Tentang Penerimaan

Semua orang ingin diterima dengan baik.

Saya mempelajari penerimaan ketika saya menjalani kuliah Magister Profesi Psikologi. Setiap klien yang datang kepada saya, mereka hanya ingin saya dengarkan dan diterima pendapatnya. Meskipun sering kali saya merasa kontra dengan pendapat mereka, saya sebisa mungkin menyampaikan suatu hal dengan cara tertentu agar klien tersebut merasa diterima pemikirannya dan akhirnya sampai ke titik di mana mereka menyadari bahwa cara pandang hidup mereka harus ada yang diubah. Bagi saya, tujuan masuk ke Psikologi adalah untuk dapat mengerti keadaan diri dan sekitar, dan juga…yaaa, saya akui sebagai media rawat jalan (khususnya bagi saya).

Teman-teman terdekat saya sudah tahu sifat saya yang perasa dan juga moody, atau bisa dibilang “baperan”. Beberapa teman menganggap sifat saya yang satu ini harus dibuang jauh-jauh. Dan, saya pun tahu bahwa sifat buruk saya memang tidak boleh ada. Beberapa kali saya mencoba untuk berubah, beberapa kali saya juga menolak dan secara tidak sadar sifat buruk tersebut masih terus saja menggerogoti.

Saya merasa lebih banyak menerima anggapan orang-orang di sekitar saya mengenai diri saya. Saya sering kali lupa untuk menyaring setiap respon dari mereka. Tak jarang saya pun berada dalam fase denial—bahwa saya bisa mengendalikan semua ini. Namun, saya selalu kesal apabila sikap saya yang terlalu mendengarkan orang lain dan tidak mampu menyaringnya itu muncul. Setiap hari saya selalu bertanya, “Saya salah apa?” Sampai-sampai, saya selalu menyalahkan diri sendiri, karena terlalu sibuk mendengar pernyataan-pernyataan di luar sana. Ya, saya benci; benci apa yang ada di dalam diri saya sendiri. Saya jadi mati rasa. Lebih tepatnya, bingung harus bertingkah laku seperti apa, seakan apa yang saya lakukan akan selalu salah.

Saya jadi teringat peristiwa beberapa tahun yang lalu ketika saya masih duduk di bangku perkuliahan. Saya bertemu dengan seorang laki-laki; we shared a lot and we talked a lot. Saya senang berdiskusi dengannya. Hubungan saya dan dia berjalan dengan sangat baik. Apa yang ia berikan saya terima dengan sangat baik, saya perlakukan perasaan ini dengan baik.

Sampai pada satu kondisi dia menjauh dan berkata bahwa “dia tidak suka dengan penerimaan saya”. Dia merasa malu untuk bertemu lagi dengan saya lantaran banyak orang yang menanyakan hubungan saya dan dia pada saat itu. “Saya gak ngapa-ngapain kamu, yah.” Itu yang selalu ia ucapkan. Sampai saat ini pun, apabila saya ajak untuk bertemu, dia berkilah dengan berbagai macam alasan. ‘Apa yang sudah terjadi, terjadi sajalah,’ pikir saya. Toh, saya pikir kami memulai sebuah hubungan yang baik, jadi saya ingin tetap berteman baik. Akan tetapi, rupanya perlakuan dan perasaan saya saat itu dianggap sesuatu yang menjengkelkan baginya.

Saya mencoba untuk mencari pembenaran dengan bercerita dengan banyak orang. Banyak orang menganggap bahwa itu murni kesalahan saya yang terlalu perasa dan salah mengartikan kebaikannya. Salah mengartikan kebaikan laki-laki tersebut yang hanya ingin berteman baik dengan saya, dan justru memberikan penerimaan yang berbeda dengan pandangan laki-laki itu. Mereka berkata, “Jadi orang jangan kebaperan deh, Nka.”

Saya merutuki diri saya setiap hari. Saya selalu mengingat bagaimana pendapat orang-orang yang menganggap sifat perasa saya adalah suatu hal yang mengganggu. Lagi-lagi, saya menyalahkan diri.

Emang salah apabila saya bersikap kayak gini? Apakah salah apabila saya berespon dengan penerimaan seperti ini?

Saya yang perasa ini, merasa bodoh.

Iya, saya bodoh dan benci dengan diri saya sendiri.

Saya tidak “menerima” diri saya.

Satu hari, saya pun berkesempatan untuk mengungkap lebih dalam mengenai diri saya kepada seorang konselor di kampus. Ia pun berkata “Nka, kamu selalu bilang salah saya apa, saya kenapa. Kamu selalu menyalahkan diri kamu. Akan ada saatnya orang-orang di sekitar kamu itu yang akan menerima satu paket yaitu kebaikan dan keburukan kamu.”

Saya sadar sifat perasa dan moodyini bukan untuk dibuang, tapi harus diterima dengan bijak bahwa itu adalah satu kesatuan utuh yang ada dalam diri saya. Bukan untuk dihilangkan, tapi untuk dirangkul dengan erat dan diterima apa adanya. Siapa lagi kalau bukan diri sendiri yang bisa merangkul sifat buruk kita.

Merangkulnya dan berkata, “Gak apa-apa, jika masih ada hari esok, mari kita perbaiki sama-sama.”

Mengenai penerimaan yang dirasakan oleh orang-orang sekeliling kita, biarlah itu menjadi urusan mereka. Saya sadar bahwa berusaha untuk menerima semua anggapan orang-orang tentang diri kita bukanlah suatu yang bijak. Saya sadar berusaha untuk diterima oleh semua orang bukanlah hal yang harus kita lakukan. Pada akhirnya, menerima diri kita dengan segudang kebaikan keburukan akan jauh lebih baik.

 

Sampai saat ini pun saya terus menikmati proses menerima diri saya apa adanya. Tak jarang saya menghadapi kesulitan. Namun, saya juga belajar bahwa setiap kesulitan selalu diiringi dengan kemudahan. Saya pun tidak lupa untuk terus berserah kepada Yang Maha Kuasa serta berterima kasih dengan segala pemberian-Nya, yaitu sahabat dan keluarga saya yang menerima secara utuh. Suatu hari saya ingin bertemu dengan laki-laki yang akan melengkapi saya dengan menerima satu paket kebaikan dan keburukan saya; dan saya pun akan berusaha menerima dirinya.

Teruntuk siapa pun diluar sana, baik itu teman terdekat saya ataupun mereka yang membaca tulisan ini, saya minta maaf apabila sikap saya selama ini membuat kalian menjadi tidak nyaman untuk berteman dengan saya. Mungkin, respons dan penerimaan saya berbeda dengan apa yang kalian rasakan. Namun, inilah saya yang berusaha untuk menerima diri dan orang-orang di sekeliling saya apa adanya.

Penulis: Prinska Damara Sastri
Editor: Ala

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • aku udah baca cerita kamu lhooo…
    aku terima sifatmu yg baperan lhoo. soalnya aku juga baper 😀