Menjadi Tangguh dan Tidak Jomblo

Prolog

Setelah lama disatroni untuk menulis di sini, akhirnya saya mendapatkan topik yang ingin sekali saya bagi. Bermula melihat unggahan seorang teman di media sosial mengenai bagaimana tidak menurunkan standar sebagai perempuan hanya untuk mendapatkan “jodoh” dan mencari pria dengan hati yang lebih “besar”, ada sesuatu yang sering kali terlupakan untuk dibahas, dan inilah yang ingin saya bagi.

———-

“Jangan item-item, nanti gak ada yang suka.”

“Kaleman dikit, jangan terlalu vokal, karena bisa mengintimdasi laki-laki.”

“Jangan terlalu sukses, nanti laki-laki jadi takut.”

I say be the best, the happiest, the strongest, the most courageous, the most badasss version of yourself. Laki-laki yang menjauh karena kamu menjadi versi terbaik dirimu sendiri bukan laki-laki yang ingin kamu jadikan pasangan seumur hidup. Trust me on this.

– secuplik postingan dari @asihmanis yang diambil dari postingan lainnya –

———-

Jomblo Perak

Perkenalkan, Marina, sering dipanggil Jukie, perempuan pecicilan yang stress kalau diam di rumah. Di usia ke-25 yang saya rayakan dengan teman-teman terdekat, saya mendapatkan prestasi baru menjadi seorang jomblo silver…yang seumur hidupnya tidak pernah pacaran. Boro-boro mantan pacar, adanya juga mantan kecengan, yang biasanya lalu pacaran dengan teman.

Entah kenapa lingkungan sosial kita di Indonesia ini terlalu menganggap penting peneriman seorang perempuan oleh laki-laki (dibandingkan sebaliknya). Sehingga, menjadi jomblo silver menjadi tekanan sosial yang saya rasakan juga ketika bergaul dengan teman-teman saya. Jangan salah…teman saya banyak sekali. Yang dekat banyak juga…dekat sebagai teman, tentu. Berikut ini adalah list analisis mengapa saya hidup menjomblo sampai usia ke-28 dari orang-orang di sekitar saya dan respon yang biasanya saya utarakan:

 

– Terlalu macho

– Ga cantik-cantik banget (yang penting hatinya cantik)

– Terlalu berprestasi (note: bukan prestasi akademik tentunya ;D)

– Standarnya terlalu tinggi (lah masa nyarinya tukang becak… – no offense ya…contoh aja)

– Terlalu mandiri (lah…masa ga boleh mandiri, jujur analisis ini bikin sebal)

– Mainnya sama cowo terlalu ke-cowo-cowo-an, jadinya udah terlalu nyaman dijadikan kawan

dan tentu saja…

– Jangan terlalu sukses, nanti laki-laki jadi takut (mehhhh……)

 

Sampai akhirnya saya berkesempatan dengan seseorang yang dikenalkan (dan dijodohkan) teman, walau berakhir sekejap kemudian. Tetapi dari perkenalan (dan perjodohan) ini saya jadi tahu nilai-nilai apa yang sebenarnya menjadi berarti untuk saya dan saya inginkan ada di pasangan saya.

Nasihat paling mantap yang saya dapatkan selama hidup (yang ingin saya bagikan di sini) dan mengeliminasi semua alasan aneh kejombloan saya, saya dapatkan dari seorang teman pria yang beda usianya hampir 20 tahun lebih tua dari saya. Nasihatnya adalah:

“menjadi mandiri itu penting, menjadi sukses itu penting, dan penting juga untuk membuka diri membiarkan orang lain berkontribusi terhadap kita”.

Sebagai seorang yang macho, mandiri, bisa mengerjakan semuanya sendiri, dan tidak butuh bantuan orang lain, kalimat tersebut sangat mengena dan selalu saya bawa ke mana-mana. Saya sadar bahwa saya merasa memiliki arti bagi orang lain jika saya dapat berkontribusi terhadap orang tersebut dan membantu apa pun itu. Saya tidak sadar bahwa orang lain akan merasa memiliki arti bagi saya jika saya memberikan ruang yang sama untuk orang lain berkontribusi dan membantu saya…walaupun mungkin saya tidak membutuhkannya.

Dari pengalaman saya, kebanyakan orang di lingkungan saya tidak dapat membahasakan hal ini dengan baik, sehingga apa yang keluar adalah “terlalu mandiri”, “terlalu sukses”, “standarnya terlalu tinggi”, dan lainnya. Sering kali, saya merasa menerima “bantuan” orang membuat saya merepotkan orang lain. Padahal, mungkin hal tersebut yang membuat orang lain merasa berarti dan merasa “ada” dalam kehidupan saya.

Sebagai anak yang mandiri dan tidak ingin menyusahkan orang tua, nasihat ini juga sangat membekas. Arogansi anak yang bisa mandiri dan tidak butuh bantuan dari orang tua lagi sering kali dahulu timbul. Saya lalu belajar bahwa membiarkan orang tua saya tetap “mengurus” saya dan meminta bantuan orang tua saya untuk “mengurus” saya walau sedikit, membuat orang tua saya tetap memiliki arti menjadi orang tua.

Dengan pengetahuan baru ini, perkenankan saya ingin me-“rephrase” kalimat di akhir posting-an tadi:

 

I say, be the best, the happiest, the strongest, the most courageous, the most badass version of yourself. It is also important to always have the room and opportunities for others to help. Not because a badass person needs help, but because it gives others opportunity to have a meaning in a badass person.

 

Penulis : Marina Natalia Tampubolon atau Jukie
Editor : Ala

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *