Sendiri Saja

 

Ndewean (sendirian), Mbak?”

Entah berapa kali saya mendengar pertanyaan itu dari orang sekitar ketika saya berlibur sendirian ke Banyuwangi dan Jogja pada awal bulan Mei ini. Entah berapa kali saya harus menjawab dengan senyum dan tawa kecil, “Iya.” Entah berapa kali saya berpikir kalau saya laki-laki, apa mereka akan tanya hal yang sama?

Perjalanan ke Banyuwangi danYogya kemarin merupakan kali keempat saya pergi liburan sendiri dalam dua tahun terakhir tapi saya masih belum terbiasa mendengar pertanyaan seperti itu. Kadang saya jadi bingung. Apakah menikmati waktu sendiri itu salah?

Setidaknya untuk mama saya, menikmati kesendirian itu sesuatu yang asing. “Kamu terlalu mandiri,” mama sering bilang ke saya, dan biasanya itu dilanjutkan dengan nasihat bahwa kaum laki-laki akan segan dengan perempuan yang terlalu mandiri (ah, tapi itu topik tulisan untuk lain hari saja).  Kalau kata mama (lagi) seharusnya saya tidak pernah pindah ke luar negeri waktu saya berumur 15 tahun untuk melanjutkan sekolah selama enam tahun ke depan.

Keputusan untuk pergi sekolah ke Amerika Serikat waktu itu memang datang tanpa perencanaan yang matang–malah bisa dibilang tidak ada rencana sama sekali. Tiba-tiba papa tanya ke saya dan beberapa bulan kemudian saya berangkat. Jadilah saya yang pada waktu itu masih takut tidur gelap dalam seketika harus belajar hidup sendiri. Tiga bulan pertama, saya menangis hampir tiap malam dan tak hentinya menelpon keluarga di Indonesia, memohon-mohon agar diperbolehkan pulang. Tagihan telepon internasional (Skype belum marak digunakan waktu itu) mencapai jutaan rupiah. Orang tua saya pun bingung. Khawatir dengan kondisi anaknya tapi tiket pesawat Amerika Serikat-Indonesia bukan sesuatu yang bisa dibeli begitu saja.

Saya pun jadi tidak tega membuat orang tua saya terus khawatir. Perlahan, saya mengingatkan diri saya bahwa pengalaman belajar di luar negeri itu berharga. Tidak semua orang diberikan kesempatan itu. Saya harus bisa mengangkat dan mendorong diri sendiri untuk tekun belajar dan kerja keras agar kesempatan yang diperjuangkan orang tua saya ini tidak terbuang sia-sia. Saya mulai belajar bertanggung jawab atas diri sendiri; bergumul dengan keseluruhan diri saya–mensyukuri segala kebaikan dan keburukan saya–sampai akhirnya menemukan kenyamanan dalam kesendirian itu.

 

Mungkin benar kata mama, sejak itulah saya jadi terlalu terbiasa menjalani sesuatu sendiri. Tentu ada pro dan kontranya. Apalagi, hal seperti itu tetap sulit diterima di negara yang masyarakatnya cenderung terobsesi terhadap isu jomblo-isme dan status pernikahan.

Beberapa teman sering tanya bertanya mengapa saya suka pergi liburan sendirian dan apa saya tidak bosan kalau pergi liburan sendiri. Apalagi saya berlibur sendiri bukan karena alasan khusus (alias patah hati atau apa pun itu). Menjawab pertanyaan seperti itu, biasanya saya malah akan tambah semangat bercerita tentang pengalaman-pengalaman seru ketika saya liburan sendiri. Terutama, jika ada satu dua teman perempuan yang penasaran ingin mencoba liburan sendiri, dan saya pun langsung tambah semangat memberikan mereka tips dan trik solo travelling sambil bercerita.

Saya yakin selalu menemukan pengalaman seru ketika saya menjelajahi tempat baru. Biasanya saya juga membawa buku dan catatan untuk membaca atau menulis. Saya pun menikmati banyak hal ketika liburan sendirian.

Bagaimana nikmatnya membaca buku di tepi pantai hanya ditemani deburan ombak; atau duduk di pinggir lapangan menonton anak-anak desa setempat bermain bola sambil menulis; atau minum kopi di suatu warung di pusat kota yang baru sambil berbincang dengan pemiliknya. Momen di mana hanya ada saya, pikiran saya, sertalingkungan sekitar yang mengingatkan bahwa alam semesta ini jauh lebih besar dari kehidupan sehari-hari saya. Juga inilah saatnyasaya harus menghadapi suatu tantangan di perjalanan sendiri; dan saat di mana saya diingatkan atas kemampuan diri saya sendiri.

Waktu di Banyuwangi kemarin misalnya, saya sempat ditilang polisi, jatuh dari motor, dan nyasar di Jalan Jember-Banyuwangi dengan baterai smartphoneyang tinggal 10% dalam perjalanan menuju Jawatan Benculuk, sebuah hutan wisata yang sebelumnya digunakan untuk pengelolaan kereta api. Berhubung saya orang yang mudah cemas dan baru mempunyai pengalaman enam bulan mengendarai motor, kejadian itu mengingatkan saya kalau something can always happen dalam perjalanan. Namun, saya akan selalu punya kemampuan untuk menghadapinya.

Walaupun ada beberapa tantangan, toh akhirnya saya sampai juga di tujuan dan semua pengalaman itu menjadi cerita yang membuat hidup makin seru.

 

Penulis:  Vanesha Manuturi
Editor: Ala

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *