Menjadi Ibu, Titik-Titik Keseimbangan, dan Mimpi-Mimpi

Salah satu hal yang harus tetap saya pelajari setelah menjadi ibu adalah mencari berbagai titik keseimbangan. Waktu kuliah saya harus menyeimbangkan antara tugas kampus dan kehidupan sosial seperti kegiatan mahasiswa lainnya. Waktu lajang dan bekerja sebagai karyawan, saya harus mencari titik imbang antara bekerja, keinginan untuk melakukan hal yang tidak bisa saya lakukan sebelumnya (jalan-jalan lalu nonton konser misalnya) dan hadir di acara-acara di keluarga.

Kini saya tetap harus mencari titik-titik keseimbangan lainnya; antara keluarga dan pekerjaan; antara mementingkan anak dan tidak melupakan diri sendiri; antara ada di rumah setiap saat dan keinginan untuk tetap bersosialisasi.

Titik Keseimbangan, Hal yang Personal

Menurut saya titik keseimbangan setiap orang berbeda dan boleh jadi dinamis. Mungkin bagi sebagian ibu, 8 jam bekerja, 8 jam bersama keluarga dan 8 jam istirahat adalah yang paling ideal. Mungkin bagi sebagian lainnya lebih rumit dari itu karena harus memperhitungkan ‘me time’, ‘social time’, dst. Oleh karena itu tidak ada cara selain menemukannya sendiri dan merasa nyaman dengan apa yang sudah kita putuskan.

Saya sendiri termasuk orang yang decisive karena apapun yang saya putuskan biasanya sudah saya rencanakan. Berkeluarga adalah hal yang sudah saya rencanakan oleh karena itu saya punya gambaran tentang dimana titik-titik keseimbangan sebagai seorang ibu perlu saya letakkan.

Namun bagaimana dengan mimpi-mimpi? Bagaimana mencari titik keseimbangan antara mimpi kita sebagai diri sendiri, mimpi kita sebagai istri dan mimpi kita sebagai seorang ibu? Apakah kita masih memiliki kesempatan bermimpi sebagai diri sendiri?

Mimpi-Mimpi dan Menjadi Diri Sendiri

Beberapa kali saya berbincang dengan teman yang memiliki latar belakang psikologi soal ini. Sebagai ibu-ibu saya merasa beruntung karena punya kesempatan ngobrol dan diingatkan, “Hey, walaupun kamu sekarang sudah menjadi seorang ibu, kamu tetaplah kamu. Memang seiring perjalanan waktu, titel sebagai istrinya A, ibunya X, Y, Z menyelubungi kita, namun sebagai seorang pribadi kamu tetap ada.

Ini yang sering kali dilupakan.

Adanya pengaruh orang lain dan media sosial juga bisa membuat kita merasa egois saat memikirkan diri sendiri. “Ih, udah ibu-ibu kok jalan-jalan sendirian anaknya nggak dibawa.” “Ih, itu ibu-ibu kok tasnya mahal-mahal, bukannya mikir ke depan untuk uang sekolah anak?” “Ih, udah ibu-ibu kok yang dipikirin muka sendiri supaya mulus, bukannya merhatiin anaknya, padahal anaknya kurus gitu.”

Akrab dengan kalimat semacam itu?

Di sini saya bukannya menyuruh ibu-ibu untuk jalan-jalan sendirian atau belanja tanpa memikirkan masa depan anak. Namun apa pernah kita berpikir kalau sebetulnya seorang ibu mungkin butuh waktu untuk istirahat dan merasa menjadi dirinya sendiri dengan jalan-jalan setelah mengurus rumah tanpa hari libur? Atau pernahkah kita berpikir bahwa mungkin ada seorang ibu yang belanja tas yang terbilang mahal setelah menabung sekian lama karena itu impiannya sejak kuliah? Percaya deh, seorang ibu akan melakukan apa saja supaya anaknya bisa terus sekolah. Jangankan berhemat, banting tulang sedemikian rupa pasti akan dilakukan agar bisa memfasilitasi anaknya meraih mimpi.

Kalimat-kalimat semacam ini lah yang bisa membuat seorang ibu kehilangan dirinya dan mimpi-mimpinya. Padahal menurut saya, memiliki mimpi dan mengupayakannya adalah salah satu api yang tetap membuat kita menyala.

Selain itu, pernahkah kita berpikir bahwa ketika seorang ibu hanya merasa sebagai ‘ibunya X, Y, Z’, boleh jadi dia akan meletakkan segala pencapaiannya kepada anak-anaknya?

Sekali lagi, saya tidak sedang menyuruh ibu-ibu untuk menjadi egois dan mengesampingkan keluarga. Seperti yang telah saya sebutkan di atas, saya hanya ingin mengingatkan bahwa kita patut menemukan titik-titik keseimbangan kita sendiri; kita dan keluarga; mimpi kita dan mimpi-mimpi keluarga.

Mimpi-Mimpi Saya

Saya sendiri masih memiliki mimpi-mimpi saya sendiri: kuliah lagi, mendirikan usaha dan membuat produk-produk untuk ilustrasi saya, membuat lebih banyak buku termasuk buku puisi, menonton lebih banyak konser band-band yang saya idolakan sejak lama, dan masih banyak lagi.

Bagi saya penting sekali untuk tidak kehilangan mimpi-mimpi pribadi ini. Walaupun saat ini titik keseimbangan saya lebih condong ke membesarkan anak dan mengurus keluarga, namun saya tetap mengupayakannya sedikit demi sedikit. Perlahan namun dengan kecepatan yang membuat saya nyaman dan seimbang.

Apakah bagi orang lain saya tampak egois karena bekerja di rumah dan tidak meluangkan waktu yang cukup untuk anak saya dan mengurus keluarga, terserah.

Apakah bagi orang lain saya tampak tidak berdaya karena rela menunda cita-cita kuliah demi anak dan keluarga, terserah.

Karena pada akhirnya ini titik keseimbangan harus ditemukan sendiri dan dirasakan sendiri kenyamanannya.

Selamat menemukan dan semoga kita tidak pernah kehilangan.

Puty Puar untuk ceritaperempuan.id

 

 

Tentang Penulis:

Puty Puar, atau juga dikenal sebagai @byputy di instagram adalah seorang Mom, illustrator, blogger dan  mimin dari #Kelincuy . Ia juga telah menulis beberapa buku seperti Happiness is Homemade & Komik Persatuan Ibu-Ibu.

Pada tanggal 9 September 2018 ini, Puty juga telah bersedia untuk membantu ceritaperempuan.id untuk memandu acara “Bicara Jujur mengenai Post Partum Depression” di Twinhouse, Cipete, Jakarta Selatan. Tunggu informasi selanjutnya melalui sosial media kami atau blog ini.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *