Awal Kelahiran Sang JAGOAN

Panggil saja aku Joy, anak bungsu dari 2 bersaudara yang berasal dari kota Solo. Empat tahun yang lalu, tepatnya tahun 2014, aku memutuskan untuk mengadu nasib ke Kota Pahlawan untuk melanjutkan studiku di Universitas Kristen Petra Surabaya dan mengambil salah satu jurusan yang kata mereka “cuman ngegambar doang” atau yang biasa disebut Desain Komunikasi Visual.

Kata orang, sebuah nama adalah doa dan menurutku memang benar. Karena bukan hanya namaku saja yang Joy, aku dikenal dengan kepribadian yang “joy banget”. Aku sangat suka menganti-ganti warna rambut, mungkin dalam waktu sebulan aku bisa menggantinya 4-5 kali. Orang-orang di sekitarku juga mengenalku sebagai pribadi yang super pede dengan penampilanku yang sangat menarik perhatian. Buatku, kenapa harus malu dan tidak pede kalau kita memang ingin melakukannya, yang penting kita tidak merugikan orang lain.

Sampai saat aku memasuki semester 7 dan mewajibkanku untuk magang di Jakarta. Mau percaya atau tidak seumur hidup aku hanya pernah ke Jakarta hanya sekali, dan itu pun saat kelas 3 SD. Sekarang aku malah harus hidup di Jakarta sendiri selama tiga bulan. Hari magang pun tiba. Aku tinggal di kosan yang terletak di Radio Dalam. Tempat magangku berlokasi di daerah Blok M yang membuatku membutuhkan kendaraan umum untuk menuju kantor. Karena kosku yang berada di area perkampungan, aku harus berjalan kaki dulu supaya lebih mudah untuk mendapatkan kendaraan menuju kantor.

Aku yang menilai diriku sebagai cewek tomboi, cuek, dan memiliki tingkat kepedean yang cukup tinggi, ternyata mengalami hal yang cukup mengejutkan. Selama di Jakarta, banyak sekali orang yang memandangiku karena aku memiliki rambut yang “tidak biasa”, yaitu kuning. Jadi, beberapa dari mereka selalu memanggil aku dengan julukan “Si Kuning” atau memanggilku dengan godaan-godaan yang lain. Singkat cerita karena tidak tahan dengan godaan itu, aku pun memutuskan untuk mewarnai rambutku kembali ke hitam dengan harapan tidak akan ada yang menggodaku lagi. Namun, ternyata sama saja perlakuan mereka tetaplah sama.

Sementara, selama magang aku diberi tugas oleh kampus untuk menyiapkan topik masalah apa yang ingin kubuat untuk tugas akhir S1-ku. Jujur, banyak sekali masalah-masalah yang ingin aku bahas. Akan tetapi, saat melihat-lihat riset di internet aku menemukan beberapa fakta dan tulisan mengenai perilaku catcalling yaitu perilaku pelecehan secara verbal contohnya “cewek, sendirian aja”, “suit…suittt”, dan lain-lain. Catcalling adalah hal yang selama ini menggangguku saat magang di Jakarta dan membuatku takut serta tidak percaya diri lagi. Setelah kucari tahu, ternyata selain diriku banyak juga teman-teman terdekatku dan orang-orang lain yang merasa dirugikan karena perilaku ini.

Muncul dorongan yang sangat kuat dalam diriku untuk menentukan pilihan mengangkat masalah catcalling sebagai topik tugas akhir.Memang, masalah ini terbilang tak mudah dan aku sendiri memiliki pengetahuan yang lumayan terbatas, tapi itu tidak membuatku ingin menyerah. Dengan bantuan konsultasi yang kudapatkan dari pihak lentera.id dan Komnas Perempuan akhirnya lahirlah sebuah Kampanye sosial JAGOAN yang merupakan singkatan dari “Jangan Godain di Jalan”.

Sebenarnya sangat banyak orang yang berkata kepadaku untuk membuat tugas akhir yang biasa saja atau bisa dibilang “yang penting lulus S1”. Memang sih, apa yang kulakukan akan lebih menghabiskan banyak waktu, biaya, dan pikiran. Akan tetapi, aku juga berpikir apabila aku memang harus ‘menghabiskan’ lebih untuk tugasku ini, setidaknya aku ingin membuat sesuatu yang berdampak untuk orang lain. Karena, aku tidak ingin orang-orang kehilangan kepercayaan diri karena catcalling. Dan, seandainya aku bisa sedikit membantu orang lain, mengapa tidak?

Penulis: Joy Gloria Harendza
Editor : Ala

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *