Menggores Karya Bersama Anakku

Memasuki bulan April untuk saya selalu terasa istimewa, karena selain bulan ini diperingati sebagai World Autism Awareness Month, pada bulan ini Dipa juga berulangtahun.

Dipa adalah anak bungsu saya yang didiagnosis autistik. Masih teringat dengan jelas ketika saya dan suami menerima diagnosis itu—Dipa masih belum genap berusia dua tahun. Kami berdua memang sudah khawatir dengan perkembangan Dipa yang belum berbicara dan tidak merespon ketika dipanggil namanya. Waktu itu, kami datang ke dokter spesialis anak, dan begitu kami masuk ke ruangan prakteknya, dokter langsung mengutarakan kekhawatirannya juga tentang Dipa. Menurutnya, anak-anak biasanya langsung mengamati orang yang tidak dikenal begitu masuk ke ruangan yang baru. Tidak dengan Dipa; dia hanya mengamati barang-barang di ruangan dokter. Kami pun diberikan rekomendasi untuk menemui beberapa nama neurolog. Kami mendatangi hampir semua nama dokter di daftar tersebut.

Semua berkesimpulan sama: Autism Spectrum Disorder (ASD).

​Dan mulai hari itu, dimulailah perjalanan istimewa kami.

​Sebelumnya saya tidak pernah membayangkan akan mengetikkan kata autism di google, atau mencari bagian autisme di toko buku. Beruntungnya, saya memiliki suami yang siap m

enjalani perjalanan ini bersama, memiliki keluarga yang siap membantu dengan segala upaya, dan terlebih teman-teman yang selalu tahu cara untuk menghidupkan semangat saya. Bahkan, atasan saya di kantor pada saat-saat awal kami memperoleh diagnosis Dipa memberikan izin untuk mengambil cuti dari kantor untuk dapat fokus ke Dipa terlebih dahulu.

Berbekal diagnosis ASD, saya bersama suami mencoba berbagai macam pemeriksaan dan terapi, di antaranya terapi rutin tiap minggu, berupa Sensori Integrasi. Akan tetapi, ternyata Dipa menangis terus sepanjang sesi. Kami yang masih baru dalam hal ini, selalu dibesarkan hati oleh terapisnya bahwa ini adalah hal biasa dan anak-anak lain yang mengikuti terapi pun juga ada yang menangis awalnya. Sampai akhirnya setelah hampir enam bulan belum ada perubahan juga, kami mencoba ke tempat terapi lain yang tidak sengaja kami lihat di dekat rumah. Di dalam bangunan sederhana itu, tak disangka, Dipa merespon terapisnya ketika diajak berinteraksi walau baru pertemuan pertama.

Terapis mengajak Dipa bermain sederhana dengan bergandengan tangan. “Satu, dua, ti…?”

“Gaaaaaa…!” Dipa menjawab.

Hingga sekarang, kami berdua masih teringat bagaimana perasaan kami yang sangat berbunga-bunga ketika mendengar respon Dipa.

​Walaupun saat itu Dipa yang sudah berumur tiga tahun belum bisa berbicara, kami lebih mengkhawatirkan pengendalian emosi Dipa. Sedih rasanya melihat Dipa membenturkan kepalanya ke lantai kalau ada kemauannya yang tidak dituruti, memukul kepalanya sendiri dengan keras kalau ada hal yang membuat Dipa tidak nyaman—seperti suara bersin atau batuk orang lain. Padahal,suara-suara ini tidak bisa kita hindari apalagi kalau sedang di tempat umum, seperti restoran. Hal ini berlangsung cukup lama sampai bertahun-tahun. Tapi seiring dengan itu, kemampuan Dipa juga bertambah. Dipa mulai bisa berbicara walaupun belum berupa kalimat, dan dengan cepat Dipa juga bisa diajarkan menggunakan pensil. Kami mulai memperkenalkan nama-nama anggota badan melalui menggambar dan Dipa dengan sangat cepat menguasai nama-nama warna. Dipa suka melihat dan mengamati bapaknya yang memang sengaja menggambar karena melihat Dipa yang mulai tertarik dengan pensil. Sejak saat itu,Dipa mulai menggambar-gambar sendiri. Kebanyakan yang di gambar Dipa adalah binatang, dan yang paling sering adalah gajah. Entah kenapa Dipa tertarik sekali dengan binatang gajah.

​Masa yang paling sulit untuk kami adalah pada saat Dipa mulai menyerang orang lain kalau sedang marah, terutama saya, suami, dan juga kakaknya. Saya pun memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan di kantor, karena saya yakin pada saat itu Dipa dan kakaknya sedang membutuhkan saya untuk setiap saat ada didekatnya. Terlebih waktu itu Dipa sudah memasuki usia empat tahun, di mana biasanya anak-anak seusianya mulai masuk playgroup.

Kesenangan Dipa menggambar terus berlanjut menjadi keseharian Dipa. Setiap hari selalu mengambar. Kami harus menyiapkan kertas satu rim yang bisa habis dalam satu minggu. Bahkan,Dipa juga sering menggerak-gerakkan tangannya di udara seperti sedang menggambar sesuatu, terlebih kalau sedang merasa tidak nyaman. Objek kesukaannya tetap gajah, walaupun seiring waktu bentuk gajahnya makin beragam.

perubahan gambar gajah-gajah Dipa dari waktu ke waktu

Pernah selama beberapa waktu gambar-gambarnya selalu tidak lengkap, misal gambar gajah tanpa kepala, gambar hanya kaki gajah, atau gambar gajah dengan belalai hanya setengah. Sepertinya hal ini berhubungan dengan emosi Dipa yang sedang banyak naik turunnya. Ternyata apa yang Dipa rasakan sebenarnya tertuang pada gambarnya. Semua dapat dilihat dari caranya menarik garis, bagaimana Dipa memilih objek gambarnya, atau seberapa lama Dipa menggambar satu gambar.

Saya bisa melonjak kegirangan melihat gambar Dipa, atau tiba-tiba merasa khawatir kalau melihat ada gambar Dipa yang tidak biasanya. Dipa sendiri tidak seperti anak lainnya yang senang dan bangga dengan hasil gambarnya. Dipa hanya senang dengan proses menggambarnya, sementara gambar yang sudah selesai tidak dipedulikan lagi. Saya yang biasanya memilih gambar-gambar yang ingin di simpan, kadang hanya saya foto atau ada yang saya scan untuk di simpan di komputer, karena tidak terbayang tempat yang saya harus siapkan kalau seluruh kertas itu disimpan.

gambar gajah yang kurang lengkap

Setiap melihat Dipa menggambar, saya merasakan ada yang istimewa dalam gambarnya. Saya dapat melihat ketulusannya ketika Dipa menggambar. Saya mengagumi idenya yang mampu menyederhanakan bentuk yang sering saya anggap sulit untuk saya gambar.

Seiring waktu, gambar Dipa pun menjadi bagian dari perjalanan kami. Saya kemudian merasa ingin menjadikan gambar Dipa lebih dari sekadar gambar di kertas. Saya mencoba untuk menyusun gambar gajah Dipa menjadi pola di kain dan dicetak menjadi notebook. Keluarga dan teman-teman saya menjadi pelanggan pertama, dan mereka sangat antusias mendukung untuk meneruskan dan mengembangkan kolaborasi saya dan Dipa.

Dipa bersama scarfdengan pola berdasarkan gambarnya 

Kolaborasi ini menambahkan semangat baru untuk saya, juga harapan baru.

Rasanya sangat terharu ketika orang lain, bahkan yang belum kenal sebelumnya, berminat untuk memiliki karya kami. Tidak terbayang sebelumnya akan melihat orang lain mengenakan scarf dengan gambar Dipa dan membawa notebook dengan gambar gajah Dipa. Semuanya membuat saya merasa banyak yang menemani kami dalam perjalanan istimewa ini.

Prinka dan Dipa

Saya sadar perjalanan kami masih panjang, masih banyak tantangan yang sudah diduga ataupun yang belum kami ketahui, tapi banyak hal-hal kecil yang saat ini dapat kami syukuri, diantaranya adalah melihat senyum orang lain ketika mengenakan karya kolaborasi kami.

Salam dari kami,

 

Catatan yang mungkin berguna:

  • Dokter Spesialis Anak yang menyarankan kami menemui Neurolog : dr Ayu Partiwi SpA
  • Konsultan Neurologi Anak yang memberikan Dipa diagnosa autisme : DR. dr. Hardiono D. Pusponegoro, Sp.A(K)
  • Tempat Terapi Dipa dari usia tiga tahun sampai sekarang: Yayasan Pratama Bekasi, Wardi Supardi
  • Dipa pernah mengikuti Art Therapy di: Art+i Art Therapy Jakarta http://www.facebook.com/arttherapyjakarta
  • Informasi tentang autisme dapat dilihat di web MPATI (Masyarakat Peduli Autisme Indonesia): http://mpati.or.id/ atau http://www.facebook.com/yayasan.mpati
Penulis : Prinka Maharani
Editor : Ala

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *