A Journey to Find God

Pertanyaan pertama tentang keberadaan Tuhan kali pertama muncul saat saya masih SMA. Di masjid depan asrama sesudah shalat dzuhur, saya bertanya dalam hati, “Memang Tuhan itu ada?”

Tahun pertama SMA saya habiskan di asrama—sebuah pengalaman baru karena saya lama tinggal di rumah. Saya bertemu dengan banyak manusia yang berasal dari latar belakang berbeda. Hampir semua teman asrama saya rajin shalat ke masjid. Saya yang hanya shalat beberapa kali dalam setahun itu pun mau tak mau ikutan shalat agar tak malu. Saya pun mulai belajar berdoa dan menggantungkan semua usaha ke Tuhan karena meniru teman satu asrama saya yang berkata, “Usaha dulu, terus jangan lupa berdoa jika kamu menginginkan sesuatu.”

Usaha dan doa yang saya lakukan semasa SMA membuahkan hasil: diterima di salah satu perguruan tinggi terfavorit di Indonesia. Saya sangat bahagia dan sedikit berpikir, mungkin semua yang saya dapatkan ada andil Tuhan di dalamnya. Perkuliahaan saya jauh lebih menyenangkan dari masa SMA. Saya mendapat teman kos dan kuliah yang sungguh baik. Barulah saya sekarang menyadari bahwa Tuhan memang menjaga saya untuk tetap di lingkungan baik walaupun saya tahu saya tidak baik.

“Kamu tahu Maya? Satu langkah kamu keluar rumah tanpa menutup aurat, satu bata tersusun untuk ayah kamu di neraka?”

Perkataan yang diucapkan teman kosan saat saya menginap di kamarnya membuat saya menggunakan jilbab beberapa hari kemudian. Saya kesal! Saya tidak peduli jika orang bilang saya akan masuk neraka dan disiksa kalau saya tidak menutup aurat, tetapi membiarkan orang menerima keburukan akibat dari apa yang saya perbuat adalah hal yang berbeda. Saya tidak mau orang yang saya sayangi menderita hanya karena tingkah laku saya yang tidak direstui agama. Maka, saya memutuskan menggunakan hijab.

Selepas saya menggunakan hijab pun, pertanyaan besar di kepala saya soal keberadaan Tuhan masih menghantui. Saya tahu saya ragu, tapi tidak tahu mengapa saya meragukannya. Saya tidak punya premis yang cukup kuat untuk diri saya sendiri tentang keyakinan semu yang saya anut saat itu. Lingkungan yang baik, kesibukan kuliah, serta organisasi membuat saya sedikit melupakan pertanyaan tersebut. Semua kembali muncul saat saya sudah lulus dan mulai bekerja di Jakarta, bahkan semakin bertambah jenisnya.

“Apakah Tuhan itu ada?”

“Apakah saya diciptakan oleh Tuhan?”

“Kenapa saya hidup?”

“Apa tujuan kehidupan saya?”

Dan berbagai macam pertanyaan lainnya tentang hakikat manusia.

Saya pun akhirnya menenggelamkan diri dengan membaca banyak buku dan artikel, menonton banyak film dan video tentang Tuhan dan agama, serta berdiskusi dengan berbagai orang baru yang tidak pernah saya bayangkan.

Masa itu adalah masa terkelam dalam hidup saya (setidaknya sampai detik ini saya hidup di dunia). Saya menangis hampir tiap hari, kepala saya pusing, tidak bisa tidur. Saya tidak tahu mau mengarahkan diri ke mana. Tak tahu harus berteriak minta tolong kepada siapa. Saya merasa sendirian dan tidak berarti. Dan, saya telah mengupayakan banyak cara untuk membuat kondisi saya ‘normal’ kembali. Kondisi tersebut diperparah dengan saya yang memang tidak gampang bercerita tentang apa yang saya rasakan kepada orang-orang terdekat. Saya tidak mau orang menganggap saya aneh tentang apa yang saya rasakan dan pikirkan saat itu.

Bagaimana mungkin manusia berjilbab seperti saya berbicara tentang ketidakpercayaannya terhadap Tuhan? Bagaimana mungkin manusia berjilbab seperti saya tidak shalat dan berpikir akan melepas jilbab serta berpikir mungkin pindah agama merupakan solusi terbaik?

Saya semakin kehilangan kendali atas diri sendiri. Dari luar, saya terlihat baik-baik saja. Namun, ketenangan mental saya terganggu, yang mengakibatkan saya semakin sering sakit.

Saya tidak mau terus seperti ini.

Saya berusaha mencari jalan, dan belajar untuk menerima bahwa memang ada permasalahan dalam diri. Saya belajar mulai bisa terbuka dengan orang-orang terdekat saya. Perlahan, saya pun berbagi untuk mengurangi beban pikiran saya, dengan tetap menggali lebih dalam mengenai Tuhan dan agama.

Saya tahu saya sudah di jalan yang benar. Akan tetapi, untuk meyakini sepenuh hati bahwa Tuhan benar ada dan Islam adalah agama terbaik untuk saya imani belum bisa saya lakukan. Hingga, saya bertemu dengan seorang teman lama yang telah mengalami perubahan cukup drastis di hidupnya, baik dari segi penampilan dan tingkah laku. Saya pun bertanya apa yang membuatnya berubah. Dia menjawab, “Umrah, May. Gue berubah saat gue umroh. Di sana gue ‘ngobrol’ sama Allah. Cobain deh.”

Obrolan singkat dengannya sungguh membekas di hati. Beberapa minggu kemudian, saya memutuskan untuk umroh. Prosesnya begitu singkat dan cepat; saya mulai mencari traveldan memohon izin kepada orang tua. Dengan berbagai persiapan yang serba mendadak, bersama mama dan kedua adik, saya melakukan perjalanan umroh pada akhir Februari.

Itu adalah perjalanan yang paling saya niatkan. Saya melakukan banyak hal untuk mempersiapkan diri untuk perjalanan itu. Saya berusaha memperbaiki shalat saya, belajar kembali soal Islam, siapa itu Allah SWT, sejarah nabi dan rasul serta belajar apa itu umrah. Saya tidak mau perjalanan ini sia-sia. Saya ingin ada perubahan yang terjadi kepada diri saya setelah perjalanan itu dalam bentuk apa pun. Saat itu, hanya perjalanan tersebut satu-satunya cara yang bisa saya lakukan untuk menghilangkan kebisingan di kepala saya.

Saya ingat betul sensasi yang saya rasakan saat kali pertama memandang Ka’bah. Saat menginjakkan kaki di Masjidil Haram pertama kali itu, saya dan rombongan langsung melakukan tawaf. Saat tawaf putaran pertama hingga ketiga, saya masih bingung dan aneh tentang benda bernama Ka’bah. Ada sebersit keangkuhan dalam diri saya yang masih mempertanyakan kekuasaan Tuhan. Tawaf putaran keempat, Allah Sang Maha Pembolak-balik Hati mengubah hati dan pikiran saya.

It’s like magic. I just don’t know how to describe this into words. I just feel it. I just feel the existence of God.

Saya tak pernah menyangka, pencarian saya akan berakhir detik itu. Pertanyaan-pertanyaan saya terjawab di Masjidil Haram; di depan Ka’bah. Semua terjadi di luar akal dan logika. Saya tidak pernah tahu bagaimana, tapi detik itu saya merasakan-Nya. Semua keraguan saya pun tiba-tiba hilang.

Saya merasakan bahwa ternyata selama ini Dia ada di dekat saya. Dan saya merasakan cinta Allah SWT yang begitu besar. Semua seperti menonton film dengan plot flashback. Di pikiran saya tergambar jelas semua nikmat yang saya dapatkan dari Allah tanpa meminta. Semuanya tanpa terkecuali. Detik itu saya menangis; saya merasa bodoh, karena meragukan kebesaran Allah. Betapa congkaknya saya sebagai manusia merasa bisa melakukan apa pun di dunia ini. Betapa naifnya jika saya merasa tidak ada kekuatan besar yang mengatur semua proses kehidupan di dunia ini. Saya hanyalah partikel kecil di Semesta yang tidak bisa berbuat apa-apa tanpa izin Allah Sang Dzat Maha Besar.

Perjalanan umroh saya ke tiga masjid suci umat Islam yang saya jalani itu mungkin merupakan titik balik terbesar dalam hidup saya. Cara pandang dan berpikir saya dalam melihat banyak hal pun berubah, di mana saya dulunya terlalu mengidolakan logika dan fakta scientific. Dan, sejak perjalanan umroh itu, saya pun mulai berani menyebut Tuhan dengan Allah SWT.

Saya memahami setiap manusia punya prosesnya masing-masing dalam mengenal Tuhan. Saya pun memahami dalam perjalanan keimanan, manusia pasti pernah mengalami naik dan turun kadar keimanannya. Saya pun mulai memahami Allah menghargai proses, dan bukan kesempurnaan yang seharusnya kita cari, tapi keinginan untuk selalu menjadi lebih baik.

Melalui cerita ini saya tidak ingin ada kesimpulan kalau saya manusia baik yang suci dari dosa. Tentu tidak saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air. Saya jauh dari sempurna, ibadah saya pun jauh dari sempurna. Saya masih berjuang setiap hari melawan kemalasan saya untuk beribadah; masih berusaha keras untuk menjadi pribadi muslimah yang baik dan bermanfaat. Cerita ini saya bagikan untuk menunjukkan bahwa setiap orang punya jalan yang berbeda di hidup ini. Jika jalan yang ditempuh orang lain tidak sama dengan kita, bukan berarti kita lebih baik ataupun sebaliknya. Semoga cerita ini bisa bermanfaat untuk yang membacanya.

Aamiin.

Penulis: Maya Dwiseptiana
Editor: Ala

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *