Tentang Mimpi: Pijaran Api yang Menyala di Hati

 

Menulis dan membaca adalah hobi saya dari kecil. Pernah tinggal di (hampir) tengah hutan yang tidak ada tetangga membuat saya kesepian, apalagi saat itu adik saya belum lahir. Sejak kecil, saya sudah melahap berbagai buku. Ketika bosan karena semua buku anak sudah dibaca, diam-diam koran, majalah, dan buku orang tua saya menjadi sasaran. Saya juga hobi makan, sehingga buku resep merupakan salah satu favorit. Hal yang aneh adalah ketika saya membaca buku resep dan melihat gambarnya, di otak saya bisa menduplikasi bayangan rasa yang tercipta. Sehingga,dengan melihat gambar makanan saja kadang saya bisa membayangkan rasa makanan tersebut.

Waktu saya bersekolah merupakan hal yang saya banggakan, karena saya tahu betapa beratnya perjuangan yang saya alami. Menjadi pindahan anak baru di SD Jakarta dari Batam pastinya kadang menjadi sasaran bully, tetapi saya mencoba bertahan dengan prestasi. Menjalani tingkat SMP saya habiskan hanya dalam waktu 2 tahun. Akhirnya masuk ke SMA unggulan Jakarta dan berlanjut kuliah di salah satu institut teknik negeri terbaik di Indonesia.

Untuk mencapai sekolah yang diinginkan, pastinya waktu belajar ekstra. Orang tua saya yang menyuruh les tambahan, padahal sekolah pulang sore sudah membuat mengantuk, dan saya merasa saya belajar sendiri juga sebenarnya sudah cukup. Tidak ada yang namanya hari libur main dengan teman-teman seperti yang sering terlihat di sinetron anak muda saat itu. Saya jenuh, saya bosan, saya ingin bersenang-senang! Anyway, sebelumnya saya mau berterima kasih dulu dengan orang tua yang sudah mengeluarkan biaya dan tenaga mengantarkan saya sampai di sini.

Kuliah saya jurusan teknik sipil, yang sebenarnya bukan passion saya. Pada akhir masa SMA, saya hanya tahu harus masuk ke institut idaman, dan untuk jurusannya saya pilih di detik-detik terakhir pendaftaran SPMB. Saya berhasil lulus kuliah tetapi ada yang hilang di hati saya. Sebenarnya,saya ingin berkuliah di jurusan komunikasi, tetapi orangtua saya melarang. At the end, saya bersyukur karena selama kuliah juga sempat menyalurkan hobi saya sebagai penulis majalah kampus.

Mencari pekerjaan bukan perkara yang mudah, apalagi saya tidak suka bidang saya. Saya tidak mau bekerja di kontraktor, teringat masalah pelecehan minor yang saya alami waktu kerja praktek di mana di lokasi proyek memiliki mayoritas laki-laki. Saya trauma, apalagi melihat jam kerjanya yang sampai dini hari. Tidak ada yang menjamin keselamatan saya selain saya harus menjaga diri sendiri.

Dengan tekad dan doa, alhamdulillah saya pun diterima bekerja di Bank BUMN. Hal yang paling menyenangkan dari pekerjaan saya adalah saya bekerja di balik meja. Jobdesc-nya juga merupakan hobi saya, menulis. Tetapi bedanya saya harus menulis dan menganalisis prospek perusahaan yang akan dibiayai bank, sambil mewawancarai pemiliknya. Akhirnya, passion saya dalam menulis bisa disalurkan kembali di tempat yang tidak terduga.

Saat kerja di bank

Akhirnya waktu telah tiba, dan saya harus resign. Hati saya mulai sedikit memberontak. Saya tidak mau seperti ini, saya ingin menjadi wanita karir. Buat apa saya susah-susah bersekolah tinggi kalau hanya berujung di rumah? Tetapi karena faktor sudah waktunya menikah, saya mengalah, sambil berpikir mungkin memang kodrat menjadi wanita untuk tinggal di rumah.

Kalau menurut agama saya, rejeki itu di tangan Allah, tidak akan tertukar. Dan saya akui itu memang benar, saya tidak merasa kekurangan walaupun hanya bergantung dari gaji suami. Menjadi ibu rumah tangga mengubah gaya hidup saya. Yang biasanya lima hari berada di kantor dan senang-senang di weekend, menjadi setiap hari ada waktu luang. Awalnya memang menyenangkan karena akhirnya lepas dari jeratan kesibukan, tetapi yang namanya manusia akhirnya bosan. Saya pernah mencoba bekerja lagi, tetapi memutuskanuntuk menolaknyaketika baru saja interview. Dan kebetulan juga, kami yang saat itu tinggal di Surabaya, ternyata harus pindah ke Pekanbaru.

Saya pun melanjutkan perjalanan saya untuk mencari apa yang bisa mengisi waktu saya sehari-hari. Menulis blog sudah saya lakukan, melanjutkan novel yang dibuat dari SMA juga sudah dicoba, tetapi semuanya stuck. Saya lalu mencari kesenangan baru, yaitu kuliner. Sebenarnya sejak saya bekerja hampir setiap hari saya jajan di kafe. Sudah pasti pengeluaran saya mayoritas di makanan. Tetapi sejak saya menjadi ibu rumah tangga, tentunya mengelola pengeluaran harus lebih bijaksana. Saya belajar memasak sendiri. Setiap hari menu di rumah berubah, dan kadang suami menjadi kelinci percobaan saya.

Hingga suatu hari saya melihat sebuah iklan mengenai freelance writer di sebuah startup kuliner ternama di Pekanbaru. Saya iseng mendaftar karena memang ada waktu luang, apalagi saya masih belum dikaruniai anak. Ternyata saya diterima! Dan itulah awal mula saya menjadi wartawan. Memang bukan pekerjaan menjadi pegawai tetap, tetapi lumayan membuat hati saya gembira. Mimpi menjadi penulis terbuka lagi jalannya, dan much better, wartawan kuliner! Ibaratnya sambil berenang minum air, dua hobi langsung tersalurkan.

Pekerjaan saya sekarang juga tidak melulu masalah makanan, tetapi juga lifestyle. Kadang membuat artikel tentang kota Pekanbaru. Hal yang paling menyenangkan adalah mendapat undangan grand opening suatu tempat, kadang saya dapat menikmati lebih dahulu dari orang lain dengan berbekal undangan sebagai jurnalis. Suami saya juga tidak keberatan karena pekerjaannya masih freelance, sehingga status utama masih menjadi ibu rumah tangga. Lumayan sekali bisa dapat uang jajan tambahan sendiri tetapi masih sempat mengurus rumah.

Jika saya melihat lagi perjalanan hidup saya, seperti jalan yang memutar dan tidak jelas tujuannya. Setiap hari tidak tahu akan di bawa ke mana kaki ini melangkah. Dan mendengarkan saran dari orang lain juga bukan hal yang buruk. Kadang dengan kita melakukan kompromi malah membawa kita ke hal yang paling baik. Saya tidak pernah menyangka bahwa hobi menulis dan kulineranbisa menjadi pekerjaan “profesional” saya, bagaikan mimpi siang bolong seorang sarjana teknik.

Tetaplah jaga mimpimu, jangan pernah api tersebut mati, walaupun masih berbentuk pijaran kecil. Walaupun badai menerpa, kita lebih kuat dari yang kita duga. Perjalanan nasib pun tidak selamanya buruk, tetap berenang dengan tenang mengikuti arus.

Mungkin di situ kita melihat ujung pelangi (^_^)

Penulis: Ratna Kirana
Editor: Ala

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *