Ketika Melepaskan Lebih Baik daripada Bertahan

Ilustrasi dari Pinterest

 

Aku bertemu dengannya di sela-sela rasa kesendirian, sepi dan sisa luka dengan cintaku yang terdahulu. Yang kutemui waktu itu hanya cinta yang tak terbalas, ciuman yang kasual, hubungan tak disengaja dengan kekasih orang atau pertemuan dengan lelaki anti komitmen. Lalu, ia datang dengan berjuta-juta kebalikan dari semua yang pernah kutemui. Semacam menawarkan perhatian sekaligus kepastian.

Ia datang dengan begitu romantis dan perhatian yang berlebih. Tapi mungkin kadang penampilan menipu. Setelah kami “jadian”, minggu demi minggu setelahnya berubah menjadi neraka. Pertengkaran tidak kunjung usai. Aku merasa ada yang salah, tapi aku tidak tahu apa. Setiap kali bertengkar, pacarku selalu menuduhku menjadi penyebab pertengkaran kami. Katanya, aku sering menggunakan kata-kata yang menyakitkan kepadanya yang membuatnya balik mengatakan kata kasar kepadaku. Aku pernah disebut banyak lagak, sok cantik, merasa banyak fans, memperlakukannya seperti babu, tidak sopan. Bahkan ia pernah menghina pekerjaan driver taksi online – pekerjaan yang mana ayahku juga melakukannya pada waktu luang – dan ia juga tahu persis hal tersebut.

Di lain waktu, ia menyebutku jablay hanya karena aku tidak sengaja berada dalam satu acara yang sama dengan lelaki yang pernah mendekatiku yang kebetulan satu kantor. Ia mengancam akan mencelakai lelaki tersebut apabila aku masih berhubungan dengannya, bahkan secara profesional.

Perlahan tapi pasti, dia mengontrol hidupku. Ia mulai sering menginap di tempat tinggalku. Tanpa sadar, kami mulai tinggal bersama. Tentu saja alasannya banyak – keluarga yang tidak harmonis, posisinya yang pengangguran hingga rumah yang perlu direnovasi. Aku – yang sangat mudah berempati pada orang lain – tak tega mengatakan tidak. Pada akhirnya, aku harus berbagi ruang dengan pacarku itu meski hati ini ingin berteriak.

Waktu terus berlalu. Ada saat-saat dimana akhirnya aku tahu bahwa dia membaca seluruh chat di ponselku tanpa seizinku. Tetapi, ketika aku komplain, jawabnya, “Kalau tidak ada apa-apa, kenapa kamu harus menutupi?” Aku tidak punya privasi. Beberapa minggu berselang dan lama kelamaan mengecek ponselku adalah kebiasaannya setiap aku pulang kantor.

Pria yang kusebut kekasih itu mulai menghentikanku untuk berhubungan dengan teman-teman dan keluargaku. Ia mulai mempertanyakan ketika aku pergi keluar dengan teman-temanku. Dia bahkan mulai menjelek-jelekkan sahabat dan teman kantorku agar aku menjauh dari mereka. Aku mulai tidak makan siang lagi bersama rekan kantorku. Aku terpaksa melakukannya…. Aku hanya tidak ingin sepulang kerja diinterogasi karena aku pergi dengan mereka. Perjalanan dinas ke luar kota menjadi hal yang sangat membebani. Aku harus selalu mengabarinya setiap jam dan dengan siapa aku bepergian. Bahkan, ketika aku ingin bertemu dengan sahabatku, dia menyecar apa yang akan kuceritakan pada temanku itu.

Kadang-kadang aku pikir, apakah aku sedang menjalin hubungan dengan seseorang, ataukah aku berada dalam lingkaran Orde Baru? Aku hampir tidak punya hak suara. Aku ingin pulang….

Tapi pulang ke kota asalku pun aku tidak sanggup. Aku tidak sanggup menghadapi ayah dan ibuku dengan emosi yang meluap-luap. Aku tidak ingin membebani mereka dengan semua masalah yang kuderita. Perlahan pula aku jauh dari mereka. Aku tidak punya teman untuk bercerita, karena hampir semua hubunganku dengan dunia luar  tertutup. Aku hampir tidak bisa bernafas. Sesak dan tidak bisa berteriak.

Ketika aku melawan, ia mulai menggunakan kata-kata kasar dan memukul benda-benda yang ada di sekitarnya. Ia menanyakan, siapa saja backingan-ku sehingga aku berani bersikap kurang ajar. Lalu, ia mengintimidasiku dengan menceritakan bahwa ia memiliki backing-an yang lebih kuat dariku. Kemudian, ia menyebut mulutku tidak terdidik. Ia bilang aku tidak tahu cara berdebat yang baik tanpa emosi. Padahal, sering kali ketika kami bertengkar, dia yang mulai berkata kasar.

Satu-satunya kebebasanku adalah ketika aku berhadapan dengan komputerku di kantor. Aku menemukan bahwa aku berada di dalam hubungan beracun saat aku berselancar di dunia maya. Pacarku ternyata melakukan kekerasan secara verbal dan emosional kepadaku. Kemudian entah mengapa, aku tergerak untuk mencari pertolongan. Aku menelepon teman dekatku. Ternyata ia pernah mengalami hal yang sama. Ia mendorongku untuk berani keluar dari lubang hitam ini.  Jujur aku ketakutan karena terakhir kali kami bertengkar dan aku minta putus, ia menatapku dengan sinis dan berkata, “Akan kuhabisi kamu.”

Oh, Tuhan.

Namun ternyata bercerita dengan orang lain ternyata begitu melegakan. Meskipun awalnya terbata-bata, beberapa kali tercekat dan harus menahan air mata, segala ketakutan, keluh kesah dan penyesalan berubah menjadi harapan. Aku juga sadar bahwa aku tidak bisa tinggal diam. Aku tidak akan membiarkan hidupku hancur begitu saja karena aku menjalin hubungan dengan orang yang salah. Berkat bantuan salah satu temanku, aku menyusun rencana agar bisa keluar dari hubungan ini.

Hari itu akhirnya tiba. Setelah beberapa kali aku minta putus dan tidak berhasil, kali ini aku mencoba lagi peruntunganku. Kali ini akan ku coba sekuat tenaga, dan tidak lupa berdoa. “Aku ingin kita berpisah,” ujarku. Pacarku bertanya, kenapa? Aku menjelaskan ketidaksukaanku dengan sikapnya yang kasar.

Tapi, lagi-lagi, ia bersikap seakan dirinya adalah korban. “Aku melakukan hal itu karena kamu terlebih dahulu menyerangku dengan kata-kata yang jahat. Kalau kamu tidak begitu, tentu tidak akan ada kata kasar keluar dari mulutku,” begitu ujarnya.

Lalu kami terlibat dalam perdebatan sengit. Ia menyerangku dengan semua kelemahanku. Ia mulai mengarang-ngarang sebuah realita yang tidak nyata. Ia menuduhku sebagai wanita penggoda. Lalu, dalam hitungan detik, ia mulai memohon belas kasihanku. “Aku tidak punya siapa-siapa lagi. Aku cuma punya kamu,” rayunya.

Aku hampir saja jatuh lagi. Namun, aku bersikukuh pada pendirianku. Yang terjadi kemudian adalah ia yang mulai menyudutkanku kembali. Hingga pada akhirnya ia pun berkata, “Kamu sudah punya lelaki lain kan?” Berkali-kali aku berkatatidak, tapi ia tidak percaya. Padahal, selama setengah tahun kami bersama, hatiku selalu kosong. Kepercayaan, rasa empati, bahkan keyakinanku kepada manusia rasanya hancur.

Setelah itu, ia mendorong tubuhku ke tembok dengan kasar dan aku pun menangis. Dalam tangisku, aku berdoa. Tuhan, berikan aku kekuatan dan jalan keluar. Aku merasa aku berada di titik terlemahku saat itu. Aku belum pernah merasa setidakberdaya itu. Namun,entah ada kekuatan dari mana, aku punya keberanian untuk mengemasi barang-barangku. Aku bilang aku akan pergi.

Ia menahanku. Dengan amarah yang menyala-nyala, katanya, “Biar aku yang pergi.”

Mungkin itu sepuluh menit terlama dalam hidupku. Sambil berkemas ia masih menghujaniku dengan segala tuduhan dan kata-kata yang tidak pantas. Setelah mobilnya meninggalkan tempat tinggalku, aku menangis tidak berhenti selama satu jam. Entah menangis apa.

Kini, lima bulan berlalu. Hidupku sudah lebih tenang. Semenjak kejadian ia pergi dari tempat tinggalku, kami tidak pernah berhubungan lagi. Sekali waktu ia berusaha menghubungiku, tapi tidak kugubris. Aku bersiteguh untuk tidak membuka hubungan lagi dengannya.

Masa-masa ini memang sulit. Kenangan buruk kadang muncul tanpa permisi.Memaafkan diri sendiri pun terkadang masih sulit, tetapi setidaknya aku telah berani memutus hubungan paling beracun yang pernah kualami dalam hidupku untuk kebaikanku sendiri.

Yang aku syukuri, dalam hidup ini, aku kembali menghirup udara penuh kebebasan.

Penulis : Diandra Arunika
Editor: Ala

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *