Belajar Bersama Anak-anak: Cerita Seorang Guru

 

“Kenapa sih mau jadi guru? Enak juga ya sehari main-main aja. Tapi emang nggak cape, ya? Kalo anaknya ngompol gimana?”

 

Halo! Perkenalkan, nama saya Keisha dan kira-kira sudah delapan tahun ini saya mendengar komentar yang kurang lebih bunyinya seperti itu. Kalau dipikir-pikir ada benarnya juga, sih… Menjadi guru itu bisa mudah; terlebih kalau sudah memiliki passion. Banyak sekali senangnya, tapi… ya banyak yang tidak tahu bahwa ternyata tantangannya lebih dari sekedar “capek” atau “ngompol”.

 

Lalu mengapa saya memilih menjadi guru?

 

Jujur, pertama kali saya mulai mengajar, saya kira ini akan menjadi pekerjaan yang mudah. I love hanging out with kids; they are brutally honest and always come up with the funniest comments, so how hard can it be? Tetapi, begitu saya mulai mengajar, saya sadar bahwa itu hanya sebatas yang dapat kita lihat di permukaannya. Ternyata, setiap anak punya cerita dan pikirannya masing-masing; sama seperti orang dewasa. Kebanyakan anak-anak bahagia, tetapi di setiap kelas yang pernah saya ajar pasti ada yang sedang khawatir dengan keadaan di rumah, merasakan hal-hal baru dan benar-benar mencoba memahami kehidupan mereka.

 

If I may quote from my previous student, “Oh Miss Keisha, you don’t know how hard it is to be a six-year-old!”

 

 

Lalu, saya sadar bahwa memang saya tidak tahu rasanya menjadi anak umur enam tahun pada tahun 2016, tapi saya dapat berusaha berempati dan mencoba membantu. Saat itulah saya menyadari bahwa saya memilih untuk menjadi guru karena banyak anak-anak yang butuh teman untuk dipercaya ketika mereka mengalami hal-hal baru dalam hidupnya.

 

Dalam seluruh perjalanan karir, saya pun mencoba untuk mengajar berbagai kelas dengan golongan usia yang berbeda-beda. Yang paling muda 18 bulan sampai anak-anak yang sudah berusia 12 tahun. Saya pun mencoba berbagai metode untuk mengajar. Pada saat-saat itu, saya belajar dari setiap anak dan perilaku mereka. Yang terpenting, saya belajar untuk menghargai bahwa semua orang punya cara belajar yang berbeda, Akan tetapi, dengan cara yang tepat semua anak pasti ada keinginan untuk belajar.

 

Dan bagi saya, prestasi terbesar seorang guru bukan hanya ketika mereka mendapat nilai bagus, tetapi ketika mereka mau mencoba untuk mengerjakan sesuatu di luar comfort zone mereka. Guru yang memiliki keberanian, kegigihan dan semangat untuk terus maju serta belajar. Walaupun, semua itu susah atau bahkan bangun lagi ketika mengalami kegagalan. Di sini, peran seorang guru sangat besar, karena sudah menjadi pekerjaan kita untuk memantau perkembangan anak-anak setiap hari dan cukup besar juga andilnya dalam pembentukan karakter setiap anak.

 

Saya percaya ada norma-norma dasar yang baik untuk kita terapkan di kehidupan keseharian kita. Misalnya, belajar bersosialisasi, berbagi, saling membantu dan berperilaku sopan terhadap sesama. Saya ingin mengutip salah satu pendidik yang saya kagumi, yang mungkin namanya sudah tidak asing lagi. Maria Montessori berkata, “Preventing war is the work of politicians, establishing peace is the work of educationists.” Kalau kita melihat dunia di sekeliling kita, bukankah perdamaian sangat penting?

 

Saya juga selalu mencoba bekerja sama dan bertukar pikiran dengan orang tua agar kita dapat membantu anak-anak menjadi karakter-karakter yang terbaik. Ini juga salah satu hal yang dengan senang hati saya bahas dengan orang tua murid saya. Ketika kita bekerja sama, kita dapat saling membantu untuk menanamkan karakter-karakter positif di anak-anak. Setiap anak dapat mengubah dunia dan kita masih punya kesempatan untuk membuat dunia ini menjadi lebih baik, dengan mengajarkan standar yang positif di setiap anak.

 

Saya pernah menyaksikannya sendiri. Contohnya, ketika anak-anak sedang belajar dan mengerjakan sebuah proyek tentang ekonomi. Saat itu, mereka harus membuat “bisnis” mereka sendiri dari awal. Ketika mereka mendapat keuntungan, mereka memilih untuk mendonasikan sebagian besar hasil gaji pertama mereka ke panti asuhan dengan kemauan mereka sendiri.

 

I truly believe that each child, equipped with the right mindset and skills can go further than one can imagine.

 

Dan satu hal lagi, saya berharap semakin banyak orang dapat melihat bahwa kita semua adalah pendidik—baik seorang perempuan maupun laki-laki dan tua maupun muda. Kalau dilihat kembali, setiap murid saya telah mengajarkan hal yang baru dan berbeda kepada saya. Saya pun ingin terus belajar dari orang-orang di sekitar saya—tidak terkecuali anak-anak, orang tuanya dan tentunya guru-guru lain. Mereka yang memang sudah berprofesi sebagai pendidik atau siapapun yang punya hal baru untuk “dijelajahi”.

 

The world of education has many busy streets and I am really glad that I started from the bottom and still learning something new every day.

 

Bekerja dan belajar bersama anak-anak adalah salah satu pencapaian terbesar saya dan karena itulah saya bangga menjadi seorang guru ☺

 

 

Catatan editor:

Keisha Pasaman adalah co-founder Toddlers Town (instagram: @toddlerstown.id ). Berawal dari mendengarkan keluh kesah teman-teman di sekitarnya yang mayoritas merangkap sebagai ibu dan perempuan berkarir, Keisha dan mitra bisnisnya (Kirana Pratita) memutuskan untuk membangun sebuah tempat yang memberikan rasa aman untuk para orang tua ketika menitipkan anaknya. Di mana, tempat itu juga menjadi tempat belajar yang nyaman bagi anak-anak untuk menerapkan berbagai kecakapan hidup sedini mungkin. Dengan dua founder yang memiliki latar belakang di bidang edukasi (Keisha) dan psikologi (Kirana), Toddlers Town memiliki misi untuk membantu anak-anak menghadapai tantangan dalam kehidupan keseharian.

 

Penulis: Keisha Pasaman
Editor: Ala

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *