The Power of Law of Attraction

 

Pergi ke negeri Sakura adalah mimpi saya sejak saya masih duduk di sekolah dasar. Semuanya bermula dari hobi saya menonton film animasi Jepang yang ditayangkan di televisi nasional setiap hari Minggu pagi. Saya merasa sangat terinspirasi dan ingin sekali rasanya bisa berkunjung ke Jepang. Namun, sayangnya saya berasal dari keluarga yang serba pas-pasan, sehingga mimpi saya rasanya sangat sulit menjadi kenyataan.

Saya sempat melupakan mimpi saya ketika menginjak bangku SMP. Saya terlalu sibuk memenuhi ekspektasi keluarga, terutama orang tua, sebagai anak sulung perempuan. Saya terlalu sibuk mengejar nilai dan prestasi sampai lupa akan impian tersebut. Saya berhasil mendapatkan nilai yang sangat memuaskan dan saya pun dapat diterima di salah satu SMA terbaik di Bandung. Tapi, entah kenapa ada saja yang kurang. Sewaktu SMA, kegiatan saya hanya pergi ke sekolah kemudian langsung pulang ke rumah begitu jam pelajaran selesai. Semuanya terasa bosan, bahkan saya jarang sekali pergi jalan-jalan dengan teman sekolah padahal kawan-kawan saya yang lain sangat senang menghabiskan waktunya dengan berkunjung ke mall atau kafe sepulang sekolah.

Hanya kegiatan ekstrakurikuler klub Bahasa Jepang-lah yang saya tunggu setiap minggunya.

Saya sempat bercanda dengan teman saya di klub Jepang, saya bilang bahwa saya ingin menikah dengan orang Jepang. Saya sempat merasa perkataan saya waktu dulu rasanya bodoh sekali karena itu kelihatannya sangat tidak mungkin.

Hingga, suatu hari di tahun 2015 sepulang kerja saya membaca satu artikel di Internet tentang law of attraction. Inti artikelnya adalah bahwa otak kita akan menarik semua gelombang yang frekuensinya sama dengan otak kita. Jika kita berpikir positif maka hal-hal positif akan datang ke dalam kehidupan kita. Sebaliknya, jika kita berpikiran negatif, maka hal-hal negatif yang akan datang ke kehidupan kita. Dan, perasaan kita juga bermain penting dalam teori law of attraction. Jika perasaan kita senang dan bahagia, maka akan semakin banyak hal yang membahagiakan akan datang. Jika, perasaan kita sedih dan tertekan, maka akan semakin buruk pula kehidupan kita jadinya.

Ternyata teori ini terbukti benar, buktinya sewaktu saya merasakan perasaan bahagia yang berkelanjutan seperti pada tahun 2012, saya diundang ke Jepang untuk pertama kalinya. Rasanya seperti bermimpi! Sebaliknya, ketika saya merasa sedih karena saya sulit mendapatkan pekerjaan sesaat setelah saya lulus, kehidupan saya pun rasanya menjadi semakin berat.

Lalu bagaimana cara menggunakan law of attraction untuk memperbaiki kehidupan kita? Artikel tersebut mengatakan bahwa kunci terbesar adalah visualisasi. Jadi, tuliskan keinginan kita pada selembar kertas, kemudian visualisasikan hal tersebut. Sejelas-jelasnya dengan melibatkan semua panca indera kita. Kemudian bayangkan bagaimana perasaan kita ketika keinginan kita terwujud. Setelah terinspirasi dari artikel tersebut, buru-buru saya mengambil buku catatan saya dan menuliskan keinginan saya. “I want to attract my soulmate”.

Saat itu, keinginan saya bukan lagi pergi ke Jepang melainkan saya ingin segera bertemu pasangan hidup karena saya merasa kesepian tinggal di Jakarta sendirian. Saat itu Lalu di bagian bawahnya saya tuliskan kriteria ideal yang saya inginkan dari pasangan saya. Di nomor pertama saya menulis “orang jepang” lalu di nomor kedua saya menulis “muslim” dan di nomor-nomor selanjutnya saya menuliskan berbagai kriteria yang saya mau.

Baik rupa dan hati merupakan hal utama yang sangat saya harapkan dari pasangan saya. Lalu sebelum tidur saya visualisasikan wajahnya. Saat itu dalam imajinasi saya, saya belum bisa melihat wajah pasangan saya dengan jelas. Saya hanya bisa melihat hidungnya yang mancung dari sisi samping wajahnya. Dia memakai kacamata. Dan, walaupun saya tidak bisa melihat dengan jelas tapi saya yakin wajahnya cute, berkulit putih, berambut hitam, dan wajahnya Jepang banget. Hal tersebut saya lakukan pada tahun awal tahun 2015. Sama sekali belum ada tanda-tanda bahwa saya akan bertemu suami saya sekarang.

Pada tahun 2015, tepatnya setahun setelah saya bekerja, saya memutuskan untuk keluar dari kantor karena merasa saya kurang bisa berkembang di sana. Padahal jika dipikir dengan akal sehat, untuk apa resign hanya dengan alasan itu? Belum lagi, pengalaman saya yang sempat menganggur cukup lama itu selalu mengusik saya. Tapi akhirnya saya tetap memilih resign. Mungkin itulah jalan yang ditunjukkan Allah bagi saya. Akhirnya saya kembali ke Bandung.

Setelah menganggur selama satu bulan akhirnya saya kembali diterima bekerja menjadi analis di salah satu proyek JICA (Japan International Cooperation Agency). Dari pengalaman inilah saya mendapatkan banyak sekali relasi orang Jepang. Bahkan, saya sempat kembali mengunjungi Jepang pada April 2016 dan mengunjungi kediaman tim ahli JICA yang dulu sempat mengembangkan Balai Teknis Air Minum pada tahun 1990 di Kawagoe, Saitama, Jepang.

Dan…pada Oktober 2016 akhirnya saya bertemu dengan orang yang wajahnya sempat saya bayangkan saat sebelum tidur pada awal tahun 2015 lalu. Ya, saya bertemu dengan suami saya, Yuta. Wajahnya persis sama dengan wajah orang yang ada di bayangan saya. Terutama hidungnya. Saya sangat kaget ternyata dia juga sebenarnya dulu berkacamata (sekarang dia lebih suka menggunakan lensa kontak).

Astaga! Law of attraction itu ternyata benar adanya!

 

 

Saya jatuh cinta pada pandangan pertama sejak bertemu dia untuk pertama kalinya. Walaupun dia tidak terlalu tinggi (saya ingin pasangan yang tinggi badannya 180 cm sebelumnya, hehehe… Banyak maunya emang.), tapi dia memenuhi nyaris semua kriteria yang saya tuliskan di buku catatan saya. Kami bertemu hanya beberapa kali saja karena dia bekerja di Yokohama dan saya bekerja di Jakarta. Tentunya semua tidak berjalan semudah itu, banyak sekali tantangan yang harus dihadapi tapi kami berdua teguh untuk segera menikah. Akhirnya, kami pun menikah pada September 2017. Saya berhenti dari pekerjaan saya dan segera menyusul dia untuk tinggal di Jepang, negara impian saya semenjak kecil.

Saya merasa sangat beruntung memiliki suami yang baik rupa dan lembut hatinya. Jago memasak, suka travelling, perhatian, dan selalu mendukung saya. Ternyata Allah itu Maha Baik dan tahu yang terbaik bagi saya. Semua tantangan yang saya lewati ternyata merupakan jalan untuk menggapai mimpi saya. Mimpi yang sebenarnya saya inginkan. Ternyata bukan untuk sekedar berkuliah atau mengunjungi Jepang dalam waktu singkat melainkan untuk tinggal di Jepang dalam waktu yang lama bersama suami saya.

Saat ini saya sibuk mengajar Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia bagi orang Jepang, mengikuti kelas bahasa Jepang. Saat ini, saya juga sedang mempersiapkan diri untuk proses seleksi relawan di Olimpiade Tokyo tahun 2020.

Jadi, jangan ragu untuk mengaplikasikan Law of Attraction dalam kehidupan kalian! Tidak ada mimpi yang tidak mungkin! Bermimpilah yang banyak, tuliskan dalam secarik kertas, visualisasikan, rasakan perasaan bahagia, bayangkan semuanya menjadi nyata dan berserah dirilah kepada Tuhan. Jangan lupa disertai usaha juga, ya.

 

Penulis: Fristy Tania
Editor: Ala

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *