Lepas

Perjalanan lepas bagiku adalah bagian dari sebuah perjalanan spiritual.

Beranjak dewasa dengan bekal rasa percaya diri yang defisit dan banyak takut, membuatku dua tahun yang lalu menghadapi masa-masa yang kurang menyenangkan. 

Segala trauma dan beban masa lalu yang terpendam lalu dipicu dengan pernikahanku yang memang tidak biasa. Aku menikah dengan suami tercinta yang berbeda rentang usia 22 tahun. Sebenarnya, tidak ada kesulitan berarti untuk kami berdua membina hubungan, malah rasanya semua terasa harmonis. Namun, lingkungan di luar kami berdua yang kadang terasa sulit untuk dihadapi.

Asumsi dan penilaian dari lingkungan sekitar yang kurang menyenangkan terkadang membuatku memendam amarah. Sehingga, aku ingin membalas dengan membuktikan bahwa yang mereka pikir itu salah. Bahwa, walaupun aku jauh lebih muda, aku bisa melakukan segalanya dengan sempurna dan baik. Namun aku salah, segala usaha pembuktian demi pembuktian yang ingin kutunjukan justru malah membuatku menjadi seseorang yang semakin rapuh. Rasa takut gagal menjadi istri, ibu, dan menantu membuatku jadi terikat dan kaku. Sampai akhirnya semua melabuhkanku pada masa-masa yang depresif.

Dua tahun yang lalu aku mengalami masa yang mungkin bisa disebut anxiety disorder dan panic attack. Sesungguhnya agak ragu dalam memberi label pada apa yang aku alami karena aku tidak pernah memeriksakan  diri secara langsung kepada psikolog maupun psikiater. Yang jelas, saat itu hampir setiap tengah malam aku dihantui rasa takut mati. Karena, detak jantung yang seringkali berdetak kencang, diikuti keringat deras sekujur tubuh disebabkan rasa takut yang begitu dalam. Beberapa kali aku datang kepada dokter spesialis penyakit dalam dan dicurigai aku hanya mengalami asam lambung tinggi. Beberapa bulan aku percaya saja sambil terus meminum obat lambung.

Tuhan Maha baik; tiga bulan berselang aku mulai sadar, bahwa sepertinya bukan fisikku yang sedang sakit, tapi mentalku yang justru sedang kurang baik. Sejak saat itu, aku pun berupaya mencari jawaban atas apa yang sedang aku alami. Hingga akhirnya satu tahun setengah lalu aku dipertemukan dengan Hanara, sebuah well being centre yang mengajarkan kita untuk memulihkan diri secara mandiri atau dikenal dengan self healing.

Kali pertama hadir di kelas edukasinya aku merasa diberi Tuhan sebuah hadiah berupa jawaban luar. Semua keanehan yang kurasakan terjawab dengan perspektif yang asing bagiku, tapi mampu dibuktikan secara sains dan diterima logikaku. Aku pun memahami bahwa ternyata potensi tertinggi seorang manusia bukan sekadar menjadi sehat ataupun bahagia. Namun, bagaimana hidup kita mampu menjadi manfaat serta berkah bagi sesama dan semesta, yang sering mereka sebut dengan istilah vibrant people.

Masih ingat dalam benak, kali pertama hadir di sana berbincang dengan seorang teman senior. Setelah menceritakan semua kisah alasanku datang ke Hanara, kakak itu berkata padaku, “Semua niatmu baik, ingin menjaga mertua yang sudah sepuh, ingin mengasuh anakmu 24 jam sendiri, ingin jadi istri dan anak yang baik. Namun, kamu lupa bahwa kamu bukan Tuhan yang bisa mengatur segalanya berjalan sesuai yang kamu mau. Tuhan sesungguhnya sedang mengingatkan dan mengulurkan tangannya meminta kamu untuk berserah kepada-Nya, menyerahkan hal-hal yang bukan bagianmu.”

Kalimat itu sungguh membuat semua tangisanku pecah dan sukarela membuka diriku untuk berbenah. Memohon ampun kepada-Nya karena betapa tak sadarnya aku begitu sombong mengambil peran Tuhan.

Beberapa bulan kulalui belajar secara intensif di sana, hingga kusadari dan kutemui salah satu akar permasalahanku adalah “letting go”/melepaskan. Banyak hal menyakitkan di masa lalu yang kuanggap sudah terlepas ternyata malah tanpa sadar bahkan dengan sengaja kusimpan dan membiarkan diriku terikat kepadanya membuat segala perkembangan diri terhambat.

Saat itu dengan seizin Tuhan, perlahan-lahan diriku mulai pulih dan berdaya kembali, semangat diri untuk berkarya, dan segala keaslian diriku. Mulai bangun kembali. Aku yang senang bergaul mulai ceria lagi. Mulai senang bertemu dan berkenalan dengan orang baru.


Juli 2018, adalah masa-masa aku banyak berdiskusi dengan diriku sendiri, banyak perjalanan ke dalam yang kumulai, detik itu aku sadar bahwa aku ingin hidup dengan sebuah tujuan dan tujuanku adalah ingin bermanfaat bagi sesama dan semesta dengan ketulusan, karena fitrah seorang manusia memanglah berbagi dan bermanfaat untuk sesama.

Aku ingin kembali berkarya, namun kali ini karyaku bukan untuk diriku sendiri, bukan untuk unjuk diri semata namun dorongannya lebih untuk membagi manfaat dan terang. Aku sadar bukan cuma aku yang melewati masa-masa sulit, namun tak semua diberikan jalan keluar dengan lebih mudah.

Semangat berkarya kembali itu terinspirasi dari salah satu ilmu kinesiologi yang dipelajari di Hanara. Melalui kinesiologi kita dapat mengakses sistem energetik tubuh untuk akhirnya bertanya sesederhana makanan apa yang nyaman bagi meridian-meridian  tubuh kita. Aku penasaran kalau begitu tubuh kita pun bisa memilih pakaian dengan jenis bahan apa saja yang nyaman bagi sistem energi tubuh. “Nah, sepertinya aku ingin berkarya melalui membuat pakaian-pakaian yang ramah bagi tubuh manusia,” seruku dalam hati.


Kenapa pakaian? Sebenarnya sedikit banyak aku memanggil ulang masa kecilku yang suka sekali dengan pakaian. Dulu waktu TK kalau ditanya cita-citanya apa, aku menjawab ingin jadi disainer (designer). Menulisnya saja tidak tahu bagaimana namun entah mengapa kata itu yang selalu disebut.

Nama Lepas pun sesungguhnya aku percaya bukan hadir karena ide cemerlangku, tapi aku percaya Lepas dikirim Tuhan melalui buah pikirku untuk menjadi medium berbagi terang hikmah dan pengalaman hidup. Lepas menjadi sebuah doa dan afirmasi bagiku juga siapa pun yang berjodoh, agar dimampukan-Nya untuk bisa melepaskan segala ikatan-ikatan yang melekat yang memang sudah saatnya untuk dilepaskan. Agar kita belajar melepaskan tanpa rasa kehilangan dan nelangsa. Melepaskan justru memberi kita hikmah rasa keberserahan kepada Tuhan yang indah.

Ternyata, fondasi-fondasi diri belum begitu kokoh, banyak trauma kegagalan yang membuatku maju mundur dalam memulai ini semua. Ternyata, untuk menjadi manfaat untuk sesama kita perlu mengosongkan segala beban diri lalu penuhi diri. Memenuhi diri dengan kebaikan semesta-Nya, sehingga, mudah-mudahan, dengan seizin-Nya membuat apa yang kita bagi benar-benar jernih.

Alhamdulillah, dengan izin-Nya, melalui banyak peran orang-orang di sekitarku. Para guru, suami tercinta, anak, keluarga dan para sahabat dengan penuh antusiasme mendukungku. Dan, dengan keberserahan aku memulai melanjutkan perjalanan pencarian diri ini dengan Lepas.


Kalimat salah satu guruku menjadi bekal,

“Hanya dengan ikhlas, menikmati dan menghargai setiap momen, baru kita bisa melakukan hal-hal besar tanpa merasa stress. Berbahagialah jika kamu diberi ujian dan tanggung jawab lebih artinya kamu  diberi kelebihan yang banyak juga.”

Perjalanan Lepas menyadarkanku bahwa sesungguhnya melepaskan adalah bagian dari setiap masa perjalanan kita, sepanjang usia; dia tidak berujung. Saat kita dimampukan melepas, kita akan dipertemukan kembali dengan hal-hal lain untuk kembali menemukan hikmah besar dari apa yang dilepaskan. Perjalanan ini juga mengajarkanku bahwa pencarian jati diri, ke dalam diri, penemuan tujuan hidup itu tak mudah dilakukan. Selama kita ikhlas, menikmatinya dan tulus melakukannya demi Sang Pencipta, aku percaya Tuhan pun akan selalu mendampingi dan menerangi langkah kita.

Jatuh bangun, naik turun, hitam putih adalah sebuah keniscayaan, tapi kita diberi kemampuan untuk memilih melewatinya dengan rasa bahagia. Hanya asumsi kita sendiri yang membuat nilai yang satu lebih buruk dari yang lain, padahal apa yang dihadirkan untuk kita segelap apa pun sesungguhnya adalah hadiah jika kita mau ikhlas membuka mata hati serta bersabar.

Lepas, tak lantas membuatku menjadi manusia paling mahir melepaskan. Aku pun masih terus berproses dan belajar menjadi sebaik-baik manusia selamanya.

Misalnya, apa yang kutulis dan kubagi pun dalam akun instagram lepas bukan untuk menggurui apalagi menunjukan bahwa semua telah kulalui dengan sempurna. Justru, apa yang kutulis pun tak jarang baru berupa pencerahan yang kudapat. Mereka adalah pengingat bagi diriku sendiri agar semoga perlahan belajar untuk mengamalkannya dengan tepat dan indah. Aku percaya pencerahan itu bukan hanya milikku; ia disalurkan melalui diriku dan kewajibanku untuk berbagi terangnya.

Harapanku sederhana, semoga kehadiranku, kehadiran Lepas bisa menjadi baut pelengkap bagi karya akbar Maha Besar Tuhan.

Semangat terus ya teman-teman kita tidak pernah sendiri, alam semesta-Nya selalu menemani dan Tuhan selalu ada ketika engkau mencariNya.

Peluk hangat untuk semua, nikmatilah karena melepaskan adalah seni kehidupan.

Penulis: Maya Ramadiyani

Editor: Ala Hindersah

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *