I’m Healing; I’m Rediscovering Myself; I’m Starting Over

 

“Whether you are working mom, stay at home mom or work at home mom, you will end up working. Most of the time is in a very exhausted way.”

Saya percaya pilihan menjadi ibu rumah tangga atau ibu pekerja sangat erat kaitannya dengan pengalaman masa kecil serta bagaimana kita melihat pengalaman itu. Ada seorang teman yang bercerita kalau dia ingin sekali menjadi ibu bekerja ketika besar, karena masa kecilnya dipenuhi dengan imaji seorang ibu yang sudah wangi dan cantik pada pagi hari, serta di sisi lain mampu menyiapkan sarapan untuk seluruh anggota keluarga setiap hari. Untuk dia, ibunya seorang super mom banget. Sedangkan saya yang memiliki pengalaman berbeda, ketika mendengar itu saya berpikir:

 

“Bagaimana mungkin saya bisa bekerja dan memiliki anak, jika ibu saya yang full IRT saja sudah memberikan begitu banyak luka? Jika sering kali yang ibu keluhkan adalah bahwa dia capek mengurus saya?”

 

Ibu saya adalah ibu rumah tangga dengan empat anak. Saya adalah anak paling bungsu yang berjarak delapan tahun dengan kakak nomor tiga. Saat saya kecil, kata-kata yang sering diucapkan oleh ibu adalah “anak jangan dimanja, nanti nunjak”. Sayangnya, itu menjadi alasan baginya untuk melakukan verbal and physical abuse setiap hari. Hal itu membuat saya tumbuh dengan perasaan tidak diinginkan dan tidak dicintai. Saya tumbuh menjadi pribadi yang socially awkward dan berulang kali mengalami masalah dalam pergaulan sosial, karena saya tidak memiliki referensi bagaimana cara bersosialisasi yang baik dengan orang lain. Saat itu, tidak ada kehadiran tempat yang mampu memberikan perasaan nyaman dan diterima. Masa kecil saya pun diisi dengan harapan untuk meninggalkan rumah ketika dewasa.

Ketika kuliah strata satu, saya memperoleh tugas untuk membahas sebuah iklan. Saya menemukan sebuah iklan tentang kekerasan pada anak dalam rumah tangga. Iklan itu membuat saya melihat kembali diri saya yang ketakutan, kesepian, dan rasa tidak diterima saat kecil. Hal inilah yang kemudian membuat saya takut untuk memiliki anak, karena saya takut akan mewariskan luka batin dan merusak anak saya seperti yang telah dilakukan ibu. Dalam hidup saya, saya hanya memiliki satu ibu. Bisakah saya menjadi ibu yang lain, jika hanya ada satu referensi bagi saya?

 

Semakin dewasa, pikiran menjadi seorang ibu adalah momok yang menakutkan.

Ketika saya menjadi ibu, saya berusaha membekali diri saya dengan berbagai buku parenting. Kalau ada yang bilang,life doesn’t come with a manual, it comes with a mother”, saya berusaha menolak hal tersebut. Pengalaman saya mengajarkan bahwa ibu bukan “safe place” untuk saya. Buku-buku itulah yang saya harapkan mampu menjadi “safe place” yang mampu melindungi anak saya dari saya.Nyatanya, buku-buku tersebut kerap bertentangan satu sama lain atau terlalu men-generalisasi segala sesuatu. Saya malah melihat ada hal-hal yang menyakiti hati para ibu muda yang berjibaku dengan persoalan-personalnya.

Ada seorang pakar ilmu pengasuhan anak yang sangat saklek bahwa seorang ibu harus mengurus anaknya hingga kurun waktu tertentu, anak baru boleh sekolah lima tahun ke atas, dst…dst. Saya sadar hal ini sejalan dengan ilmu psikologi dan tumbuh kembang anak serta selaras dengan ajaran agama yang saya anut, tapi toh dunia tidak sehitam putih itu. Dan ketika hal tersebut tercetak hitam di atas putih, yang seringnya muncul adalah penghakiman antara para ibu.

Saya pun mempertanyakan banyak hal dan berusaha melihatnya dari perspektif lain. Misalnya, keharusan bahwa anak mesti sekolah di atas lima tahun agar ikatan dengan orang tua terjalin sempurna. Bagaimana jika keluarga tersebut tinggal di area yang tidak memiliki fasilitas yang memadai untuk bermain bagi anak? Dan, pada akhirnya anak diasuh dengan gadget karena ketiadaan fasilitas tersebut dan sibuknya ibu mengurus rumah tangga?

Apakah kesaklekan tersebut tetap relevan?

 

Belum lagi tentang ibu yang diharuskan mengurus anak hingga usia tujuh tahun. Akankah hal itu menciptakan perasaan bersalah bagi para ibu bekerja? Padahal, yang menurut saya, menjadi ibu rumah tangga adalah sebuah kemewahan yang tak semua perempuan bisa akses. Bagaimana kalau suaminya meninggal atau mereka bercerai? Bagaimana kalau mereka berada dalam sandwich generation yang diamanahkan orang tua yang sakit-sakitan dan adik-adik yang belum selesai sekolah? Atau… kembali ke apa yang saya sempat tuturkan. Bagaimana jika sang ibu memiliki imaji indah pada masa kecilnya tentang ibu yang bekerja dan ketika besar ingin menjadi ibu pekerja?

Pertanyaan-pertanyaan itu seolah tak ada hentinya bergumul dalam diri saya.

Awalnya saya memilih menjadi ibu rumah tangga karena saya ingin memutus rantai trauma ke anak saya. Nyatanya, hal itu memberikan tekanan emosional yang besar bagi saya. Pada satu titik, saya sadar bahwa poinnya bukan memutus rantai trauma, tapi secara tahap demi tahap mengurangi kadar trauma itu sendiri. Misalnya, jika luka batin masa kecil saya berada di nomor delapan, saya berharap anak saya bisa di titik tiga saja atau bahkan kurang (amiiin pakai banget).

Dalam kasus saya, saya sangat takut untuk bekerja dari rumah karena bekerja artinya energi ekstra, dan energi ekstra berarti kelelahan ekstra sehingga mengeluarkan sisi “mama monster” dalam diri saya. Sebelumnya,saya beberapa kali mencoba untuk bekerja. Saya malah mengalami kelelahan secara fisik dan mental yang luar biasa; sehingga, tidak memiliki cukup kewarasan untuk mengurus seorang anak kecil yang masih dalam tahap perkembangan.

Setelah berdiskusi dengan beberapa teman dan membaca beberapa buku, saya pun menyadari bahwa yang paling penting adalah manajemen waktu dan harapan. Bagaimana dalam satu hari saya bisa bangun lebih pagi dibanding anak dan suami, sehingga saya mampu menyelesaikan beberapa hal. Melalui proses ini, saya juga menyadari bahwa waktu pagi adalah waktu paling produktif bagi saya. Setelah melakukan beberapa rutinitas pagi, saya bisa fokus bekerja hingga satu jam.Namun, tetap saja sebagai seorang ibu dengan anak berusia tiga tahun, anak adalah pertama dan utama. Hal-hal seperti anak sakit, tidak nafsu makan, menolak tidur siang, dan sejuta tantangan lainnya tentu merupakan hal-hal yang tidak terelakkan. Oleh sebab itu, saya harus mengatur harapan saya (manajemen harapan).

“What would you do if you weren’t afraid?” – Sheryl Sandberg

Beberapa waktu lalu, saya berjumpa dengan pertanyaan ini. Saya pun jadi berpikir, “Apa ya yang akan saya lakukan bila saya tidak memiliki ketakutan bahwa saya suatu hari bisa mewariskan luka batin ini? Akan menjadi ibu seperti apakah saya?”

Dan pada saat itulah, saya berterima kasih kepada luka batin yang ada;berterima kasih kepada ibu saya.

Karena, jika tidak, mungkin saya akan menjadi ibu yang “take everything for granted”. Saya tidak akan menyempatkan diri membaca berbagai macam buku bagaimana cara menjadi orang tua, buku tentang nutrisi, perkembangan, kesehatan,dan cara berkomunikasi dengan anak. Jika tanpa luka itu, mungkin saya akan mengambil jalan yang lain.

Dan, di antara semua pilihan yang telah saya ambil, memilih untuk menjadi ibu rumah tangga adalah salah satu pilihan terbaik yang saya syukuri.

Saya percaya bahwa pilihan ibu rumah tangga, ibu pekerja, atau ibu rumah tangga yang bekerja di rumah adalah pilihan yang sangat personal. Sebagian besar pilihan tersebut dilatarbelakangi oleh pengalaman seseorang dan bagaimana dia melihat pengalaman tersebut. Semua pilihan memiliki kelebihan dan harga yang mesti dibayar.

Maka, apapun pilihannya, yang penting adalah ibu menjadi sosok yang bahagia. Ibu  yang bahagia mampu menghadirkan generasi penerus yang sehat mental dan suami yang bahagia juga. Sehingga, untuk para ibu, penting sekali belajar untuk membahagiakan diri sendiri.

Belajar untuk berdialog dengan diri sendiri.

Belajar untuk mencari pertolongan.

Belajar untuk menyembuhkan luka batin.

Belajar untuk bersyukur (terlebih di antara imaji kesempurnaan yang ditawarkansosial media).

Belajar untuk lebih menyayangi diri sendiri.

Belajar untuk tidak menghakimi sesama ibu; setiap ibu memiliki tantangannya masing-masing.

Belajar untuk membuka diri dengan orang lain dan membangun support system bersama para ibu lain sehingga kita tidak merasa sendirian; salah satunya, dengan menghadirkan pembicaraan-pembicaraan jujur karena yang saya rasakan adalah, kehidupan menjadi ibu merupakan kehidupan yang sepi.

 

Yuk, mari kita saling merawat luka dan hadir menopang satu sama lain.

Bandung, 8-26 Juni 2018

Nur Aini

P.S. Tulisan ini adalah salah satu perjalanan hati saya untuk memaafkan ibu dan diri saya. Sebuah proses yang pelan-pelan menggeser pola pikir dari “I’m damaged, I’m broken” menjadi “I’m healing, I’m rediscovering myself, I’m starting over”.

 

Penulis: Nur Aini
Editor : Ala

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *