Sisterhood Against Stigma

>> English Version

 

Hai, ceritaperempuan.id! Nama saya Stephanie. Saya berusia 24 tahun dan berasal dari Amerika. Dalam rangka penelitian, saya sempat tinggal di Indonesia selama setahun. Ketika di sana, teman saya Asih bertanya kepada saya apakah saya bisa menulis cerita untuk ceritaperempuan.id. Saya tidak yakin apa yang harus ditulis. Tapi kemudian sebuah interaksi kecil di bandara di Labuan Bajo membantu saya menyadari bahwa saya ingin menulis tentang kakak perempuan saya yang luar biasa, Ali.

Ini keluarga saya—manis, kan? :) Saya memiliki dua kakak perempuan dan seorang adik laki-laki.

Saya beruntung; keluarga saya datang berkunjung ke Indonesia dan kami berjalan-jalan ke Pulau Komodo. Setelah trip, kami pulang dengan menggunakan pesawat dari bandara. Kami pergi ke bagian check-in, lalu saya pun memerhatikan karyawan maskapai berbisik kepada karyawan yang lain dan menatap Ali. Saya bingung apa yang salah, jadi saya bertanya, “Apa?” Karyawan itu bertanya “Dia sakit?” dan menunjuk kepada Ali. Saya sangat bingung, kemudian melihat Ali untuk mencari apakah hidungnya berdarah atau ada sesuatu yang lain. Namun, saya tidak melihat apa-apa. Jadi, saya menjawab “tidak?”, dan karyawan itu pun tersenyum dan memberikan tiket penerbangan kami.

Kakak-kakak perempuan saya (mereka tidak bisa berbahasa Indonesia) bertanya kepada saya apa yang sedang terjadi. Maka, saya menjelaskan percakapan itu kepada mereka. Dengan segara, kakak perempuan saya, Katie, berkata, “Mereka mungkin tidak pernah melihat seseorang dengan Down Syndrome di bandara….” Kemudian, saya pun tersadar, bahwa dalam sembilan bulan tinggal di Indonesia, saya tidak melihat satu orang pun dengan Down Syndrome! Menurut saya, sepertinya ini—sayangnya—suatu hal yang tipikal, kecuali jika kita mengenal seseorang dengan difabel secara pribadi, kita mungkin lupa akan keberadaan orang-orang yang begitu berharga dan rentan ini.

Ayah, Ali, dan saya berenang di Bali

Saya bersama kakak-kakak dan adik di Yogyakarta

Terkadang, sulit rasanya memiliki kakak perempuan dengan Down Syndrome, bukan karena Ali yang sulit—dia adalah salah satu teman terbaik saya, tapi karena masyarakat memiliki banyak prasangka terhadap Down Syndrome. Keluarga saya sendiri melakukan semua hal yang kami bisa untuk mendukung Ali. Ayah saya berjuang agar Ali mendapatkan perawatan kesehatan yang memadai saat dia masih bayi. Ibu saya berjuang untuk hak Ali atas pendidikan inklusif saat Ali masih balita. Dan, perjuangan demi perjuangan kami hadapi. Saya tidak melihat semua perjuangan ini di belakang layar, karena saya saat itu masih kecil ataupun jauh dari rumah karena belajar di universitas. Akan tetapi, beberapa minggu yang lalu, saya menjadi lebih sadar akan hal ini.

Saat itu, saya mengantar Ali untuk melamar pekerjaan di sebuah gym (mirip dengan pekerjaan yang dia lakukan sekarang di gym yang lain). Manajer gym membuat berbagai alasan yang tidak penting untuk tidak mewawancarai Ali. Dalam perjalanan pulang, saya benar-benar frustasi dan hampir menangis. Ali pun bertanya kepadaku apa yang terjadi. Saya memberitahu dia bahwa manajer gym tidak ingin mewawancarainya karena dia memiliki Down Syndrome. Dan, saya akan memperbaiki hal itu. Ali, seseorang yang jauh lebih kuat dari saya, hanya menganggukkan kepala. Dua hari kemudian, saya kembali mengantar Ali ke sana dan meminta pihak gym untuk mewawancarainya. Dia berhasil mendapatkan wawancara itu, dan Ali menunjukkan pengetahuannya, kepribadiannya yang ramah, dan secara keseluruhan, sangat luar biasa! Sayangnya, manajer mengirim email lanjutan dengan alasan lain yang tidak relevan untuk tidak mempekerjakan Ali.

Kakak pererempuan yang membuatku menjadi seseorang yang lebih baik

Ali sangat keren. Dia suka menari, makan makanan yang enak, yoga, berenang, massage, dan berkumpul bersama teman-teman. Ali bekerja paruh waktu dinursing homesebagai asisten kegiatan. Dia juga bekerja paruh waktu di sekolah menengah sebagai tutor dan role modelbagi para difabel. Dia menjadi sukarelawan di teater, dan dia belajar di universitas. Ali adalah seorang yang sassy dan cerdas humoris; dia membuat saya tertawa setiap hari. Dia mendukung saya dan selalu menunjukkan kepada saya bagaimana caranya tetap gigih meskipun ada rintangan berat. Yang paling penting, memiliki kakak perempuan seperti Ali membuat saya menjadi pribadi yang lebih baik dan mengurangi keegoisan saya sendiri.

Jadi, kita mungkin bertanya, hal-hal sederhana apa yang dapat kita lakukan untuk membantu para difabel. Berikut beberapa ide. 1) Bertemanlah dengan mereka. Ajak mereka ke bioskop, ke mal untuk makan siang, kirim teks/telepon, nongkrong, dan kenalilah mereka. Layaknya manusia, mereka memiliki harapan, mimpi, opini, dan cerita. 2) Ketika kita melihat seorang difabel, jangan menganggap mereka seperti bayi. Bicaralah KEPADA MEREKA, bukan orang yang bersama mereka. Jangan abaikan mereka dalam percakapan. 3) Jangan beranggapan mereka tidak dapat melakukan sesuatu. 4) Terlibatlah dalam organisasi lokal yang bekerja dengan para difabel. 5) Para difabel harus selalu diikutsertakan. Mereka adalah manusia, sama seperti saya dan kalian!

Seperti yang pernah saya sampaikan, mungkin sulit bagi saya memiliki kakak perempuan dengan Down Syndrome. Saya sering merasa putus asa. Kuncinya adalah jangan pernah menyerah dan selalu mendorong mengenalkan dan mendidik orang-orang mengenai Down Syndrome, toleransi, dan penerimaan. Saat ini, saya sedang mengerjakan Op-Ed (teks editorial atau opini) untuk koran lokal kami :)

Terima kasih telah membaca tulisan tentang saya dan kakak perempuan saya. Semoga kalian juga bisa sedikit belajar tentang rasa frustasi ini dan juga kemungkinan-kemungkinan bagi para difabel. Saya harap kalian dapat terinspirasi.

All the best,
Stephanie

P.S. Ali telah menyetujui tulisan ini

Penulis Text Asli dalam Bahasa Inggris: Stephanie O’Gara
Penerjemah : Ala
Editor: Ala

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • I want to talk with Ali as her friend, it is not a pity but it comes from your story stephanie