• Surat Kecil dari Kami: Ruang Cerita

    Desau Hati dari Perempuan Sehari-hari   Tak terasa sudah satu tahun lebih kami membuat ruang yang nyaman serta aman bagi para perempuan dan para pendukungnya untuk berbagi kisah reflektif. Tim ceritaperempuan.id pun berpikir sudah tiba saatnya untuk menciptakan ruang baru yang tetap membawa nilai-nilai yang kami percayai: bahwa setiap orang memiliki perjuangan masing-masing dan kita

    Baca Lebih Lanjut
  • Menerima Hangat Berbagi Kisah Motherhood di “Bicara Jujur mengenai Post Partum Depression”

    Minggu lalu, saya kembali menghadiri acara ceritaperempuan.id yang diadakan di Jakarta dengan judul ‘Berbicara Jujur Mengenai Post Partum Depression’. Tema tentang depresi setelah melahirkan adalah suatu hal yang belum banyak dibicarakan di ruang publik. Banyak gerakan tentang kesetaraan gender, banyak kegiatan tentang hak-hak perempuan dalam dunia kerja, tapi justru kegelisahan setelah menyandang kata ‘ibu’ jarang diceritakan

    Baca Lebih Lanjut
  • Bicara Jujur mengenai Post Partum Depression

    Memiliki anak merupakan kebahagiaan yang tidak ada duanya, namun juga memberikan tanggung jawab yang sangat besar sehingga dapat menimbulkan tekanan, khususnya bagi para ibu. Tidak jarang para ibu mengalami post partum depression. Namun karena hal ini masih dianggap tabu oleh masyarakat, post partum depression menjadi sesuatu yang sering disembunyikan mereka yang mengalaminya. Lewat diskusi “Bicara

    Baca Lebih Lanjut
  • Kenali dan Bebaskan: Menemukan Keseimbangan antara Kebutuhan dan Kelekatan

      Sebagai manusia, memiliki kelekatan (attachment) atas sesuatu adalah hal yang wajar. Kelekatan sering kali muncul karena kebutuhan kita. Namun, apa jadinya jika kelekatan itu menjadi sesuatu yang berlebihan? Masihkah kelekatan itu menjawab kebutuhan? . Dalam Sabtu Bercerita “Kenali dan Bebaskan”, ceritaperempuan.id bersama @botanina.id ingin mengajak para sahabat berdiskusi tentang bagaimana mengenali apa kelekatan kita.

    Baca Lebih Lanjut
  • Rangkul Kata Hati

      A post shared by ceritaperempuan.id (@ceritaperempuan.id) on Jul 3, 2018 at 10:28pm PDT Sering kali, kita merasa ragu ketika dihadapkan dengan pilihan. Terutama, apabila pilihan tersebut akan sangat berpengaruh dalam hidup kita. Maka, dalam Sesi “Rangkul Kata Hati”, ceritaperempuan.id memfasilitasi ruang berbagi yang membahas keberanian untuk memilih apa yang kita inginkan. Turut hadir dalam

    Baca Lebih Lanjut
  • Rangkul Kata Hati: Keberanian memilih apa yang kita inginkan

    Keraguan sering kali muncul ketika kita harus memilih, apalagi jika pilihan itu adalah sesuatu yang besar. Akan tetapi, rasa ragu yang berlebihan dapat menghambat proses kita untuk mengolah diri. Dalam sesi berbagi kali ini, bersama Zia Nichols dan Gadis Azahra , ceritaperempuan.id mengangkat topik “Rangkul Kata Hati”. Kita akan mengeksplorasi bagaimana keberanian mengikuti kata hati akan membawa

    Baca Lebih Lanjut
  • Kopi Sore bersama Iid

    Apakah kamu juga pernah merasa lega setelah semua pikiran dapat tercurah dalam tulisan? Apakah mungkin menulis menjadi media untuk menyembuhkan diri?   Ayo ngobrol bersama dengan sahabat ceritaperempuan.id, Syahid Muhammad atau yang biasa dipanggil Iid, penulis dari buku-buku best seller Egosentris, Kala, dan Amor Fati untuk membicarakan bagaimana tulisan bisa menjadi bagian dari proses penyembuhan diri.

    Baca Lebih Lanjut
  • Kegiatan Lalu: Art as Therapy for Women

    Dalam rangka rangkaian perayaan ulang tahun pertama ceritaperempuan.id dan menyambut Hari Kartini, pada hari Minggu, 15 April 2018 lalu, kami mengadakan workshop “Art as Therapy for Women”. Bersama fasilitator @a.riswarie, seorang terapis seni profesional dan dua co-fasilitator (@auliaamandasantoso & @gavnias) di @mrguancoffee Bandung, para peserta bersama-sama membuat karya berupa kolase dari bahan-bahan yang disediakan. Melalui

    Baca Lebih Lanjut
  • Art as Therapy for Women

    Terkadang ada kenangan dan pengalaman yang hadir dan mengusik pikir dan rasa kita. Bagaimanapun usaha kita untuk melihat kembali, mereka tetap bias. Kata tidak terangkai, tindak tidak terlakukan. Habis bahasa, habis akal. Hanya rasa yang tumpah ruah tidak bermakna. Bagaimana jika ucap diganti garis, jika kalimat diganti warna, jika alinea diganti rana? Akankah yang terpikir

    Baca Lebih Lanjut