Mencintai Seluruh Hasil

 

Saya pernah diberikan kesempatan untuk mengalami perasaan terluka saat di bangku sekolah. Kala itu, usaha terbaik yang telah saya lakukan ternyata mendapatkan nilai tidak sebaik yang diharapkan. Ada memori di mana setiap harinya dihadapkan dengan latihan soal, pemantapan, dan juga pulang larut malam karena mengikuti tambahan di luar sekolah. Kesedihan terberat kala itu adalah begitu banyak pengorbanan dari berbagai pihak, waktu hingga materi. Namun, akhirnya dipertemukan dengan suatu kegagalan. Menangis, mengurung diri, dan putus asa, pernah saya alami, bukan saja kecewa terhadap situasi, juga ada rasa takut mengecewakan orang lain.

Waktu berlalu, begitu pula lukanya. Di usia itu, saya mendapatkan semangat dari keluarga dan rekan-rekan, juga menemukan kekuatan baru saat saya menikmati dunia baru dan isinya yang ternyata tidak seburuk yang selama ini dikhawatirkan. Namun, begitu saya melanjutkan studi, ternyata luka ini kembali dan semakin kuat. Saya diberikan kesempatan untuk bertemu dengan luka lama.

Saya melihat bahwa definisi berhasil adalah saat kita mendapat nilai A dan mampu menjawab pertanyaan ujian dengan sempurna. Saya selalu berusaha untuk mengerjakan sesuatu sebaik mungkin, tapi ternyata saya ‘tidak berhasil’ karena tidak mendapatkan nilai A. Sedih, merasa terpuruk dan sempat mengutuk diri, bahkan sangat kecewa saat mendapati beberapa teman memilih untuk tidak jujur saat ujian. Kami duduk, berdiskusi dan belajar di tempat dan waktu yang sama, tapinilai akhir saya tidak sebaik mereka. Padahal di balik itu ada sisi keberhasilan lain yang muncul, saya pun mampu mengerjakan tugas dengan tepat waktu, puas akan usaha yang dilakukan dan saya kerjakan dengan jujur.

Saya pernah dipanggil oleh bagian akademik. Beliau mengkonfirmasi mengapa nilai ujian saya kecil tidak seperti lainnya. Dengan jujur saya sampaikan bahwa saya kesulitan mengingat seluruh materi sebanyak itu dan diberikan puluhan soal pilihan ganda dalam satu waktu. Saya lebih mudah untuk mengerjakan soal esai yang membutuhkan analisis, karena di sana akan terlihat sejauh mana sebenarnya pemahaman saya akan materi tersebut. Tetapi hal tersebut tidak bisa dilakukannya dengan alasan pilihan ganda mempermudah perhitungan. Bayangkan jika puluhan murid dari tiga kelas diberikan soal esai, pemeriksaannya membutuhkan waktu lama. Mendapatkan alasan seperti itu saya melihat adanya sistem yang tidak cocok bagi orang seperti saya. Satu semester bukanlah waktu yang singkat, seluruh proses pembelajaran rasanya tidak terbayarkan. Namun, seluruh proses ini hanya nilai dari secarik kertas berisi soal pilihan ganda. Apa daya, tidak ada kekuatan untuk memberontak atau menyeruakan kekecewaan.

Saya hanya kuat untuk tersenyum, dan meninggalkan ruangan sembari berkata “Jika seperti itu, saya tidak apa-apa mendapatkan nilai C, saya tidak akan mengulang mata kuliah ini. Terima kasih.”

Ada banyak rasa yang saat itu perlu saya olah, terutama saat saya tidak bisa menerima kondisi yang terjadi di luar harapan. Saya sering menyalahkan berbagai pihak—dosen, sistem pendidikan, pandangan orang lain, dll. Saya juga sempat merasa tidak memiliki kemampuan sebaik orang lain di bidang akademik. Kepercayaan diri juga menurun, karena orangtua saya berprofesi sebagai dosen yang membimbing banyak orang, tapi saya sendiri ternyata tidak semampu itu.

Menyalahkan orang lain ternyata melelahkan dan tidak menyelesaikan apa pun itu. Akhirnya saya sadar bahwa saya tidak punya kekuatan untuk untuk mengubah orang lain. Yang bisa saya lakukan hanya mengubah diri sendiri untuk bisa menerima semua kondisi yang terjadi.

Menerima bahwa saya dianggap tidak berhasil saat tidak bisa mengisi soal pilihan berganda dengan benar, meskipun dibaliknya merasa berhasil karena paham akan makna-makna pembelajarannya. Menerima bahwa dunia pendidikanmu ada pada situasi melihat hasil akhir untuk mengukur nilai keberhasilan, bukan proses menuju ke sana. Menerima bahwa setiap orang memiliki pilihannya masing-masing untuk berperilaku jujur dan tidak. Penerimaan ini mengantarkan saya untuk tidak mempedulikan deretan angka yang diberikan oleh orang lain, tetapi menikmati setiap hari demi hari dengan seluruh makna pembelajarannya yang luar biasa. Memberikan pemahaman bahwa setiap orang memiliki kelebihannya masing-masing, dan ini bukanlah sesuatu hal yang perlu dibandingkan dan diperdebatkan.

Belajar menerima mampu memberikan kekuatan baru dan menghilangkan segala ketakutan yang ada.

Desember 2011, malam itu akhirnya saya memberanikan diri untuk bicara dan menghadap orangtua, meskipun gelisah dan khawatir akan membuat kecewa. “Maaf ya nilai aku C semua, IP-nya cuma 2,3. Nilai ini hasil selama satu semester, aku selalu berusaha dan selama ujian aku jujur ga nyotek sama sekali.”

Orangtua saya berkata, “Mom dan Dad lebih suka sama orang jujur daripada nilai besar tapi bukan hasil sendiri. Tidak apa-apa, kejujuran kamu engga akan pernah bisa dibayar dengan angka.”

 

 

Setelah peristiwa itu, saya sangat merasa lega dan semakin menikmati proses belajar setiap harinya. Menerima kerapuhan diri sendiri akan mengajarkan kita untuk menerima juga bahwa orang lain memiliki kelebihan dan juga kerapuhan. Mengajarkan diri untuk bisa berbagi kelebihan yang sangat mungkin bahwa ini pun bersumber dari berbagai pihak, bahwa diri kita bukanlah siapa-siapa yang patut untuk menyombongkan diri. Tidak lupa berterimakasih atas kesempatannya telah bertemu berbagai rasa, yang mampu mengajarkan diri ini terus belajar untuk semakin kuat.

Pada akhirnya, saya percaya seluruh niat baik kita hanya diri kitalah yang mengerti; begitu pula jerih payahnya, keringat, luka, suka dan pembelajarannya. Jangan sampai terpenjara dengan pikiran orang lain yang sesungguhnya tidak bisa menjangkau isi pikiran dan hatimu. Beri ruang bagi mereka sebagai penyemangat diri kita yang harus diterima.

Dan hari ini, saya mampu menyelesaikan studi dengan rasa bahagia, tanpa terjerat oleh keresahan akan hasil akhir dan pandangan orang lain; dan yang utama, berteman dengan segala luka yang pernah saya temui. Bahwa mencintai seluruh hasil pekerjaanmu adalah kebahagiaan sejati :)

 

 

Catatan editor:

Mentari adalah salah satu sahabat ceritaperempuan.id yang telah banyak membantu kami terutama ketika sesi berbagi. Selain itu, senyum dan nada bicaranya yang begitu khas mengisi hari-hari kami dengan energi positif.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *