Membangun Cita-cita yang Mengubah Hidup

 

Halo para pembaca, salam kenal. Nama saya Ni Komang Ayu Suriani. Kalau dari namanya, sudah ketahuan banget kalau saya dari Bali, tapi tidak pernah dikira orang Bali. Saya hidup merantau di luar Bali sejak kandungan karena ikut Bapak bertugas di Kementerian Hukum dan HAM. Bahkan, sampai sekarang, meski hidup di tanah Bali dan sudah jelas dari nama saya yang ada ciri khas Bali-nya, masih juga sering dipertanyakan orang mana. Plus di media sosial, saya selalu pakai nama Suri Filan, karena demen sama salah satu member Westlife yang nama belakangnya “Filan” :D

Anyway…sebenarnya saya gak PD menuliskan kisah saya. Karena memang bukan sekelas Jack Ma yang kisahnya menginspirasi banyak orang, sih. LOL. But…gak ada salahnya mencoba hal yang di luar zona nyaman kita, ya gak?

Saya ingin berbagi tentang momen “titik balik” di mana saya menemukan dunia yang sangat berbeda dengan kehidupan saya selama 22 tahun. Semua berawal dari bulan Desember 2012. Saat itu, saya sedang masa penyembuhan hati. Untungnya saat yang sangat rapuh itu, saya masih sadar untuk menyibukkan diri dengan hal-hal positif :D

Berawal dari teman saya yang sedang mencari pekerjaan dan dipanggil wawancara ke kantor yang satu tahun kemudian menjadi kantor saya. Teman saya ini menceritakan pengalaman wawancara di kantor tersebut. Ternyata kantor itu adalah social enterprise yang diperuntukkan untuk orang-orang disabilitas. Teman saya bilang, “Lu pasti suka deh tempat ini. Namanya Annika Linden, itu dibangun sebagai bentuk cinta si tunangannya Annika yang meninggal karena Bom Bali 1.”

Saat itu, saya menganggapnya angin lalu. Tapi, tak tahu kenapa, tiba-tiba saya terus memikirkan tempat itu. Maklum, saya baru kali pertama melihat (dalam kehidupan nyata yang deket banget dengan lingkungan saya) seseorang mendirikan sesuatu yang positif untuk mengenang tunangannya yang meninggal dalam tragedi. Karena saya orangnya mellow dan suka kisah-kisah romantis, jadi cerita itu lebih membuat saya sangat tertarik.

Saya pun mencari tahu mengenai tempat itu, lalu mengirimkan CV. Dalam benak saya, saya harus sibuk di tempat itu. Saya harus terlibat di kegiatan-kegiatannya; entah secara profesional atau sebagai relawan. Setelah beberapa pertimbangan, akhirnya saya melamar di sana sebagai relawan yang mengajar bahasa Inggris bagi pemuda-pemuda disabilitas (salah satu program hard and soft skill sebuah yayasan senior di Bali yang berfokus membantu penyandang disabilitas). Itu adalah pengalaman pertama saya berinteraksi langsung dengan orang-orang disabilitas sekaligus sebagai pengajar.

OMG, padahal saya hanya ngajarin hal-hal yang sangat dasar dalam bahasa Inggris. Tapi, antusias mereka itu, luar biasa banget. Semangat belajar serta harapan mereka mendapat pekerjaan setelah selesai training, membuat saya merasa hal kecil yang telah saya lakukan di sana sangat berguna dan dihargai. Muncul “kelegaan” dalam hati saya.

Kayak kerongkongan seret yang dikasih air. Langsung…seeeer gitu rasanya. Karena pengalaman hari pertama yang sangat memuaskan hati, jadi saya rela deh tiga kali seminggu PP, dengan jarak 40 km lebih. Padahal, awalnya mau seminggu sekali aja :D

Ditambah lagi, saya berkantor di tempat yang sangat saya kagumi, Annika Linden Centre. Tempat di mana setiap hari aku melihat orang-orang kurang mampu mendapat pelayanan yang sama seperti orang-orang yang mampu. Banyak cinta di sana. Dan, setiap harinya, aku berguna untuk orang lain yang sangat membutuhkan. Sebelumnya, gak sebegitunya tuh hari-hariku. LOL.

Sembilan bulan menjadi relawan dan keluar dari dunia saya yang sebelumnya, saya bertemu dengan seseorang yang mengajak saya running project bareng. Project-nya gak main-main; misinya untuk membantu para disabilitas mendapat pekerjaan via online seperti Jobstreet, namanya DNetwork. Uniknya, timnya hanya saya sendiri, dan itu adalah project “babat hutan” bagi online platform yang menghubungkan penyandang disabilitas ke penyedia kerja.

 

Kegiatan Bioskop Bisik Bali yang pernah diselenggarakan oleh Suri

 

Memang benar, ya…menjadi pioneer itu prosesnya luar biasa bangeeet. Harus sabar, tekun, kuat melebihi baja (halah). Tantangan gak cuma datang dari luar, tapi juga dari keluarga yang semuanya PNS. Maklum, cuma aku yang gak mau kerja sebagai PNS. Agak idealis alasannya dan semoga saja saya gak kualat beneran yah, ngotot gak mau PNS -__-“

Selama satu tahun, saya “babat hutan”, dihujani penolakan, kegagalan, air mata, kerja “24 jam”, dan hanya berhasil bantu sebelas orang. Ternyata, di tahun berikutnya, meroket jadi 36 orang. Beeeeuh, bantu satu orang aja ZULIT-nya mintaaa dimaafkan, apalagi 36 orang. Dan itu tercapai! Kebahagiaan lahir batin yang tidak bisa dijelaskan kata-kata. Perlahan-lahan, saya diundang menjadi pembicara di acara-acara pemerintah yang terkait employment untuk orang-orang disabilitas, menginap di hotel bintang lima (maklum ya, saya gak sanggup dan gak tega sama duit kalau harus nginep di hotel pakai biaya sendiri), pesawat, dan alhamdulilah saya dibiayai penuh setiap ikut acara.

Beuh, ngerasa kalau itu semua saya dapat karena membantu orang-orang disabilitas itu… alhamdulillah ya rezeki Baim!

Plus, saya mendapatkan kesempatan untuk ikut event internasional. Saya berangkat ke Singapura, terpilih menjadi Australia Awards Alumni…semua karena peran saya di DNetwork. Tuhan memberikan nikmat-Nya bertubi tubi setelah sekian panjang proses pembangunan yang menguras darah dan air mata (lebay).

Hari, bulan, dan tahun berganti. Gak terasa, sudah nyaris lima tahun saya mengabdi membangun Dnetwork. Network sudah kece, fasilitas oke, kantor keren, dapat gaji professional, plus kerjaan yang saya cintai. Kurang apalagi cobaaak!

 

Saat Suri mengikuti Summer University di Melbourne dan New Zealand untuk tema

“Youth with Disabilities shape the future”

 

Eh…tahu-tahunya, suatu hari, saya dihadapkan pada pilihan yang cukup sulit aku. Memilih keluar dan membangun social enterprise sendiri, atau bertahan tetap membangun Dnetwork. Benar-benar suatu keputusan yang tidak mudah yang harus saya buat dan amat menguras air mata saya selama berjam-jam. Sampai-sampai saya kena migrain dan bengkak mata kayak disengat tawon!

Dan, akhirnya, saya putuskan untuk keluar dari zona nyaman. Seriously, ninggalin semua yang sudah saya bangun sejak awal, network yang bagus, tempat kerja yang luar biasa, dan orang-orang di tempat kerja yang baik-baik. Tentu bukan keputusan yang main-main. Namun, tetap saja saya ambil keputusan itu demi membangun social enterprise yang saya cita-citakan. Bersama tiga orang teman, saya bergabung membangun social enterprise yang bernama Diffago. Platform ini memberikan layanan one-stop untuk membantu isu-isu disabilitas. Dana awal kami gak banyak. Bahkan cukup aja enggak. LOL. Tapi malah tetap aja maju , saya emang nekad banget! -__-“

Entah kenapa, sayamemilih jalan ini. Di bidang yang mungkin sebagian orang tidak melihat itu sebagai lahan yang bisa buat kita “kaya” atau sebagian memandang “oooh yayasan; berapa gajinya?”. Well, memang hidup perlu uang. Tapi, pengen banget rasanya kalau aku jelasin tentang social enterprise ini kepada mereka. Saya ingin mereka juga melihat dari sisi yang lain selain uang dan juga bukan berpikir itu pekerjaan yang ecek-ecek.

Saya ingin melakukan pekerjaan yang gak cuma bagus secara material, tapi juga memberikan manfaat bagi orang-orang yang benar-benar membutuhkan. Terdengar klasik memang. Tapi itulah saya. Dan, saya percaya ini akan sukses. Sukses membantu orang-orang disabilitas; sukses membuat perubahan yang positif; sukses memberikan nafkah bagi diri sendiri dan tim internal Diffago secara amat layak. Saya tahu pasti ada prosesnya. Entah panjang atau sebentar, tapi, sekali lagi aku percaya ini akan sangat berhasil :)

Jadi, mohon doanya juga yah, meskipun kita gak saling kenal sebelumnya, tapi tetap saya minta doanya :D

Penulis: Ni Komang Ayu Suriani
Editor: Ala

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *