• Aiming for a Worthwhile Life

      “What will you do today if you know you will die tomorrow?” Selama beberapa tahun terakhir, pertanyaan itulah yang pertama muncul setiap aku bangun pagi.  Pertanyaan itulah yang menentukan bagaimana aku menjalani keseharianku; setidaknya untuk 24 jam kedepan: greet the neighbours, text your long-time-no-see friend, atau memberi senyum manis ke rekan kerja yang sebenarnya

    Baca Lebih Lanjut
  • Belajar Bersama Anak-anak: Cerita Seorang Guru

      “Kenapa sih mau jadi guru? Enak juga ya sehari main-main aja. Tapi emang nggak cape, ya? Kalo anaknya ngompol gimana?”   Halo! Perkenalkan, nama saya Keisha dan kira-kira sudah delapan tahun ini saya mendengar komentar yang kurang lebih bunyinya seperti itu. Kalau dipikir-pikir ada benarnya juga, sih… Menjadi guru itu bisa mudah; terlebih kalau

    Baca Lebih Lanjut
  • Pekerjaan dan Refleksi atas Identitas Diri

      Bagi kebanyakan orang, profesi atau pekerjaan yang dilakoni sehari-hari adalah identitas diri. Bagaimana tidak? Kita menghabiskan hampir seluruh waktu seharian dalam balutan jubah pekerjaan. Apa pun itu. Polisi, guru, dokter, jaksa, entrepreneur, dosen, ibu rumah tangga, pegawai negeri, pegawai BUMN, pegawai swasta, pekerja seni, fotografer, instruktur olahraga hingga chef. Tanpa sadar, profesi tersebut telah

    Baca Lebih Lanjut
  • Membangun Cita-cita yang Mengubah Hidup

      Halo para pembaca, salam kenal. Nama saya Ni Komang Ayu Suriani. Kalau dari namanya, sudah ketahuan banget kalau saya dari Bali, tapi tidak pernah dikira orang Bali. Saya hidup merantau di luar Bali sejak kandungan karena ikut Bapak bertugas di Kementerian Hukum dan HAM. Bahkan, sampai sekarang, meski hidup di tanah Bali dan sudah

    Baca Lebih Lanjut
  • Merajut Mimpi Kembali

    Aku adalah seorang ibu bagi gadis kecilku, anak bagi kedua orang tuaku, creative director bagi rumah modeku. Namaku Dharmesta, usiaku 31 tahun. Aku adalah wirausahawan akibat perceraian. Buatku, perceraian kurang indah untuk didengar. Jadi, aku menyebutnya perpisahan; perpisahanku dengan ayah anakku yang menjadi awal sebuah karir baru dalam hidupku. Saat awal perpisahan aku merasa bersalah

    Baca Lebih Lanjut
  • Breakaway

    “Kamu ‘kan dari dulu cita-citanya masuk sekolah yang sama seperti ayah. Masih belum berubah ‘kan cita-citanya sampai sekarang?” “Bersyukur dong kamu masuk ke institusi ternama itu. Coba bayangin kalau kamu keterimanya di universitas yang namanya biasa-biasa aja, sementara temen-temen kamu pada kuliah di kampus yang bagus, terus ada yang di Singapura, Amerika, akademi kemiliteran… berarti

    Baca Lebih Lanjut
  • Fight for My Way

    Dibesarkan di lingkungan keluarga yang berpendidikan tinggi membuatku malah memilih tidak mengikuti jejak orangtua dan keluarga besarku. Ayah lulusan S2, Ibu lulusan S3 dan sepupu-sepupu minimal lulusan D3. Tapi aku memilih bahagia menjadi lulusan SMK.

    Baca Lebih Lanjut
  • Pilihan

    Pagi itu lain dari rutinitas saya biasanya (jam sepuluh pagi saya bersih-bersih tempat tinggal yang tidak seberapa luas), saya berada di sebuah ruangan berukuran 3×3 meter, duduk di salah satu dari dua kursi yang terpisah oleh sebuah meja, dan menatap sebuah papan tulis putih yang kosong. Sejujurnya awal masuk ruangan ini saya merasa cukup tegang.

    Baca Lebih Lanjut