Pekerjaan dan Refleksi atas Identitas Diri

 

Bagi kebanyakan orang, profesi atau pekerjaan yang dilakoni sehari-hari adalah identitas diri.

Bagaimana tidak?

Kita menghabiskan hampir seluruh waktu seharian dalam balutan jubah pekerjaan. Apa pun itu. Polisi, guru, dokter, jaksa, entrepreneur, dosen, ibu rumah tangga, pegawai negeri, pegawai BUMN, pegawai swasta, pekerja seni, fotografer, instruktur olahraga hingga chef. Tanpa sadar, profesi tersebut telah membentuk pengalaman-pengalaman yang kita miliki dalam berkehidupan dan cara kita memandang hidup itu sendiri.

Saya sendiri selalu percaya bahwa manusia adalah jiwa yang terbentuk dari lapisan dan jalinan interaksi dengan sekitarnya. Maka, profesi dan manusia-manusia lain yang terlibat dalam pekerjaan sehari-hari kita menjadi penentu penting lapisan-lapisan yang akan membentuk diri kita. Energi, informasi, perasaan, kegiatan dan rasa yang kita dapatkan serta hadapi sehari-hari akan membentuk diri ini.

Melalui tulisan ini, saya ingin berbagi cerita tentang lapisan-lapisan rasa yang saya alami melalui pekerjaan yang saya pilih. Dikarenakan saya belum banyak karya yang dihasilkan dalam dunia penelitian, saya masih memiliki rasa enggan dengan sebutan peneliti. Maka katakanlah saya adalah seorang pekerja riset; bekerja mengumpulkan data, menginterpretasikan, lalu mengolahnya menjadi hasil pembelajaran. Jenis riset yang sering kali saya lakukan berada pada ranah keilmuan sosial. Tepatnya, mempelajari interaksi dan politik manusia dengan laut dan isinya.

Menggunakan metodologi kualitatif, saya mengandalkan hasil wawancara, pengamatan, maupun diskusi sebagai data. Dalam proses pengumpulan data-data tersebut, saya banyak melakukan perjalanan ke daerah-daerah pesisir di luar Jakarta, bahkan di luar Pulau Jawa. Dari dekat dan dari tengah masyarakat, saya berusaha memahami bagaimana manusia membagi pengaturan sumber daya laut. Begitu pula dengan dinamika dalam proses mengelola sumber daya tersebut yang dapat mempengaruhi tatanan masyarakat pesisir.

Setelah beberapa kali melakukan kegiatan riset lapangan, saya bisa bilang bahwa inilah pekerjaan yang paling tidak terasa seperti bekerja bagi saya. Selain karena proses belajar yang langsung tanpa sekat bersama masyarakat, saya selalu dikejutkan dengan hal-hal baru seperti budaya setempat, realita kehidupan yang berbeda serta pengetahuan baru yang tidak dapat saya dapatkan dimanapun kecuali bersama mereka. Tidak terhitung pula berapa kali saya disuguhkan pemandangan pesisir yang surgawi dan seafood yang terbaik.

Namun, bersamaan dengan segala kesenangan yang saya dapatkan, saya pun menyimpulkan bahwa pekerjaan ini adalah pekerjaan yang sepi, canggung, dan penuh kewaspadaan. Sepi; karena sering kali saya harus pergi sendiri ke lokasi penelitian, tinggal untuk sekian waktu di sana sendirian. Canggung; saat harus duduk bersama orang-orang yang tidak dikenal (dan harus membuka percakapan sendirian demi berkenalan) di kedai kopi dekat pasar. Dan, penuh kewaspadaan; karena tidak dapat dipungkiri, posisi saya sebagai perempuan membuat saya sering merasa khawatir sehingga saya terbiasa waspada dan terjaga selama saya berada di lokasi penelitian.

Kenapa saya bisa tanpa tedeng aling-aling langsung menyebut “posisi saya sebagai perempuan” yang membuat saya “terbiasa waspada dan terjaga”?

 

Keberadaan saya sebagai pekerja riset ternyata memantik satu pemahaman baru dalam diri saya. Sadar ataupun tidak sadar, di tengah hiruk pikuk jargon dan semangat kesetaraan gender, saya merasa bahwa memang ada perbedaan mendasar yang saya alami sebagai seorang perempuan. Saya merasa harus lebih waspada daripada kawan saya yang pekerja riset laki-laki.

Apalagi jika saya sendirian masuk ke dalam sebuah dunia yang maskulin seperti pelabuhan, kedai kopi di pasar, balai desa, maupun tempat penampungan ikan. Tempat-tempat tersebut didominasi oleh laki-laki. Laut sendiri pun jelas bukan tempat perempuan. Berlayar dan mencari ikan adalah ranah laki-laki. Sehingga sebagai pekerja riset yang memilih mendalami isu-isu seputar masyarakat pesisir, saya seringkali berhadapan dengan lapisan rasa yang unik.

 

Ada rasa risih yang jelas terasa jika saya ditatap terlalu lama dari atas sampai bawah.

Ada rasa kesal karena saya tidak pernah bisa ikut ngopi-ngopi terlalu lama dengan para tengkulak (dan mendapatkan informasi tambahan untuk bahan pengamatan), karena saya juga sudah segan dengan pembicaraan yang terlalu vulgar untuk kuping saya.

Ada rasa kikuk ketika perkenalan kerap kali ditimpali dengan kalimat-kalimat seperti “Wah, jadi semangat ada yang segar-segar hari ini” atau “Beda ya kalau ada Mbaknya, jadi ga ngantuk saya”. Jika memang saya serupa es buah atau kopi tubruk, saya jelas tidak nyaman disamakan seperti minuman.

Ada perasaan bingung ketika ditanya kenapa anak perempuan kerjanya jauh-jauh sekali dari rumah? Sungguh lebih sulit dijawab ketimbang pertanyaan saya riset tentang apa.

Ada perasaan jengah jika saya ditanya-tanya sudah menikah atau belum. Dan, jika belum apa saya mau dengan si ini atau si itu. Jangan terlalu lama sendiri karena perempuan itu kalau tidak cepat-cepat menikah nanti alot. Tentu saja dibarengi dengan gelak tawa karena jelas itu candaan. Saya selalu tertawa balik, tetapi rasanya kering. Seperti tawa yang tidak lucu, atau mungkin saya yang terlalu perasa disamakan dengan daging.

Lalu, pertanyaan-pertanyaan baru muncul menggema dalam benak saya,

Apakah saya terlalu perasa untuk seorang pekerja riset?

Apakah justru saya terlalu permisif karena tidak pernah jelas-jelas mengutarakan ketidaknyamanan saya?

Atau apakah memang sebenarnya peneliti perempuan yang sering bekerja di ranah pekerjaan yang didominasi pria selalu mengalami keadaan seperti yang saya alami?

Apakah lama-lama juga saya pasti akan maklum?

Apakah seharusnya kita, para perempuan, memang maklum?

Apakah seharusnya kita, para perempuan, TIDAK maklum?

Apakah justru sekarang saya sedang menciptakan jarak dengan membedakan kita dan mereka yang membuat kita tidak nyaman?

Bukankah saya sedang mencoba  belajar dari mereka?

Siapa saya datang-datang mencoba menggurui apa yang lumrah dan tidak lumrah?

Apakah saya seharusnya tidak menjalani pekerjaan ini?

 

Dan pertanyaan-pertanyaan ini terus-menerus beranak dan menimbulkan kegelisahan yang belum sempat saya bagikan kepada siapa pun sampai tulisan ini saya buat. Sulit bagi saya untuk berbagi dengan orang lain dan menggambarkan secuil lapisan rasa yang baru terbentuk dalam beberapa tahun terakhir ini sebagai pekerja riset. Saya harus akui bahwa saya bukan seorang yang mendalami kajian feminisme ataupun mengerti betul isu kesetaraan gender sampai mengakar. Saya sadar ada banyak dimensi di masyarakat Indonesia yang kemudian akan mempengaruhi diskusi terkait isu kesetaraan gender. Saya juga sadar betul bahwa isu ini akan memiliki banyak argumentasi yang berbeda-beda, dari sisi agama, hak asasi manusia, budaya sampai hukum.

Bagi saya, pilihan untuk percaya apakah laki-laki dan perempuan harus diperlakukan sama rata adalah pilihan yang kemudian menjadi personal dan situasional bagi masing-masing individu. Jelas bukan ranah saya di sini untuk mendikte dan mendebatkan hal tersebut dalam tulisan ini.

Namun, sebagai seorang perempuan, yang memilih untuk bekerja dalam ranah penelitian, identitas diri saya tidak akan pernah berubah. Meski saya selalu melatih kepekaan diri dalam mengkaji, mengolah dan merefleksikan pengalaman-pengalaman yang saya alami sendiri tersebut selama bekerja, saya tetaplah seorang perempuan yang ingin tetap bisa bekerja dan mengembangkan kemampuan diri di bidang yang saya sudah pilih dengan rasa aman dan nyaman. Senyaman dan seaman rekan kerja dan kawan laki-laki saya yang berprofesi sama.

Apakah mungkin?

 

Sementara pertanyaan tersebut menggantung dan menggema bersama pertanyaan-pertanyaan sebelumnya, sebagian kecil hati saya ternyata masih pesimis dan memilih untuk belajar menerima bahwa saat ini memang ada perbedaan yang tidak mungkin diubah di antara laki-laki dan perempuan tentang perasaan aman dan nyaman. Yang mana hal tersebut membatasi ruang gerak dan keleluasaan saya dalam bekerja. Mungkin nanti, tapi tidak sekarang.

Salam,

Kyana

 

Penulis : Kyana Dipananda
Editor : Ala

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *