Perjalanan Seorang Introvert Menjadi World Traveller

Marina Utamih

“Jangan pergi jauh-jauh, nanti diculik,” itu kata Nenek ketika saya masih berumur 7 tahun. Nenek saya memang terlalu mawas diri sampai tidak pernah berani keluar Pulau Jawa. Perkataan itulah yang selalu membuat saya merasa bahwa pergi ke luar negeri itu sebegitu menakutkannya.

Sejak kecil saya memang seorang introvert tanpa teman yang memilih untuk berkecimpung di rumah saja. Saat anak-anak lain pergi bermain bergaul, jalan-jalan atau pergi ke taman bermain, saya malah lebih banyak menghabiskan waktu di rental Laser Disc (saat itu masih jaman piringan besar kalau mau nonton film dan harganya mahal bukan main). Saat itu, sempat terlintas pikiran untuk mengunjungi tempat-tempat yang ada di setting film-film tersebut. Eiffel Tower di Paris, Big Ben Tower di Inggris, Gurun Sahara di Afrika; melihat pemandangan itu di film membuat saya terpicu untuk mendatanginya secara langsung.

Ketika itu, impian masa kecil menjadi seorang world explorer memang angan-angan belaka.

Semenjak masuk kuliah, saya mulai berani bersosialisasi dengan orang lain. Tapi pemikiran untuk pergi ke kota lain saja masih harus selalu dipertimbangkan lama-lama. Padahal, cuma dari Bandung ke Jakarta saja lho! Sehabis kuliah, saya merasa beruntung sekali bisa bekerja untuk agensi desain yang berkecimpung dalam dunia perfilman. Area yang cocok dan saya idam-idamkan! Apalagi, ternyata bos saya saat itu memperbolehkan saya bekerja di rumah. Wah, semakin menjadi-jadi menutup diri dari dunia luar.

Hampir tiga tahun saya bekerja di rumah dan setiap harinya rutinitasnya selalu sama. Semua orang sempat berkomentar bahwa hidup saya ini sudah terlalu enak. Bisa tidur-tiduran sambil bekerja, makan masakan rumah, dan selalu dekat dengan keluarga. Kenyamanan inilah yang membuat saya menjadi seorang workaholic berat. Saya rajin mencari banyak klien freelance di luar pekerjaan tetap. Maklum, waktu itu pertama kalinya bisa menabung dan membeli barang-barang yang idamkan.

Turning point dalam hidup saya adalah ketika ayah saya meninggal pada tahun 2012. Orangtua saya memang sudah lama bercerai ketika saya masih SMP, dan saya pun sempat berpindah tangan dari tinggal bersama ayah lalu bersama ibu. Saat ayah meninggal secara mendadak, saya sempat mengalami depresi dan perasaan bersalah tidak mengenal baik beliau ketika masih bernafas. Masa-masa sedih pun tidak bisa saya lalui dengan tenang karena otomatis seluruh harta kekayaan, dokumen dan hal-hal yang beliau tinggalkan menjadi tanggung jawab saya, si anak sulung.

Ada masanya ketika saya terlalu stres mengurusi warisan tersebut hingga terlintas pikiran, “Untuk apa selama ini saya bekerja keras mencari uang, membeli banyak barang, apabila pada akhirnya toh kita semua akan mati dan meninggalkan semua ini”. Pemikiran itu yang membuat saya mempertimbangkan berkali-kali mengenai kehidupan saya yang sudah nyaman. Teringat impian masa kecil untuk berkeliling dunia dan sungguh tidak ingin rasanya saya meninggalkan dunia ini tanpa mewujudkan mimpi tersebut. Tidak mau ada penyesalan di hari tua bahwa masa muda saya tidak dihabiskan dengan petualangan mengelilingi dunia.

Tahun berikutnya, bermodalkan nekat, saya meninggalkan Bandung dan hanya membawa dua ransel besar menuju Ubud, Bali. Bos saya yang (terlalu) baik, masih mempercayai saya untuk tetap bekerja online dengannya. Sempat juga bekerja di salah satu co-working space terbaik di Ubud dengan bantuan beliau. Di sinilah saya juga sempat bertemu dengan banyak perempuan-perempuan hebat yang mengarungi belahan dunia sendirian hanya untuk travelling. Salah satunya adalah teman baik yang kemudian menjadi mentor travelling saya, seorang wanita Indonesia yang pernah mendapatkan beasiswa, pertukaran pelajar, dan travelling hampir ke seluruh dunia. Mendengar cerita-ceritanya dan opininya bahwa dunia tidak begitu menakutkanlah yang membuat saya ingin merasakan pengalaman yang sama dengannya.

Processed with VSCO with g3 preset

Masih teringat hari di mana saya menangis di Bandara Ngurah Rai meninggalkan teman-teman perantau saya di Bali untuk pertama kalinya berkelana sendirian mengelilingi Asia Tenggara. Tapi saat itu saya teringat akan perkataan sahabat saya, “Toh kamu selalu bisa pulang ke tempatku di Bali kan? It’s not the end. And it’s not a goodbye.” Perkataan inilah yang membuat saya percaya bahwa setiap di akhir perjalanan, saya masih mempunyai tempat untuk selalu kembali.

Hal pertama yang saya takutkan ketika terpikir dari solo travelling adalah kesepian. Kenyataannya, ternyata di dalam kesendirian itulah yang membuat saya lebih banyak mudah dicapai oleh orang lain. Tak pernah sekalipun merasakan arti “kesepian”, karena saya selalu dikelilingi oleh orang-orang baru setiap harinya, mulai dari karyawan dan pemilik resto yang mengajak bercerita, traveller dari berbagai negara yang ikut berpetualang bersama, bahkan orang lokal yang berusaha berbicara dengan bahasa isyarat karena bahasa Inggris mereka kurang lancar.

Sungguh menyenangkan mempunyai banyak teman baru yang tak terhitung lagi jumlahnya! Selama perjalanan pun saya banyak menggunakan couchsurfing, sebuah platform online untuk bias bertemu atau menginap di rumah orang lokal. Tak disangka saya banyak dijamu dan diterima oleh relasi mereka layaknya saya seperti bagian keluarga mereka. Sejak saat itu, saya selalu merasa bersyukur bahwa saya dikelilingi oleh orang-orang yang selalu ingin berkomunikasi dan mengenal saya apa adanya.

Tahun 2014 adalah tahun yang paling banyak mengubah hidup saya. ‘

Perempuan penakut ini akhirnya berhasil mengarungi beberapa negara di Asia Tenggara hampir selama 6 bulan lamanya. Mulai dari mengarungi gunung dan laut, tidur di stasiun bis dan kereta, bekerja menjadi pelayan, menetap di rumah orang lokal, dan masih banyak kegilaan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Hidup sederhana tanpa mempunyai banyak barang malah membuat saya jauh lebih bahagia. Hanya bermodalkan dua backpack yang terdiri dari beberapa helai pakaian, laptop dan kamera sudah lebih dari cukup untuk melewati kehidupan sehari-hari. Melihat kehidupan penduduk lokal juga membuat saya menghargai beragam kehidupan dan adat istiadat yang unik di berbagai negara.

DCIM\104GOPRO

Travelling membuat saya menjadi seorang yang lebih humble, lebih fleksibel dan mampu beradaptasi dalam berbagai kondisi.

Setelah perjalanan Asia Tenggara tersebut, saya sempat berkelana bahkan tinggal cukup lama di beberapa negara di Afrika dan Asia. Saya pun sempat mendapatkan beasiswa dengan dukungan sahabat saya untuk belajar lebih tinggi di salah satu negara maju di Eropa. Semua pengalaman yang saya dapatkan dahulu masih selalu saya terapkan ke mana pun saya bepergian. Merasakan manfaatnya couchsurfing, saya juga banyak menerima traveller dari berbagai negara untuk menginap di rumah saya. Senang rasanya bisa memberikan kembali pada komunitas couchsurfing dan bisa berbagi kebudayaan Indonesia kepada mereka.

Stereotrype bahwa perempuan jangan ke mana-mana sendirian memang sudah kuat di negara Asia. Apalagi, dengan tradisi bahwa perempuan harus menikah sebelum umur 30 dan pemikiran bahwa wanita harus selalu didampingi pria. Pola pikir tersebut memang sulit untuk ditampik, tetapi itu semua kembali kepada pilihan yang kita ambil. Memang pilihan saya untuk solo travelling sudah banyak memakan hati, penuh kesabaran, dan menutup telinga kiri kanan untuk tidak mendengar apa kata orang. Tetapi pilihan inilah yang membuat saya jauh lebih bahagia daripada sebelumnya tanpa ada penyesalan.

Sejak saya memulai berkelana, saya lebih mengenal batas kemampuan saya sendiri dan sampai mana saya bisa menggapai gol untuk dicapai. Saya tahu apa yang saya mau, apa yang saya sukai, dan menjadi lebih percaya diri seiring dengan waktu. Tidak malu lagi mengekspresikan diri dan menjadi seseorang apa adanya. Sebelum bisa memulai berumah tangga, saya yakin bahwa perempuan harus bisa menjaga diri dan mandiri tanpa bergantung kepada orang lain.

Solo travel bukan hanya mengubah saya dari seorang introvert menjadi ekstrovert, tetapi bagaimana bisa mempercayai orang asing di negara tak dikenal tanpa keluarga dan teman. Beri waktu untuk diri sendiri selalu mencoba solo travel setidaknya sekali seumur hidup!

“Real women are strong, resilient, independent, loyal and lovable. One thing about them is they never settle.” – Anonymous

Catatan editor:

Marina berbagi kisah mengenai solo travelling lewat tulisan di www.runwaymarina.com. Selain kisah perjalanannya berkelana ke berbagai tempat, Marina juga berbagi tips, inspirasi, dan ulasan mengenai dunia travelling.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *