah mampu melewatinya. Aku sadar bahwa semua orang pasti akan mengalami hah-hal tak mengenakkan dalam hidupnya. Bangkit dan percaya sekusut apa pun keadaan pasti perlahan akan terurai juga adalah hal utama yang kupegang saat ini dan, kuharap, seterusnya.

Pada akhirnya, masa lalu mengajarkanku untuk selalu berusaha memperbaiki diri dan menghargai apa yang kumiliki. Kelak, ketika aku membangun keluarga nanti, seluruh pelajaran yang telah kuterima dapat membuat diriku dan keluargaku menjadi jauh lebih baik.

Penulis: Anonimus
Editor: Ala

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *