Meraih Mimpi Melalui Seni

Halo, namaku Rizki Puput Isnaini, tapi aku biasa dikenal sebagai Phuput atau Phuput Art. Aku lahir dan besar di Semarang. Seni merupakan sesuatu yang aku sukai sejak kecil, terutama menggambar. Aku dan adikku, Zul, menggambar di berbagai media yang tersedia di rumah.

Divonis dengan penyakit Muscular Dystrophy saat kelas 5 SD tentu menjadi sebuah pukulan besar untuk aku dan keluargaku. Tidak hanya aku, Zul pun terkena penyakit yang sama.

Oh iya, apa itu penyakit Muscular Dystrophy atau MD?

MD adalah penyakit dimana otot-otot yang menempel dengan tulang melemah atau hancur seiring dengan berjalannya waktu. MD disebabkan oleh mutasi pada gen-gen yang terkait dengan pembentukan protein otot.  Belum ada metode penyembuhan untuk MD. Hal terbaik yang bisa dilakukan oleh penderita MD adalah meminum multivitamin untuk menjaga stamina tubuhnya.

Lalu, apa yang terjadi bila seseorang terkena MD? Otot akan semakin lemah dan penderita akan kehilangan kemampuan untuk berjalan. Aku dan Zul akhirnya bergantung pada kursi roda untuk mobilitas kami sehari-hari.

Tapi di sini aku tidak ingin bercerita tentang penyakit MD yang aku alami. Aku ingin bercerita tentang kehidupan yang saat ini aku jalani layaknya perempuan berusia 23 tahun pada umumnya. Berada dalam level ekonomi rata-rata memotivasiku dan Zul untuk mencari nafkah untuk kami sendiri, dan untuk membantu orang tua.

Beruntunglah aku dan Zul memiliki kemampuan menggambar yang bisa kami gunakan untuk mencari nafkah.

Sehari-hari aku menggambar sketsa pesanan para pelangganku. Untukku, sketsa merupakan cara paling cepat untuk mencari nafkah karena banyak orang yang menyukai sketsa wajah. Rata-rata sketsa dibuat sebagai hadiah untuk orang yang aku gambar; baik hadiah pernikahan maupun ulang tahun. Untuk sketsa aku menyediakan dua pilihan media: digital art atau dengan lukisan tangan. Lukisan tangan aku hargai lebih tinggi karena membutuhkan waktu lebih lama untuk mengerjakannya, dan tentu saja terlihat lebih eksklusif.

Phupuhut bertemu pihak RRI

Untuk sketsa wajah dan lukisan, aku menggunakan berbagai macam media seperti softpastel (seperti crayon, tapi dalam bentuk bubuk) dan watercolor. Di luar itu semua, aku terus berusaha untuk tetap mengikuti kemajuan dunia teknologi dan media sosial. Instagram merupakan tempat untuk aku mempromosikan karya-karya yang aku buat, dan tentu saja bersosialisasi dengan teman-temanku. Dengan laptop yang aku miliki aku juga belajar menggunakan aplikasi SketchBook untuk digital art drawing.

Awal tahun 2018 aku berkenalan dengan The Able Art yang berfokus kepada pemberdayaan seniman difabel. Dua karyaku sudah direproduksi oleh The Able Art dan diproduksi secara masal. Lukisan kembang sepatu direproduksi menjadi hijab, dan lukisan kuda direproduksi menjadi sarung bantal. Terlebih, selain materi yang aku dapat dari The Able Art, aku bisa berkenalan dengan seniman-seniman lainnya dan saling mendukung. Contohnya, aku berkenalan dengan Rodhi, seniman asal Kendal yang sekarang tinggal di Jakarta. Atau Winda, seniman asal Bali yang ciri khas Bali-nya begitu terasa di setiap lukisannya.

Aku bersyukur Indonesia makin ramah disabilitas. Banyak acara yang diadakan untuk menyuarakan suara hati penyandang disabilitas dan mencoba mengubah paradigma lama masyarakat tentang penyandang disabilitas. Aku pun dengan antusias terlibat di acara-acara tersebut. Tidak hanya itu, fasilitas umum juga mulai ramah disabilitas, seperti Taman Indonesia Kaya di Semarang yang memudahkan akses disabilitas.

Dengan segala keterbatasan yang aku miliki aku masih bisa menjalani kehidupanku layaknya millennials yang lain—berkarya, bergaul, dan mencoba banyak hal baru di usia produktifku ini. Pada waktu senggang, aku dan Zul sering mengisi acara bukan dengan melukis, tapi dengan bernyanyi. Ya, kami berdua juga suka bernyanyi 😊

Di acara Hari Disabilitas Internasional kemarin aku memimpin menyanyikan lagu ‘Heal the World’ di depan banyak orang, salah satunya Pak Ganjar yang merupakan Gubernur Jawa Tengah. Lagu ini aku nyanyikan bersama Zul dan komunitas sahabat difabel Semarang. Dalam acara ini, Pak Ganjar meminta kepada semua pihak untuk memberikan ruang dan kesempatan untuk para difabel menunjukkan kemampuannya. Hal ini karena yang dibutuhkan oleh kami para difabel adalah kesempatan dan penghargaan, bukan rasa iba. Di akhir acara aku dan Zul memberikan kejutan digital art yang kami siapkan untuk Pak Ganjar.

Phuput dan Zul memberikan kenang2an Digital Art kepada Pak Ganjar

Kedepannya, aku akan terus meningkatkan kemampuan melukisku untuk menghasilkan lukisan yang lebih baik lagi. Mimpiku adalah lukisan-lukisanku bisa dipajang di hotel-hotel besar di Indonesia. Sehingga, lebih banyak orang untuk bisa menikmati hasil karyaku.

Oh iya, saat aku menulis cerita ini aku mendapatkan sebuah kejutan yang menyenangkan: aku mendapatkan tawaran untuk menjadi penyiar di RRI Pro 2 FM Semarang! Dulu aku hanya bisa bermimpi untuk bisa menjadi penyiar, dan sekarang mimpi tersebut hanya selangkah di depan mata untuk menjadi kenyataan 😊  

Doakan ya aku bisa mewujudkan satu-persatu mimpi-mimpiku 😊

Phuput Bertemu Pihak RRI

Penulis : Rizky Puput Isnaini
Editor : Ala

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *