Mari Bicara

Foto diambil dari Pinterest

Panggil saja saya Lidya. Saya ingin bercerita bagaimana bicara bisa menyelamatkan hidup saya.

Sejak kecil, hidup saya memang sepertinya sudah ditakdirkan lekat dengan pelecehan seksual. Di usia sekitar tujuh atau delapan tahun, saya sempat tinggal di negeri empat musim yang jauh. Kami sekeluarga, dengan Ayah, Ibu, dan saudara kandung saya tinggal di sebuah bangunan apartemen tingkat empat yang tidak memiliki lift.

Suatu sore, Ibu menyuruh saya membeli sesuatu di supermarket yang agak jauh dari apartemen. Hal ini biasa saja, toh saya dulu bisa berbicara menggunakan bahasa setempat sedikit-sedikit. Ketika saya pulang dari supermarket, saya menaiki tangga apartemen yang sepi. Di sana, saya berpapasan dengan seorang tetangga laki-laki bertubuh besar, usianya mungkin tiga puluhan akhir atau awal empat puluh tahun.

Ia mengajak saya berbicara. Namun, saya tidak paham karena kendala bahasa. Ia lalu mengeluarkan sebuah botol krim dari dalam tasnya dan mencoba membuka celana saya. Saya langsung menangis. Saya tidak tahu kenapa, tapi saya tahu ini adalah sesuatu yang salah. Saya memberontak, tapi ia meletakkan telunjuknya di bibirnya, menyuruh saya diam. Saya tidak diam, saya terus berontak dan menangis, hingga akhirnya berhasil berlari ke lantai empat, lantai apartemen saya. Mengetuk pintu, masuk ke dalam kamar yang aman, dan langsung menangis diam-diam.

Berpuluh tahun kisah ini saya pendam, ini kali pertama saya menceritakannya ke publik.

Kekerasan seksual kedua, ketiga, keempat, dan selanjutnya yang saya alami terjadi ketika saya berusia antara 23 hingga sekitar 25 tahun, tahun 2013 hingga 2015. Pelakunya adalah seseorang yang dulu memiliki hubungan romantis dengan saya. Saat itu, kami menjalin hubungan yang serius. Kami berniat menikah setelah melanjutkan studi pascasarjana. Dulu, saya merasa beruntung karena pasangan saya tinggi, gagah, good looking, pintar, dan agamanya bagus. Saya menyayangi dia dan dia pun, saya tahu, sangat menyayangi saya. Namun, itu hanya bertahan beberapa bulan di awal.

Mulanya adalah kekerasan verbal. Ia menghina jurusan dan hobi yang saya pilih. Ia pun sering mengkritik baju yang saya pakai, bahkan berkata bahwa saya terlihat seperti “orang kampung masuk kota”. Ia tidak suka saya menggunakan makeup. Padahal, makeup yang membuat saya merasa diri saya baik-baik saja setelah dibuat sedih oleh perkataannya. Because, when I look good, I feel good.

Lalu muncul kekerasan mental. Ia mulai memanfaaatkan bidang ilmu yang saya kuasai setelah sebelumnya selalu menghina jurusan dan pencapaian-pencapaian non akademik saya (saya dulu rajin sekali mengikuti lomba cerita pendek). Saya pikir, membantu kekasih adalah hal yang sangat wajar. Bukankah idealnya begitu, saling membantu? Di sela-sela pekerjaan dan kuliah, saya masih membantunya menyelesaikan studi. Membantunya mencapai cita-cita dan pekerjaan yang ia impikan. Saat itu, saya merasa hubungan ini ideal. Saya mendukungnya, dan mungkin suatu saat nanti ia akan mendukung saya. Tapi rupanya hal yang ideal ini tidak pernah terjadi.

Ia pun tidak segan untuk menghilang dan “mengetes” tingkat kesetiaan saya kepadanya. Ia menginginkan saya menjadi tipe perempuan ideal menurut dirinya. Perempuan yang religius, tinggal di rumah, bisa melayani laki-laki, tidak macam-macam, dan nurut.

Kekerasan berikutnya adalah kekerasan seksual. Saya tidak ingin terlalu banyak menceritakan kisah ini karena sangat eksplisit. Yang jelas, saya sekian kali terjebak dan ini membuat saya membenci diri saya, teman-teman saya, keluarga saya, agama saya, dan Tuhan. Banyak yang bertanya, mengapa bisa terjadi beberapa kali jika itu di luar kehendak saya?

Karena harga diri saya sudah sangat rendah akibat beragam hinaan yang saya terima. Saya merasa saya hanya bisa bergantung ke dia, karena sepertinya hanya dia yang bisa menerima saya yang sudah “bekas”, apalagi kami berencana menikah. Ditambah, tiap kejadian itu terjadi, saya mengalami freezing. Keadaan ketika ketakutan setengah mati dan tidak mampu bergerak. Pikiran saya selalu menyelinap keluar, membayangkan saya berada di tempat lain yang lebih aman.

Singkat cerita, ia meninggalkan saya. Meninggalkan saya yang sudah dimanfaatkan sedemikian rupa dengan tingkat percaya diri di titik nol.

Dari sinilah perjalanan panjang saya untuk pulih dimulai. Saya merasa hidup saya sudah berantakan, saya memutus hubungan dengan teman-teman saya (hingga kini pun saya masih tidak nyaman berada di keramaian, meskipun hanya di dunia maya), saya benci dan jijik sekali menjadi perempuan dan berpikir seandainya saya laki-laki, saya tidak perlu mengalami kejadian ini.

Saya mencoba dating tidak serius dengan bermacam laki-laki hanya untuk mencoba apakah saya masih bisa percaya dengan mereka. Rupanya tidak ada efeknya, perasaan saya sudah tidak ada. Saya bersumpah saya tidak akan pernah menikah. Siapa peduli?

Ini adalah tahun-tahun terberat saya. Saya mulai terkena panic attack, muntah-muntah, gemetaran, mengurung diri di kamar, dan beberapa kali terkena mimpi buruk tentang mantan kekasih saya (terakhir saya mimpi buruk awal tahun ini). Akhirnya awal 2017 saya mencoba mencari bantuan. Saya mencari support group yang peduli akan isu kekerasan seksual.

Saya mulai bicara.

Kali pertama saya bercerita di depan kelompok kecil yang tidak saya kenal sebelumnya, saya menangis. Saya merasa memiliki teman yang akhirnya paham dengan kisah saya. Lalu saya mulai mencari bantuan profesional dan mengikuti acara-acara komunitas terkait. Saya mulai bercerita tentang ini ke lingkaran terdekat saya. Bercerita kepada teman-teman, sahabat, hingga di depan orang-orang yang tidak saya kenal. Saya mulai menekuni hobi menulis yang sempat saya tinggalkan, bahkan mencoba menyelesaikan sebuah novel. Februari 2018, setelah beberapa bulan konseling ke psikolog, saya dinyatakan pulih.

Apakah ini sudah selesai? Sebagian besar ya, tapi masih ada sebagian kecil di dalam diri saya yang masih merasa khawatir. On few bad days, I still feel this shame and guilt. Namun, saya bersyukur bahwa kini saya sudah tidak membenci siapa pun dan apa pun lagi. Saya pun bersyukur dikelilingi oleh orang-orang yang luar biasa baiknya.

Saya pun menerima masa lalu yang merupakan sebuah perjalanan yang harus saya jalani. Saya bisa memaafkan pelaku, di mana pun dia berada sekarang.

Terinspirasi dari apa yang telah saya lalui, saya memutuskan untuk membangun komunitas Sahabat Bicara. Sederhana saja alasan di balik penamaannya, tiap-tiap dari kita butuh sahabat untuk bicara. Saya berharap semakin banyak orang yang berani bicara, apalagi jika memiliki masa lalu seperti saya. Saya sudah menerima email dari para survivor seperti saya. Saya sangat berterima kasih kepada mereka yang sudah menghubungi saya.

Berterima kasih karena kita sudah berhasil melewati rintangan pertama untuk pulih, yaitu bercerita.

Jadi, mari bercerita.

 

Catatan dari penulis:

Jika ingin bercerita, please send an email ke halosahabatbicara@gmail.com. Kerahasiaan jelas akan terjaga, karena tentunya tidak mudah juga bagi kita untuk membuka diri untuk bercerita.

 

Penulis: Lidya
Editor: Ala

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *