Cerita

Melepas Benci yang Terlalu Lama Tertanam

 

 

Halo! Aku perempuan berusia 20 tahun dan hingga usia ini, aku terus-menerus belajar untuk tersenyum. Mengapa? Memang, orang-orang sering kali mengira aku sedang marah karena pembawaanku yang judes dan jutek. Namun, sesungguhnya semua itu karena masa lalu di mana aku ‘bersuka rela’ untuk hidup dalam kebencian, sehingga aku menolak beramah tamah apalagi tersenyum. Ini cerita masa laluku; jalan yang kutempuh di masa kiniku, dan harapan yang aku langitkan untuk masa depanku.

***

Pada tahun 1998, Indonesia dilanda krisis moneter. Ayah dan ibu kandungku yang hanya petani semakin terhimpit kemiskinan. Sudah ada dua orang putri yang terlahir di rumah tangga ini. Dan, satu putri lagi di tengah krisis moneter bukanlah gambaran keluarga yang manis di mata mereka. Bayangan wajah-wajah anak perempuan mereka yang harus makan seadanya dan terancam tumbuh tanpa pendidikan semakin nyata dalam benak ayah dan ibu. Mereka tidak tega menjadikan putri-putrinya tumbuh tanpa kehidupan yang layak. Jadi, ayah dan ibu mengambil sebuah keputusan sangat besar. Mereka menerima tawaran seorang keponakan untuk mengadopsi putri yang sedang dikandung ibu, yaitu diriku.

Hanya tiga puluh hari aku bisa merasakan ASI dan timangan ayah ibu kandungku. Selepas itu, aku beralih ke timangan mama papa yang sebenarnya adalah sepupuku. Dengan rentetan bisik doa yang tidak putus sejak dulu dan dengan harapan masa depan cerah untuk putrinya, ayah ibu melepasku kepada papa mama. Ah, aku beruntung ya? Aku punya dua pasang orangtua yang sama-sama sayang kepadaku.

Akan tetapi, dulu aku tidak sebersyukur itu. Hari-hariku dipenuhi benci dan dendam yang terpupuk. Benci kepada garis takdir dan dendam kepada mereka yang harusnya aku sadari kasih sayangnya. Benci dan dendam itu sendiri mulai tumbuh sejak aku kecil.

Orangtua asuhku—mama dan papa—hidup dalam ketidakharmonisan. Mereka menghabiskan sebagian besar waktu dengan saling menyakiti satu sama lain. Saling mencaci maki. Menghina. Memukul. Mengkhianati. Tidak ada keharmonisan yang mereka tunjukkan sebagai role model untukku. Jangankan menjalin hubungan hangat dengan orangtua asuhku, berada di sekitar mereka pun membuatku ketakutan.  Jangankan mengadu rindu kepada orangtua kandungku, sampai kini pun status belum mereka jelaskan (diam-dia, aku sebenarnya sudah tahu mereka adalah oragtua kandungku; ditambah lagi kemiripan dan ikatan batin yang kuat).

Belasan tahun lamanya aku melihat sepasang manusia yang berada dalam ikatan pernikahan saling menyakiti pasangannya. Hal itu membuatku berkali-kali berpikir sebenarnya untuk apa mereka menjadikanku anak asuh jika mereka saja tidak bisa menyelesaikan permasalahannya. Mengapa Tuhan memilihku dari sekian banyak calon manusia untuk menghadapi jalan seperti ini?

Rasanya semua garis takdir menjelaskan bahwa aku adalah sebuah kesalahan. Kesalahan, karena terlahir pada waktu yang tidak tepat. Kesalahan, karena aku hidup di antara orangtua asuh yang tidak harmonis, dan kesalahan-kesalahan lain sebagai manusia.

Aku pun tumbuh dengan kebencian terhadap orangtua asuhku. Lalu, aku tumbuh menjadi perempuan dengan insecure attachment. Aku lebih memilih menjauh saat ada lelaki yang mendekatiku, tapi di sisi lain merindu ingin membina rumah tangga yang jauh lebih baik daripada orangtuaku. Pada belasan tahun itu juga, ternyata dengan ‘suka rela’ aku menyakiti diri sendiri dengan memupuk kebencian dan berkubang dalam pemikiran yang negatif dan defensif.

Namun, sampai kapan aku harus terus begini? Akhirnya, aku pelan-pelan belajar mengikhlaskan dan mencoba berdamai dengan diri sendiri. Aku pun memilih berhenti membenci diri sendiri, orangtua, dan Tuhan yang Mahabaik. Perlu waktu yang lama untuk itu. Sampai sekarang pun prosesnya masih berlangsung. Aku masih terus mencoba memaafkan, mencintai, dan berdamai. Proses ini aku isi dengan menyadari bahwa ada kebaikan dari takdir Tuhan yang demikian. Dengan meyakini bahwa ada kebaikan setelah lara yang aku alami, aku belajar mengapresiasi diri karena mampu bertahan hingga kini, serta mencoba memahami perspektif orangtua kandung maupun asuhku, dan mencoba tidak mengeneralisasi semua orang.

Aku tahu orangtua asuhku memiliki banyak permasalahan, tapi aku tidak ingin menyimpan memori itu hingga membuat dadaku sesak sendiri. Apabila orang lain menyebutku anak broken home, bukan berarti aku tidak bisa membangun rumah tangga yang berhasil nanti. Perlahan, aku belajar jika aku aku memahami perspektif orangtua asuhku, ada banyak kebaikan yang mereka tujukan untukku. Aku yakin Tuhan Mahabaik, bahkan kepada diriku yang sekian lama menghujat tanpa taju malu. Maka, aku ikhlas menerima masa lalu dan bangkit untuk membangun cinta kepada para orangtuaku yang kasihnya luar biasa. Perlahan, aku ingin melepas semua kebencian dalam diri dan meluruhkan seluruh dendam yang terlalu lama kubawa.

Dan, teruntuk diriku di masa depan, aku percaya bahwa aku bisa membangun rumah tangga yang harmonis dan menjadi orangtua yang baik untuk anak-anakku nanti.

 

Penulis : Anonimus
Editor : Ala

 

The Power of Law of Attraction

  Pergi ke negeri Sakura adalah mimpi saya sejak saya masih duduk di sekolah dasar. Semuanya bermula dari hobi saya menonton film animasi Jepang yang ditayangkan di televisi nasional setiap hari Minggu pagi. Saya merasa sangat terinspirasi dan ingin sekali rasanya bisa berkunjung ke Jepang. Namun, sayangnya saya berasal dari keluarga yang serba pas-pasan, sehingga

Baca Lebih Lanjut

Belajar Bersama Anak-anak: Cerita Seorang Guru

  “Kenapa sih mau jadi guru? Enak juga ya sehari main-main aja. Tapi emang nggak cape, ya? Kalo anaknya ngompol gimana?”   Halo! Perkenalkan, nama saya Keisha dan kira-kira sudah delapan tahun ini saya mendengar komentar yang kurang lebih bunyinya seperti itu. Kalau dipikir-pikir ada benarnya juga, sih… Menjadi guru itu bisa mudah; terlebih kalau

Baca Lebih Lanjut

Merangkai Kata untuk Hati

Sejak kami memutuskan membuat blog sebagai ruang berbagi, banyak sekali pertanyaan yang kami terima mengenai bagaimana cara merangkai kisah personal dalam satu tulisan. Tentunya, di balik persyaratan teknis, banyak sekali cara untuk menulis cerita. Bagi kami, tim ceritaperempuan.id, mengutarakan sebuah kisah lewat kata-kata adalah salah satu cara untuk melepas kegelisahan sekaligus momen untuk berefleksi atas

Baca Lebih Lanjut

Re(dis)cover: A Stroke Survivor’s Story

    “Most people don’t understand that only a small fraction of the Brain Aneurysm/AVM survivor’s experience is about medicines, devices, doctors & surgeries. Most of it is about feelings, beliefs, losing & finding identity and discovering strength & flexibility no one ever told you had.” Brain Aneurysm Foundation   Halo! Nama saya Harumi, saya

Baca Lebih Lanjut