Mencintai Dimulai dari Diri Sendiri

Mungkin tulisan yang kali ini tidak akan ada hubungannya dengan KROMA, paling cuma karena aku adalah salah satu orang yang ada di rumah ini saja. Buat kamu yang kenal aku, pasti tau banget kalo aku ceriwis, cerewet, atau ngomul alias ngomong mulu, whateveryou name it. Aku suka cerita and I don’t mind if I have to tell you so many times. Tapi untuk kamu yang belum kenal aku, I start to write and I bet you will know me by my writings.

Sesuai janjiku di Instagram beberapa hari yang lalu, tulisan ini adalah pandangan pribadiku tentang self-love. Mungkin tidak secara literal aku membahas soal mencintai diri sendiri, namun tentang self-acceptance yang berarti penerimaan diri. Boleh setuju, boleh ada yang tidak setuju.

Kalau berbicara tentang hal ini paling mudah jika disangkutpautkan dengan fisik. Ketidaksimetrisan bentuk wajahku juga aku anggap sebagai kekurangan. Tulang rahangku yang kiri dan mataku yang kanan lebih besar dari sebelahnya, adanya kerutan di bawah mataku sejak aku SD, kupingku agak caplang, kuku dan jari-jariku tidak lentik seperti perempuan kebanyakan, dan siapapun juga tau kalau aku sangat kurus, bahkan cenderung kerempeng. Apakah itu benar-benar penting ketika aku bersyukur bahwa semuanya masih lengkap? Tidak, aku rasa.

If I may describe myself in 3 words, it would be “An imperfect perfectionist”.

Perfeksionis banget? Iya, banget! I try hard to be perfect, that what makes me perfectionist. Tapi di dunia ini siapa yang sempurna? Jawabannya tentu saja tidak ada.

Aku mulai menulis sejak SD, saat itu yang kutulis adalah buku harian. Tapi buku itu tidak akan pernah penuh karena aku selalu menyobek kertas yang sudah kutulis. Aku tidak suka dengan tulisan dan cara menulisku. Begitu pula pada jamannya Blogspot, saat aku SMA dan kuliah, aku selalu menghapus post sebelumnya dengan kegelisahan yang sama.

I see the detail as big as the globe. Aku seorang desainer grafis, aku akan ‘selesai’ mendesain sampai hasilnya sempurna menurut versiku. Misalnya kalau soal design, untuk membuat bidang lingkaran saja aku harus tau jelas berapa ukurannya dalam cm atau px, atau perbandingannya dalam 1 lembar A4. Dan soal text alignment, aku akan memilih justified supaya paragraf rata dan rapi di kedua sisinya. Soal photography, objek harus ditempatkan tepat di tengah atau sepertiga bidang. Dan yang terakhir soal writing, aku suka tulisan berima karena rhyming is good-looking. Hmm, mungkin masih banyak ‘terakhir-terakhir’ lain yang tidak akan ada akhirnya.

Aku lulus tahun 2012 dari jurusan Desain Komunikasi Visual di Universitas Bina Nusantara. Dunia perkuliahan mengajarkanku banyak hal yang membuatku merasa bisa mengerjakan semuanya. Empat tahun kulewati dengan sangat mudah dan bisa kubuktikan lewat beasiswa yang kudapatkan. Aku tidak pernah gagal sampai harus ikut semester pendek (untuk mahasiswa/i yang mengulang). Ketika aku berada di dunia kerja, jiwa kompetitif itu muncul secara perlahan. Then I realized the worst nature I have is: ‘orang lain bisa apa, gue juga harus bisa’.

Namun, aku mengalami kegagalan ketika menjalankan usaha sendiri.

(Cerita panjangnya akan aku tulis di tulisan lain, tentang “Kisah Kasih KROMA”)

Aku dan partner-partnerku membangun KROMA dari nol. Saat itu kami masih mencari jati diri KROMA. Di pikiranku, KROMA harus bisa dimanfaatkan jadi apapun dan harus masuk ke semua bidang. Lagi-lagi karena pikiran ‘bisa segalanya’, saat itu aku coba menjalankan semua, tapi karena alasan yang sederhana, karena aku tidak bisa memilih apa. Pikiran yang cukup naif saat itu melihat banyak keterbatasan di rumah lama. Ditambah lagi, kami tidak punya pengalaman di bidang food and beverage.

Aku berada di titik terendah di umur seperempat abad saat itu. Waktu dimana aku tidak bisa menerima kegagalan dalam diriku. I was desperate. Aku sangat suka bekerja, tapi betapapun aku berusaha, usahaku berakhir sia-sia. Jelas hal ini membuatku merasa sangat tidak berguna. Bahkan dukungan dari teman-teman lewat begitu saja. Aku menutup mulut rapat-rapat dari kedua orang tua. Aku memilih untuk berdiam diri, sambil terus membenci diri sendiri.

Untungnya aku punya partner, seorang Edward, yang tidak pernah putus asa. Edward selalu mengingatkan aku untuk tidak lupa menjadi diri sendiri dan meyakinkanku bahwa “proses itu kunci untuk sukses”. Kalau dulu, menurutku Edward hanya mengumbar janji, tetapi kali ini, dia menunjukkan kepadaku sebuah bukti.

Setelah beberapa tahun pencarian, akhirnya aku menemukan bahwa aku suka membangun sesuatu. I love creating something creative, which is none other than crafting. Crafting is kind of a therapy for me, 1. to fulfill my passion for sure, and 2. mostly, to exercise my patience. Aku butuh kertas putih untuk menuangkan tinta dan untuk itulah KROMA ada.

Sekarang ini aku lebih bisa menerima diriku apa adanya. Aku harus bisa berfikir bahwa segala kekurangan yang aku miliki adalah kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Di setiap momen aku belajar, karena pada akhirnya, apa yang menjadi cita-citaku adalah ketika aku bisa berbagi dan menginspirasi lewat cerita-ceritaku.

From scale 0 to 100, how much do you love yourself? I used to hit the number zero. But since I made peace with myself, it’s slowly growing day by day. Is there anyone of you have the problems like mine? Please share the beautiful story of yours!

Love, Evelyn ♡♡♡

Catatan editor:
Tulisan Evelyn sebelumnya dimuat di laman KROMA, dan dipublikasikan kembali di ceritaperempuan.id atas izin penulis.

Penulis: Evelyn Gasman

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *