Love the Curls

“Eh, rambut lo tuh asli?”

 

Beberapa kali saya mendapatkan pertanyaan itu kala berkenalan dengan orang baru. Dan, sering kali juga pertanyaan itu menjadi sebuah percakapan pembuka. Mulai dari pertanyaan dari mana asal rambut keriting saya ini, hingga bagaimana cara merawatnya.

 

Diri saya yang dua tahun lalu tidak akan menyangka akan ada di titik di mana saya akan membiarkan rambut keriting saya ini terurai.

 

 

Sampai dua tahun lalu, saya selalu membenci rambut keriting saya. Uniknya, saya tidak lahir dengan rambut keriting. Saya lahir dengan rambut lurus halus yang dapat dilihat di iklan-iklan produk perawatan rambut di televisi. Namun, saat kelas 3 SD, rambut saya perlahan berubah menjadi keriting. Awalnya, tekstur rambut saya tiba-tiba menjadi kering dan sulit sekali untuk disisir. Kemudian, lama-lama, helai demi helai rambut saya berubah keriting.

 

Dimulai pulalah perjuangan saya menghadapi bullying.

 

Tekstur rambut saya yang keriting, kaku, dan kering perlahan menghasilkan berbagi sebutan di antara teman-teman sekelas. “Si Jibrak”, “Si Rambut Singa”, “Si Ijuk”… Ditambah lagi dengan badan saya yang cenderung pendek dan kurus, jadilah saya sering ditertawakan dan dipanggil “Kurus Keriting” dan sebutan-sebutan tidak mengenakkan lain yang bahkan saya sendiri sudah lupa.

 

Semua itu bertambah parah ketika saya duduk di bangku SMP. Waktu itu, saya berdiri di depan kelas untuk presentasi pelajaran biologi. Saya menyadari beberapa teman yang menahan tawa sambil berbisik kepada teman sebangku. Saat istirahat, salah satu dari mereka lewat di depan saya dan berkata dengan suara kencang, “Woi cewek kribo! Berdiri amat sih rambutnya!”

 

Lantas, teman-temannya yang lain tertawa terbahak-bahak sambil meninggalkan kelas dan saya hanya mampu terdiam saking terkejutnya.

 

Sejak saat itu, saya tidak pernah menyukai rambut keriting saya.

 

Saya tidak suka lagi melihat cermin, karena saya merasa rambut keriting saya begitu jelek.

 

Saya begitu jelek.

 

Saya tidak percaya apabila seseorang menyebut saya manis dan cantik.

 

Anggapan bahwa diri saya jelek terus saya bawa hingga kuliah. Pada tahun pertama kuliah, saya begitu takut jika ada yang mengejek rambut keriting ini. Akhirnya, saya memutuskan untuk smoothing dengan alasan (kepada orangtua dan para sahabat) bahwa rambut saya itu susah diatur jika harus berdandan untuk acara formal. Padahal, saya terlalu ketakutan akan di-bully lagi seperti saat SD dan SMP.

 

Saya ingat pulang dari salon dengan hati lega, dan saya puas dengan reaksi teman-teman saya yang menyadari bahwa rambut saya diluruskan. Hampir semua orang berkata, “Wah, kece juga nih rambutnya dilurusin!”

 

Ya, akhirnya saya bisa jadi cantik.

 

Saya pun pede memakai baju yang girly dan lucu; rok atau casual dress (sebelumnya, di lemari saya hanya ada jeans dan t-shirt). Saya makin pede belajar memakai makeup (karena saya merasa wajah saya kelihatan lebih bagus apabila rambut saya lurus). Saya rela menghabiskan uang untuk smoothing setiap enam bulan sekali, atau menghabiskan waktu dengan alat catok supaya rambut saya lurus sempurna. Saya bangun pagi-pagi atau bersiap jauh lebih awal demi kelihatan ‘cantik’ di depan pacar. Bahkan, berkali-kali jari tangan saya terluka karena tak sengaja menyentuh permukaan alat catok. “Tak apalah, yang penting cantik; rambutnya lurus,” itu yang saya ucapkan kepada diri sendiri tiap kali mencatok rambut di depan cermin.

 

Namun, suatu hari, sahabat yang paling dekat dengan saya berkata, “Sebenarnya, pas tahu rambut kamu dilurusin, aku gak setuju, loh. Kayak…bukan kamu gitu.”

 

Malam itu juga, saya menangis di kamar. Bukan karena tersinggung akan apa yang sahabat saya ucapkan, tapi kesal karena dia mengatakan hal yang benar. Saya tidak mengenali sosok saya di depan cermin itu. Seorang perempuan yang bersusah payah kelihatan sempurna. Yang selalu panik apabila rambutnya semakin panjang dan keritingnya mulai terlihat di ujung-ujung.

 

Saya capek berpura-pura punya rambut “asli” yang “lurus” dan “cantik”. Saya merasa bodoh karena mengira diri saya begitu cantik setelah rambut diluruskan, padahal sahabat yang begitu saya sayangi tidak menyukainya. Saya akhirnya menyadari bahwa persepsi cantik yang ada di kepala saya justru membuat saya semakin jauh dengan diri sendiri.

 

Maka, saya putuskan untuk tidak lagi meluruskan rambut. Awalnya begitu sulit. Tiap kali saya bangun dan melihat rambut saya keriting, ada keinginan besar untuk pergi ke salon. Tangan saya gatal untuk menyentuh alat catok. Saya tak henti melirik kiri kanan di tempat umum; takut kalau-kalau ada yang mengomentari rambut saya aneh.

 

Hari di mana saya memotong sisa rambut yang masih lurus adalah hari di mana jantung saya berdebar kencang. Bagaimana jika orang-orang tidak suka rambut saya? Apa saya akan kembali diejek? Pertanyaan-pertanyaan negatif itu bermunculan di kepala saya yang kemudian hanya terbukti salah.

 

Banyak yang terkejut dengan rambut asli saya, tapi semua orang memujinya. Untungnya lagi, berbeda dengan masa SD dan SMP, info bagaimana merawat rambut keriting sudah ada di mana-mana dan orang-orang semakin mengapreasiasi rambut alami. Saya bahkan mendapat kesempatan untuk menjadi pembicara di acara Memelihara Keriting, sebuah wadah yang berfokus kepada identitas diri dan perempuan-perempuan berambut keriting alami.

 

saya dan beberapa teman saat menjadi pembicara di acara Pojok Memelihara Keriting

 

Rambut keriting yang awalnya begitu saya benci sekarang memberikan saya kesempatan untuk berbagi cerita. Memberikan kesempatan untuk saya memberi dukungan untuk para perempuan agar lebih percaya diri (yang tidak harus ada hubungannya dengan fisik ataupun rambut keriting). Tanpa perjuangan saya menerima rambut keriting, saya tidak akan dapat mengerti betapa berharganya mencintai diri sendiri. 

 

Saya pun tidak akan ada di sini sekarang, dikelilingi orang-orang positif yang menerima segala kekurangan maupun kelebihan saya.

 

Penulis: Ala 
Editor: Asih 

 

Catatan Editor:

Ala adalah seorang perempuan manis yang mempunyai studio cerita miliknya sendiri yang ia beri nama Wordshelf. Ala juga merupakan Editor in Chief di ceritaperempuan.id dan merupakan pembawa suara khas ceritaperempuan.id yang selalu teman-teman baca. Di waktu senggangnya ia senang bermain dengan anjing kecil yang baru ia adopsi bernama Bonnie, bermain The Sims atau berbicara sambil minum kopi dengan para sahabat karibnya di Yumaju Coffee

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *