Buah Hatiku yang Istimewa

by: Gloria Miranda

Tidak pernah menyangka bahwa aku akan memiliki perjalanan hidup yang luar biasa.

Pada awalnya, semua terasa biasa saja. Aku menikah dengan pasangan pilihanku, hamil, dan melahirkan jagoan yang menjadi cahaya bagi keluarga kecil kami. Sebuah milestone standar yang juga dialami oleh jutaan, atau bahkan puluhan juta perempuan di Indonesia.

Jagoan kecilku bernama Orlando, dan semua orang memanggilnya Ado. Kehidupanku berubah saat aku dan suamiku menyadari bahwa di umur 1,5 tahun Ado belum mulai berbicara, atau setidaknya mengoceh seperti bocah pada umumnya. Kami mengira Ado memiliki gejala autis dan memutuskan membawanya ke klinik tumbuh kembang untuk mencari informasi lebih jauh. Mengejutkan, di klinik tumbuh kembang kami disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter THT.

Dokter THT menyarankan kami supaya Ado menjalani serangkaian tes pendengaran, yaitu BERA dan ASSR. Silakan cek sendiri ya di internet informasi mengenai kedua tes tersebut 😉. Setelah serangkaian drama yang muncul karena tes ini tidak nyaman untuk dilakukan oleh balita, datanglah hasil diagnosis. Ado mengalami gangguan pendengaran berat, dan dokter menyarankan Ado untuk memakai alat bantu dengar. Perasaan terasa campur aduk untukku dan suami. Aku terus menerus bertanya pada diri sendiri hal apa yang akhirnya menyebabkan Ado menderita gangguan pendengaran. Tes TORCH yang aku lakukan di awal kehamilan Ado memberikan hasil negatif yang berarti aku bebas dari TORCH. Atau apakah mungkin disebabkan oleh peristiwa banjir di daerah Kelapa Gading yang membuatku harus berjalan kaki di tengah banjir saat kandunganku berusia tujuh bulan? Begitu banyak pertanyaan dan tebakan mengenai penyebab gangguan pendengaran Ado. Pertanyaan yang dokter juga pun tidak memiliki jawabannya.

But life must go on. Perjalananku dan suami sebagai orang tua dengan anak yang mengalami gangguan pendengaran berat dimulai.

Tuhan sepertinya begitu mencintai keluarga kecilku. Niat untuk membeli alat bantu dengar yang harganya cukup mahal harus kami tunda karena aku hamil anak kedua.  Sepuluh tahun yang lalu, alat bantu dengar berkualitas biasa dijual dengan harga 10 juta rupiah per telinga, sedangkan untuk kondisi Ado kami disarankan untuk menggunakan alat bantu dengar dengan harga setidaknya 20 juta rupiah per telinga. Tidak murah untuk perekonomian kami yang biasa saja. Dan, sayangnya alat bantu dengar tidak termasuk dalam cakupan asuransi kesehatan kami.

Tabungan kami fokuskan untuk biaya melahirkan anak kedua, yang kami beri nama Toby, dan membeli alat bantu dengar. Tetapi rencana tinggal rencana, Toby didiagnosis hernia dan harus segera dilakukan operasi. Lagi-lagi Ado harus menunggu.

Syukurlah operasi berjalan lancar dan Toby bisa pulih dengan segera. Kami kembali fokus menabung untuk membeli alat bantu dengar untuk Ado. Di usia 2,5 tahun, Ado mendapatkan alat bantu dengar pertamanya. Ia memenuhi hari-harinya berusaha beradaptasi dengan teman barunya itu, dan tentu saja dengan suara-suara yang selama ini asing baginya. Ado juga menjalani terapi tidak hanya untuk belajar mendengar, tetapi juga belajar berbicara.

Mencari tempat terapi yang cocok untuk Ado juga bukan perkara mudah. Aku dan suami mendatangi berbagai tempat terapi di Jakarta untuk memastikan bahwa metode terapi mereka akan nyaman untuk Ado. Hingga akhirnya kami menemukan Sekolah Early Step di daerah Kebagusan, Jakarta Selatan. Pendiri sekolah tersebut, Ibu Rina, juga memiliki anak dengan gangguan pendengaran dan bertekad untuk memberikan pendidikan yang baik bagi anak-anak dengan gangguan pendengaran. Ado akhirnya bersekolah di Early Step dan melakukan terapi di rumah Ibu Rina. Metode terapi yang diterapkan dalam bentuk permainan dan integrasinya dengan Montessori membuat Ado menikmati sesi terapinya, dan tentu saja menunjukkan kemajuan yang positif.

Sebagai orang tua, tentu saja aku dan suami ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anak kami. Untuk Ado, kami ingin dia bisa mendengar seperti orang pada umumnya. Suara hiruk pikuk Jakarta, tetapi juga indahnya nyanyian burung gereja di pagi hari.

Di usia enam tahun, Ado mendapatkan cochlear implant untuk telinga kanannya, menggantikan alat bantu dengar yang Ado gunakan selama ini. Sebuah usaha yang luar biasa untuk aku dan suami karena harga cochlear implant yang setara dengan harga mobil, belum termasuk biaya operasi.

Akhirnya hari yang ditunggu datang juga. Dua minggu setelah operasi pemasangan cochlear implant, alat tersebut akhirnya diaktifkan. Bukan tanpa drama, Ado justru menangis karena suara-suara yang didengarnya begitu jelas. Butuh satu bulan bagi Ado untuk beradaptasi dengan alat barunya itu. Untuk seorang ibu, ini adalah sebuah momen besar. Ado akhirnya bisa mendengar suaraku dengan jelas. Sebelumnya, sewaktu masih menggunakan alat bantu dengar, bagi Ado suaraku terdengar seperti suara robot 😊

Walaupun sempat di-bully oleh anak-anak di sekitar rumah karena cochlear implant-nya (kami sadar bahwa tidak semua orang terbiasa melihat seseorang menggunakan cochlear implant), Ado terus mendapatkan dukungan dari keluarga dan sekolahnya untuk belajar mendengar dan berbicara. Masih di sekolah, Ado melanjutnya terapinya. Perkembangan yang paling terlihat di awal adalah dia bisa mengucapkan angka satu sampai sepuluh dengan jelas.

Saatnya moving on. Aku tidak ingin Ado hanya menghabiskan waktunya bersekolah atau berkutat dengan kondisi pendengarannya. Dia harus mengeksplorasi hal-hal lain di luar sana. Beruntung sejak awal aku menyadari bahwa Ado memiliki bakat di bidang seni. Aku pernah memasukkannya ke Global Art untuk belajar mewarnai. Setelah masuk SD, aku mendaftarkan Ado ke Hadiprana untuk mengasah kemampuan melukisnya. Sebagai awal, dia belajar melukis menggunakan media krayon dan cat air. Dengan bimbingan Kak Toto, pengajarnya di Hadiprana, Ado mulai melukis menggunakan media akrilik. Ado menghasilkan begitu banyak karya hingga akhirnya menumpuk di rumah. Iseng, aku menawarkan lukisan-lukisan Ado kepada teman-temanku, termasuk para ibu di sekolah Ado. Puji Tuhan, banyak yang tertarik dengan lukisan Ado. Mungkin memang Ado ditakdirkan untuk menjadi seorang seniman berbakat, sekarang dan di masa depan (amin).

Lukisan-lukisan Ado mengantarkan kami kepada The Able Art, sebuah social enterprise yang fokus membuat repro lukisan milik para seniman difabel dan menjadikannya produk sehari-hari. Aku sendiri sudah memiliki ide serupa untuk bisa memperkenalkan lukisan Ado ke khalayak luas, tapi kesibukan pekerjaan dan mengurus tiga jagoan tidak menyisakan waktu untukku. Aku sendiri berharap kolaborasi Ado dengan The Able Art bisa menjadi perpanjangan tanganku untuk mewujudkan niat memperkenalkan lukisan-lukisan Ado dan membuatnya merasa dihargai karena bakat yang dimilikinya.

Terlepas dengan perjalanan hidup yang bagaikan roller coaster, aku terus mengucapkan syukur dengan kehidupanku sekarang. Ado tumbuh menjadi anak yang luar biasa dengan segala bakatnya. Toby dan Tian juga sama luar biasanya, dan mereka juga tumbuh dengan kepekaan hati yang tinggi. Setiap kami bepergian, Toby dan Tian selalu menjadi penjaga bagi Ado. Hidupku sempurna dengan anak-anak yang istimewa.

Catatan editor:

Ikuti perjalanan Ado di instagram-nya @orlandopieert dan silakan kunjungi www.theableart.com untuk karya-karya seniman lainnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *