Silent Battle Against Vaginismus

Ilustrasi dari Pinterest

 

Terhitung empat tahun sudah aku menjalani rumah tangga dengan suami. Selama itu pula, kami belum memiliki keturunan. Terhalang LDR dan kesibukan studi lanjut menjadi alasan utama kami menunda memiliki keturunan. Hingga, pada awal 2018, akhirnya tekad kami bulat untuk lebih fokus dalam program kehamilan.

Kami datang ke salah satu klinik fertilitas di Bandung untuk pemeriksaan organ reproduksi kami berdua. Dari hasil pemeriksaan, kami berdua sehat secara reproduksi. Namun, pada serangkaian pemeriksaan yang melibatkan USG (ultrasonografi) transvaginal dan HSG (histerosalpingografi), walaupun kedua prosedur bisa berjalan dengan baik, saya merintih kesakitan ketika proses berlangsung. Dari situlah saya menyadari adanya keganjilan pada vagina saya.

Karena kecurigaan yang semakin dalam, saya mencari-cari informasi di dunia maya, kemudian saya menemukan kondisi yang disebut vaginismus. Untuk memastikan apakah benar sama mengalami kondisi ini, saya dirujuk untuk konsultasi ke salah satu dokter kandungan di Bandung. Berdasarkan hasil pemeriksaan pun, saya didiagnosis vaginismus dengan tingkat keparahan yang cukup tinggi. Tidak hanya terlihat dari ketidakmampuan untuk penetrasi, tapi juga dari ketegangan otot-otot paha ketika penetrasi akan berlangsung dan dari refleks saya mengangkat bokong.

Vaginismus sendiri adalah kaku otot vagina yang memungkinkan penetrasi ke dalam vagina tidak berhasil. Dalam hal ini, bisa penetrasi alat kedokteran seperti alat USG, spekulum, dan juga penetrasi oleh penis. Jika pun penetrasi dapat dilakukan, penderita vaginismus akan merasakan sakit yang luar biasa.

Saya tidak membohongi diri bahwa saya merasa sedih ketika saya mendengar diagnosis tersebut. Seolah saya ini bukan perempuan yang sempurna karena tidak seperti perempuan-perempuan lain. Terlebih, mimpi untuk memiliki keturunan harus tertunda. Jelas saja, penetrasi yang tidak memungkinkan membuat kemungkinan hamil pun rendah. Memang ada kasus hamil dengan vaginismus, tetapi kasus tersebut sangat jarang.

Masih di ruang pemeriksaan, dokter tersebut pun menjelaskan bahwa vaginismus sangat bisa disembuhkan. Salah satu penanganan yang bisa saya jalani adalah prosedur dilatasi berbantu yang hanya bisa dilakukan di rumah sakit di mana dokter tersebut bekerja. Akan tetapi, harapan saya untuk sembuh seketika sirna ketika mengetahui bahwa biaya yang dibutuhkan tidaklah murah. Uang memang dapat diusahakan.

Beruntung saya menemukan grup Whatsapp vaginismus melalui teman saya. Di grup ini yang mana semua anggotanya adalah penderita vaginismus saling berbagi tips, semangat, dan support. Banyak di antara mereka yang telah sembuh tanpa melalui prosedur apa pun. Ini meningkatkan harapan saya untuk sembuh.

 

Tugas pertama yang harus dilakukan oleh penderita vaginismus adalah membangun keberanian dan kepercayaan diri. Salah satu keberanian itu digunakan untuk melihat dan memegang vagina sendiri. Banyak penderita yang merasa takut untuk hanya melihat vagina.

 

Saya sendiri tidak pernah melihat vagina saya sendiri karena ada rasa takut. Saya kemudian memberanikan diri dan ternyata tidak semenakutkan seperti yang saya bayangkan sebelumnya.

Tugas selanjutnya adalah memulai latihan dilatasi mandiri dengan cara memasukkan benda asing. Prinsip dari latihan dilatasi adalah untuk membuat otot vagina terbiasa akan adanya benda asing yang masuk. Benda asing yang dimasukkan bisa jari kita sendiri atau jari suami atau benda lain. Dimulai dari ukuran terkecil misalnya satu jari lalu secara bertahap meningkat dari segi ukuran menjadi dua jari dan seterusnya. Penggunaan pelumas sangat membantu untuk memudahkan jari atau benda lain masuk ke dalam vagina.

Singkat cerita, saya mulai latihan dilatasi dengan satu jari dan meningkat menjadi dua jari dalam waktu 2,5 minggu. Dua minggu sesudahnya, saya sudah bisa dilatasi dengan tiga jari. Selama latihan, saya mencatat semua progres dan kendala dalam jurnal vaginismus saya untuk membantu saya me-review kembali hasil latihan saya selama ini.

Selama latihan, tidak jarang saya merasakan ngilu. Namun, hal itu memang wajar karena otot yang sebelumnya kaku mulai dipaksa untuk lebih fleksibel menerima penetrasi benda asing. Lama-kelamaan pun rasa ngilu itu mulai berkurang seiring semakin rutinnya latihan.

Setelah kurang lebih latihan tiga minggu latihan menggunakan timun, akhirnya saya bisa melakukan hubungan suami istri dengan suami saya. Karena ukuran penis suami lebih besar dari benda yang saya gunakan selama ini, tentu ngilu saya rasakan. Tapi di balik itu, rasa bahagia lebih saya rasakan. Meskipun penetrasi hanya bisa dilakukan pada posisi tertentu dan saya masih harus tetap rutin latihan agar penetrasi dapat lebih lancar dilakukan, bagi saya, ini merupakan suatu pencapaian yang luar biasa. Latihan yang saya lakukan selama ini disertai doa dan juga dukungan dari suami akhirnya membuahkan hasil.

Saya termasuk perempuan yang beruntung. Selama ini suami saya mendukung dan tidak menuntut saya untuk dapat berhubungan suami istri. Banyak penderita vaginismus yang memiliki hubungan yang dingin dengan suaminya. Ada yang pisah ranjang, ada yang sampai siap untuk dipoligami, ada juga suami yang ditawarkan wanita lain oleh pihak keluarga, dan sampai ada pula yang bercerai. Hal ini disebabkan karena sang istri merasa dirinya tidak sempurna, merasa cacat, dan tidak becus menjadi istri karena tidak bisa memenuhi kewajibannya sebagai istri. Di lain pihak, suami merasa tidak sabar untuk dapat mengkonsumasi pernikahan, merasa egonya tersakiti, hingga kejantanannya dipertanyakan.

Vaginismus belum diketahui pasti penyebabnya sehingga kondisi ini bisa menyerang wanita manapun. Maka dari itu, melalui ceritaperempuan.id, saya ingin berbagi cerita saya menghadapi vaginismus ini sehingga bagi yang perempuan yang mengalami hal sama seperti saya, Anda tidak perlu menyalahkan diri sendiri dengan kondisi ini. Mulailah Anda tanamkan pikiran positif dalam diri Anda bahwa keadaan ini sama sekali bukan salah Anda. Juga tanamkan kepercayaan diri bahwa kondisi ini sangat bisa sembuh, tergantung dari keinginan Anda untuk sembuh dan kerutinan Anda untuk latihan dilatasi mandiri.

Tips lain untuk wanita yang mengalami vaginismus. Tidak semua dokter kandungan atau praktisi medis mengetahui akan kondisi ini. Jadi bukanlah tidak mungkin jika dokter akan menganggap Anda mengada-ada atau berpikiran bahwa Anda tidak rileks. Jika pun Anda konsul ke psikolog atau psikiater untuk mengurangi ketakutan dan kecemasan Anda bahkan hingga diresepi obat penenang, hal ini tidak akan membuat masalah tuntas.

 

Memang benar, biasanya ketakutan karena rasa sakit akan hubungan suami istri akan selalu menyertai, tapi masalah utama dari kondisi ini adalah kaku otot. Tapi percayalah, bahwa otot bisa dilatih. Latihan dilatasi adalah kunci kesembuhan. Jika Anda juga tidak menemukan dokter yang mengerti Anda, jangan khawatir, lihatlah tips-tips dilatasi di dunia maya atau mencari support group untuk vaginismus. Anda bisa memulai dilatasi Anda sendiri meskipun tanpa arahan tenaga profesional. Yang perlu Anda siapkan adalah keberanian, keyakinan, dan konsistensi. Kesembuhan ada melalui tangan Anda sendiri.

Dan bagi para suami, berhentilah menyalahkan istri Anda. Kondisi ini di luar kemauan mereka. Dukunglah dan bantulah mereka untuk dapat sembuh dari penyakitnya. Jika merasa rumah tangga sudah berada di ujung tanduk, ingatlah kembali janji suci pernikahan kalian bahwa kalian akan tetap bersama dalam suka maupun duka.

Bagi saya, kondisi ini membuat saya merasa istimewa. Yes, I feel special! Karena, saya merasa sedang diuji untuk menaikkan level keimanan saya secara personal dan level keharmonisan rumah tangga saya bersama suami.

Penulis: Anonimus
Editor: Ala

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *